Penulis
WASHINGTON DC, KOMPAS.com – Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio menuduh China mengambil keuntungan besar dari minyak Venezuela selama bertahun-tahun di era Presiden Nicolas Maduro.
Berbicara di hadapan Komite Hubungan Luar Negeri Senat pada Rabu (28/1/2026), Rubio menilai Beijing memanfaatkan sanksi dan isolasi ekonomi Venezuela untuk mengamankan pasokan minyak mentah dengan harga sangat murah sekaligus memperluas pengaruhnya di kawasan.
“China menerima minyak dengan diskon sekitar 20 dollar AS (Rp 335.940) per barel, dan mereka bahkan tidak membayarnya dengan uang,” kata Rubio.
Baca juga: Minyak Venezuela: Risiko bagi Lingkungan dan Manusia
Menurutnya, minyak tersebut dipakai untuk membayar utang Venezuela kepada China.
“Itu adalah minyak milik rakyat Venezuela, dan diberikan kepada China sebagai barter dengan diskon 20 dollar AS per barel dalam beberapa kasus,” ujarnya.
Rubio berpendapat bahwa minyak yang seharusnya membantu pemulihan ekonomi domestik justru dialihkan untuk melunasi utang melalui pengaturan yang tidak transparan.
Sementara kilang-kilang China mendapat pasokan murah yang tidak tersedia di tempat lain, ekonomi Venezuela terus memburuk.
Ia menyebut sistem inilah yang menjadi salah satu alasan utama Washington menyimpulkan Maduro tidak bisa tetap berkuasa jika Venezuela ingin kembali stabil.
Pemerintahan AS menyebut tindakan di Venezuela sebagai operasi penegakan hukum, meski langkah itu didahului berbulan-bulan perencanaan militer dan bertepatan dengan peningkatan kehadiran angkatan laut AS di Karibia.
Para anggota parlemen mempertanyakan dasar hukum operasi tersebut dan dampaknya yang lebih luas.
Rubio berulang kali membingkainya sebagai bagian dari upaya mencegah kekuatan rival menancapkan pengaruh di kawasan.
Ia mengelompokkan China bersama Rusia dan Iran sebagai negara-negara yang menurutnya mendapat pengaruh besar di Venezuela selama era Maduro.
Venezuela, kata Rubio, telah memungkinkan “tiga lawan utama kita di dunia beroperasi dari belahan bumi kita — dari titik itu”.
Pemerintah AS dalam setahun terakhir juga memperluas operasi maritim di Karibia dan Pasifik timur, yang secara terbuka disebut misi anti-narkotika, namun makin sering dikaitkan dengan upaya mengganggu pengiriman minyak yang terkena sanksi.
Pada Desember, Rubio mengumumkan apa yang ia sebut sebagai karantina terhadap minyak mentah Venezuela, dengan mengatakan sebagian besar ekspor dialihkan ke China lewat pengaturan tidak transparan yang menurutnya menggerus pendapatan dan pengawasan negara Venezuela.
Baca juga: AS Terus Sita Kapal Tanker MInyak di Karibia Saat Trump Klaim Kuasai Minyak Venezuela