Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

AS Tuduh China Raup Untung Besar dari Minyak Venezuela Saat Maduro Berkuasa

Kompas.com, 29 Januari 2026, 17:33 WIB
Inas Rifqia Lainufar

Penulis

WASHINGTON DC, KOMPAS.com – Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio menuduh China mengambil keuntungan besar dari minyak Venezuela selama bertahun-tahun di era Presiden Nicolas Maduro.

Berbicara di hadapan Komite Hubungan Luar Negeri Senat pada Rabu (28/1/2026), Rubio menilai Beijing memanfaatkan sanksi dan isolasi ekonomi Venezuela untuk mengamankan pasokan minyak mentah dengan harga sangat murah sekaligus memperluas pengaruhnya di kawasan.

“China menerima minyak dengan diskon sekitar 20 dollar AS (Rp 335.940) per barel, dan mereka bahkan tidak membayarnya dengan uang,” kata Rubio.

Baca juga: Minyak Venezuela: Risiko bagi Lingkungan dan Manusia

Menurutnya, minyak tersebut dipakai untuk membayar utang Venezuela kepada China.

“Itu adalah minyak milik rakyat Venezuela, dan diberikan kepada China sebagai barter dengan diskon 20 dollar AS per barel dalam beberapa kasus,” ujarnya.

Rubio berpendapat bahwa minyak yang seharusnya membantu pemulihan ekonomi domestik justru dialihkan untuk melunasi utang melalui pengaturan yang tidak transparan.

Sementara kilang-kilang China mendapat pasokan murah yang tidak tersedia di tempat lain, ekonomi Venezuela terus memburuk.

Ia menyebut sistem inilah yang menjadi salah satu alasan utama Washington menyimpulkan Maduro tidak bisa tetap berkuasa jika Venezuela ingin kembali stabil.

Dasar hukum operasi AS dipertanyakan

Pemerintahan AS menyebut tindakan di Venezuela sebagai operasi penegakan hukum, meski langkah itu didahului berbulan-bulan perencanaan militer dan bertepatan dengan peningkatan kehadiran angkatan laut AS di Karibia.

Para anggota parlemen mempertanyakan dasar hukum operasi tersebut dan dampaknya yang lebih luas.

Rubio berulang kali membingkainya sebagai bagian dari upaya mencegah kekuatan rival menancapkan pengaruh di kawasan.

Ia mengelompokkan China bersama Rusia dan Iran sebagai negara-negara yang menurutnya mendapat pengaruh besar di Venezuela selama era Maduro.

Venezuela, kata Rubio, telah memungkinkan “tiga lawan utama kita di dunia beroperasi dari belahan bumi kita — dari titik itu”.

Pemerintah AS dalam setahun terakhir juga memperluas operasi maritim di Karibia dan Pasifik timur, yang secara terbuka disebut misi anti-narkotika, namun makin sering dikaitkan dengan upaya mengganggu pengiriman minyak yang terkena sanksi.

Pada Desember, Rubio mengumumkan apa yang ia sebut sebagai karantina terhadap minyak mentah Venezuela, dengan mengatakan sebagian besar ekspor dialihkan ke China lewat pengaturan tidak transparan yang menurutnya menggerus pendapatan dan pengawasan negara Venezuela.

Baca juga: AS Terus Sita Kapal Tanker MInyak di Karibia Saat Trump Klaim Kuasai Minyak Venezuela

Halaman:

Terkini Lainnya
Irak Mendadak 'Lupa Perang' Usai Lolos Piala Dunia, Ukir Sejarah 40 Tahun
Irak Mendadak "Lupa Perang" Usai Lolos Piala Dunia, Ukir Sejarah 40 Tahun
Internasional
Tunggu Serangan Darat AS, Menlu Iran: Mereka Tak Akan Berani
Tunggu Serangan Darat AS, Menlu Iran: Mereka Tak Akan Berani
Internasional
Houthi Tembakkan Rudal ke Israel, Klaim Serangan Gabungan dengan Iran-Hizbullah
Houthi Tembakkan Rudal ke Israel, Klaim Serangan Gabungan dengan Iran-Hizbullah
Internasional
Paus Leo XIV Desak Trump Cari Jalan Keluar Perang di Iran
Paus Leo XIV Desak Trump Cari Jalan Keluar Perang di Iran
Internasional
Spesifikasi USS George HW Bush yang Dikirim AS ke Timur Tengah
Spesifikasi USS George HW Bush yang Dikirim AS ke Timur Tengah
Internasional
Iran Tembaki Kapal Tanker Qatar, 1 Rudal 'Nyangkut' di Ruang Mesin
Iran Tembaki Kapal Tanker Qatar, 1 Rudal "Nyangkut" di Ruang Mesin
Internasional
Trump Ngamuk Perancis Blokir Pesawat AS ke Israel: Kami Akan Mengingatnya
Trump Ngamuk Perancis Blokir Pesawat AS ke Israel: Kami Akan Mengingatnya
Internasional
Iran Akui Jalin Kontak dengan AS, tapi Bantah Ada Negosiasi
Iran Akui Jalin Kontak dengan AS, tapi Bantah Ada Negosiasi
Internasional
China Mulai Terdampak Perang Iran, Bisa Picu Risiko Besar
China Mulai Terdampak Perang Iran, Bisa Picu Risiko Besar
Internasional
Berbalik Arah, Uni Emirat Arab Siap Ikut AS Lawan Iran demi Buka Selat Hormuz
Berbalik Arah, Uni Emirat Arab Siap Ikut AS Lawan Iran demi Buka Selat Hormuz
Internasional
Warga AS Ikut Tanggung Dampak Perang, Marah Harga BBM yang Meroket
Warga AS Ikut Tanggung Dampak Perang, Marah Harga BBM yang Meroket
Internasional
Trump Akan Tinggalkan Perang Iran meski Tanpa Kesepakatan, Abaikan Masalah Selat Hormuz
Trump Akan Tinggalkan Perang Iran meski Tanpa Kesepakatan, Abaikan Masalah Selat Hormuz
Internasional
Dewan Sains Trump Diisi Para Miliarder Rp 15.000 Triliun, Mengapa Ilmuwan Akademik Tersingkir?
Dewan Sains Trump Diisi Para Miliarder Rp 15.000 Triliun, Mengapa Ilmuwan Akademik Tersingkir?
Internasional
Mengapa Selat Hormuz Sulit Direbut dari Iran?
Mengapa Selat Hormuz Sulit Direbut dari Iran?
Internasional
Israel Dilaporkan Tak Akan Bantu Invasi Darat AS di Iran
Israel Dilaporkan Tak Akan Bantu Invasi Darat AS di Iran
Internasional
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau
AS Tuduh China Raup Untung Besar dari Minyak Venezuela Saat Maduro Berkuasa
Akses penuh arsip ini tersedia di aplikasi KOMPAS.com atau dengan Membership KOMPAS.com Plus.
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Unduh KOMPAS.com App untuk berita terkini, akurat, dan terpercaya setiap saat