Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Saksi Sejarah Bom Atom, AS Hidupkan Lagi Pangkalan PD II untuk Hadapi China

Kompas.com, 30 Maret 2026, 21:31 WIB
Danur Lambang Pristiandaru

Penulis

Penulis: Julian Ryall/DW Indonesia

KOMPAS.com - Landasan udara yang dulu dibangun di pulau-pulau terpencil Pasifik untuk menyerang Jepang pada fase akhir Perang Dunia II kini mulai diperbaiki kembali.

Langkah ini dilakukan secara bertahap, seiring Amerika Serikat (AS) memperkuat pertahanannya menghadapi meningkatnya tekanan dari China di kawasan.

Kapal-kapal China kerap menguji klaim maritim Korea Selatan dan Jepang di Pasifik bagian utara.

Baca juga: 5 Keuntungan Sulap Jalan Tol Jadi Landasan Darurat Jet Tempur

Sementara di bagian selatan, Beijing rutin menggelar latihan militer berskala besar di sekitar Taiwan, yang dianggapnya sebagai wilayah yang suatu saat akan kembali ke bawah kendalinya.

Beijing juga mengklaim sebagian besar Laut China Selatan sebagai wilayahnya, meskipun klaim tersebut telah ditolak oleh tribunal internasional pada 2016.

"China jelas menjadi kekhawatiran utama di kawasan ini dan langkah ini tampaknya merupakan respons terhadap upaya China memperluas kapasitas militernya sendiri," kata Dan Pinkston, profesor hubungan internasional di kampus Seoul Troy University sekaligus mantan perwira Angkatan Udara AS, kepada DW.

"Mereka berupaya menembus keluar dari rantai pulau pertama dan kedua untuk mendapatkan akses bebas ke Pasifik, dan pengaktifan kembali landasan udara ini bisa dibaca sebagai persiapan jika ketegangan meningkat ke tahap berikutnya," lanjut Pinkston.

Baca juga: India Jadikan Jalan Tol Landasan Darurat Jet Tempur, Dilakukan Langsung PM Modi

Landasan udara bersejarah

Detail pekerjaan di pangkalan era perang di Tinian dan Peleliu masih minim dipublikasikan.

Namun, analis menilai proyek ini bertujuan memberi opsi tambahan bagi Angkatan Udara AS, sehingga tidak hanya bergantung pada pangkalan utama seperti Andersen di Guam atau Kadena di Okinawa, Jepang.

Sejak 2023, insinyur AS memperbarui empat landasan pacu sepanjang 2.400 meter di North Field, Pulau Tinian, yang pertama kali dibangun sekitar 80 tahun lalu.

Dari lokasi inilah pesawat pengebom B-29 Superfortress Enola Gay lepas landas untuk menjatuhkan bom atom pertama di Hiroshima pada 6 Agustus 1945.

Tiga hari kemudian, pesawat B-29 lainnya juga lepas landas dari landasan yang kini masuk wilayah Kepulauan Mariana Utara untuk menjatuhkan bom kedua di Nagasaki, yang memaksa Jepang menyerah.

Baca juga: Media Asing Ramai Ulas Jalan Tol RI Akan Jadi Landasan Jet Tempur

Pangkalan ini dulu dikenal sebagai yang tersibuk di dunia, namun ditinggalkan pada 1947 dan sebagian besar kembali tertutup hutan hingga 2003, ketika satu landasan dibersihkan untuk latihan. Pembersihan dalam skala lebih besar baru dimulai lagi pada 2023.

Insinyur juga bekerja di Peleliu, salah satu pulau paling selatan di kepulauan Palau dan lokasi pertempuran sengit pada masa perang.

Landasan sepanjang 1.800 meter selesai dibangun sebelum perebutan pulau dari Jepang berakhir, dan digunakan untuk mendukung operasi AS di kawasan Pasifik hingga perang usai.

Landasan itu sempat berfungsi sebagai bandara lokal bagi warga, tetapi hanya bisa digunakan pesawat kecil hingga unit militer AS tiba pada 2024 untuk memperbaikinya.

Pada Juni 2024, pesawat tanker KC-130 menjadi yang pertama mendarat di landasan yang telah diperbaiki.

Baca juga: Buntut Jeju Air Jatuh, Korsel Akan Ubah Tembok Beton di Ujung Landasan Pacu

AS mulai menata ulang strategi pangkalan

"Sepuluh tahun lalu, AS sangat fokus meninjau ulang pangkalan militernya di Timur Tengah,” kata Garren Mulloy, profesor hubungan internasional di Daito Bunka University sekaligus pakar militer.

"Mereka kini menyadari betapa rentannya landasan udara dan infrastruktur terkait terhadap potensi serangan," ujarnya kepada DW.

"Kita juga melihat China meningkatkan aktivitas militernya di Indo-Pasifik dalam periode yang sama. Ini mengubah perhitungan strategis Washington, yang sebelumnya menganggap kawasan ini relatif aman dari tantangan langsung," tambahnya.

Fasilitas dasar yang dibutuhkan untuk meningkatkan pangkalan ini meliputi permukaan landasan baru, area pergerakan pesawat, serta area parkir khusus agar pesawat tidak terperosok di tanah berlumpur di pulau-pulau yang lembap dan sering diterpa badai tropis.

Akses ke sumber listrik dan air juga menjadi kebutuhan utama, disertai tangki bahan bakar bawah tanah serta bunker yang diperkuat untuk pesawat, senjata, dan logistik lainnya.

Baca juga: Penjelasan Tim AS Terkait Tanggul Beton di Landasan Pacu Bandara Muan Korsel

Di tahap berikutnya, pangkalan ini juga berpotensi dilengkapi radar dan sistem pertahanan. Militer AS sebelumnya menyebut kepada DW pada 2024 bahwa survei tengah dilakukan untuk penempatan dan operasional sistem antirudal Patriot.

Radar maupun sistem senjata kemungkinan belum ditempatkan saat ini, tetapi infrastruktur dasarnya sedang disiapkan, kata Mulloy.

"Ancaman utama bagi AS di kawasan ini jelas China, meskipun kita juga tidak bisa memastikan langkah Korea Utara, sehingga masuk akal jika ada rencana cadangan," ujarnya.

Dia mengingatkan bahwa Pyongyang pada 2017 pernah mengumumkan "rencana matang" untuk menggunakan rudal balistik jarak menengah Hwasong-12 yang mampu membawa hulu ledak nuklir untuk menyerang wilayah sekitar Guam.

Baca juga: Pesawat AS Terkena Tembakan di Landasan Pacu Dallas

Rudal tersebut diperkirakan memiliki jangkauan sekitar 4.500 kilometer, sehingga Pangkalan Udara Andersen berada dalam jangkauannya.

"Jika konflik besar pecah di kawasan ini, baik di Semenanjung Korea maupun di Selat Taiwan, Andersen akan menjadi target yang jelas. Karena itu, penyebaran fasilitas alternatif seperti ini menjadi bagian dari strategi untuk mengurangi risiko tersebut," kata Mulloy.

"Selain itu, jika terjadi situasi darurat yang mengharuskan AS mengerahkan pasukan dan logistik dalam jumlah besar, lokasi-lokasi ini secara strategis memungkinkan pengerahan dilakukan dengan cepat dan efektif," ujarnya.

Artikel ini pernah tayang di DW Indonesia dengan judul: Pangkalan Lama Dihidupkan Lagi, AS Perkuat Posisi di Pasifik.

Baca juga: Pesawat Kargo AS Mendarat Darurat, Landasan Pacu Bandara Narita Jepang Ditutup

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang


Terkini Lainnya
Irak Mendadak 'Lupa Perang' Usai Lolos Piala Dunia, Ukir Sejarah 40 Tahun
Irak Mendadak "Lupa Perang" Usai Lolos Piala Dunia, Ukir Sejarah 40 Tahun
Internasional
Tunggu Serangan Darat AS, Menlu Iran: Mereka Tak Akan Berani
Tunggu Serangan Darat AS, Menlu Iran: Mereka Tak Akan Berani
Internasional
Houthi Tembakkan Rudal ke Israel, Klaim Serangan Gabungan dengan Iran-Hizbullah
Houthi Tembakkan Rudal ke Israel, Klaim Serangan Gabungan dengan Iran-Hizbullah
Internasional
Paus Leo XIV Desak Trump Cari Jalan Keluar Perang di Iran
Paus Leo XIV Desak Trump Cari Jalan Keluar Perang di Iran
Internasional
Spesifikasi USS George HW Bush yang Dikirim AS ke Timur Tengah
Spesifikasi USS George HW Bush yang Dikirim AS ke Timur Tengah
Internasional
Iran Tembaki Kapal Tanker Qatar, 1 Rudal 'Nyangkut' di Ruang Mesin
Iran Tembaki Kapal Tanker Qatar, 1 Rudal "Nyangkut" di Ruang Mesin
Internasional
Trump Ngamuk Perancis Blokir Pesawat AS ke Israel: Kami Akan Mengingatnya
Trump Ngamuk Perancis Blokir Pesawat AS ke Israel: Kami Akan Mengingatnya
Internasional
Iran Akui Jalin Kontak dengan AS, tapi Bantah Ada Negosiasi
Iran Akui Jalin Kontak dengan AS, tapi Bantah Ada Negosiasi
Internasional
China Mulai Terdampak Perang Iran, Bisa Picu Risiko Besar
China Mulai Terdampak Perang Iran, Bisa Picu Risiko Besar
Internasional
Berbalik Arah, Uni Emirat Arab Siap Ikut AS Lawan Iran demi Buka Selat Hormuz
Berbalik Arah, Uni Emirat Arab Siap Ikut AS Lawan Iran demi Buka Selat Hormuz
Internasional
Warga AS Ikut Tanggung Dampak Perang, Marah Harga BBM yang Meroket
Warga AS Ikut Tanggung Dampak Perang, Marah Harga BBM yang Meroket
Internasional
Trump Akan Tinggalkan Perang Iran meski Tanpa Kesepakatan, Abaikan Masalah Selat Hormuz
Trump Akan Tinggalkan Perang Iran meski Tanpa Kesepakatan, Abaikan Masalah Selat Hormuz
Internasional
Dewan Sains Trump Diisi Para Miliarder Rp 15.000 Triliun, Mengapa Ilmuwan Akademik Tersingkir?
Dewan Sains Trump Diisi Para Miliarder Rp 15.000 Triliun, Mengapa Ilmuwan Akademik Tersingkir?
Internasional
Mengapa Selat Hormuz Sulit Direbut dari Iran?
Mengapa Selat Hormuz Sulit Direbut dari Iran?
Internasional
Israel Dilaporkan Tak Akan Bantu Invasi Darat AS di Iran
Israel Dilaporkan Tak Akan Bantu Invasi Darat AS di Iran
Internasional
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau
Saksi Sejarah Bom Atom, AS Hidupkan Lagi Pangkalan PD II untuk Hadapi China
Akses penuh arsip ini tersedia di aplikasi KOMPAS.com atau dengan Membership KOMPAS.com Plus.
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Unduh KOMPAS.com App untuk berita terkini, akurat, dan terpercaya setiap saat