Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

5 Keuntungan Sulap Jalan Tol Jadi Landasan Darurat Jet Tempur

Kompas.com, 16 Februari 2026, 11:36 WIB
Danur Lambang Pristiandaru

Penulis

Sumber First Post

ASSAM, KOMPAS.com – Langkah Pemerintah India mengubah ruas Jalan Tol Nasional 37 (NH-37) di Distrik Dibrugarh, Moran, Assam menjadi Fasilitas Pendaratan Darurat atau Emergency Landing Facility (ELF) bukan sekadar unjuk kekuatan militer. 

Fasilitas sepanjang 4,2 kilometer yang diresmikan langsung Perdana Menteri Narendra Modi ini membawa sejumlah keuntungan krusial bagi pertahanan dan logistik India di wilayah perbatasan.

Penggunaan jalan tol sebagai landasan pacu darurat ini menjadi solusi bagi India dalam menghadapi tantangan geografis dan geopolitik di wilayah timur laut.

Dirangkum dari First Post, Sabtu (14/2/2026), berikut lima keuntungan yang didapatkan India dari penggunaan jalan tol sebagai landasan darurat.

Baca juga: India Jadikan Jalan Tol Landasan Darurat Jet Tempur, Dilakukan Langsung PM Modi

1. Menjadi pangkalan cadangan

Ilustrasi jalan tol. UNSPLASH/NAGY SZABI Ilustrasi jalan tol.
Salah satu keuntungan utama dari ELF adalah fungsinya sebagai backup jika pangkalan udara utama mengalami kerusakan atau kepadatan saat terjadi konflik.

Mengutip laporan NDTV, China memiliki setidaknya tujuh pangkalan udara yang berhadapan langsung dengan pangkalan udara India di sepanjang Garis Kontrol Aktual atau Line of Actual Control (LAC). 

Dalam skenario perang, pangkalan udara resmi seringkali menjadi target utama serangan.

“Meskipun lapangan terbang India bisa saja hancur atau mengalami kepadatan dalam situasi perang, ELF seperti ini menyediakan cadangan yang sangat diperlukan,” ujar seorang pejabat seperti dikutip dari News18

Pesawat yang mendarat di sini bahkan dapat melakukan pengisian bahan bakar dan persenjataan dengan cepat.

Baca juga: Media Asing Ramai Ulas Jalan Tol RI Akan Jadi Landasan Jet Tempur

2. Mobilisasi pasukan dalam waktu cepat

Keberadaan ELF di lokasi strategis seperti Distrik Dibrugarh memungkinkan militer India melakukan penyebaran pasukan dan logistik secara masif dalam waktu singkat. 

Landasan ini dirancang khusus untuk mampu menahan beban pesawat angkut berat seperti C-17 Globemaster dan C-130J Super Hercules.

Pesawat-pesawat ini berfungsi untuk mengerahkan pasukan ke daerah perbatasan jika terjadi keadaan darurat. 

Pakar geo-intelijen Damien Symon melalui platform X menegaskan, landasan pacu ini meningkatkan kekuatan udara yang tersebar dan mampu bertahan dalam skenario krisis.

Baca juga: Menyoal Aktivasi Jalan Tol Jadi Landasan Darurat Pesawat Tempur

3. Memperbaiki celah pertahanan

Jet tempur India Sukhoi Su-30.SHUTTERSTOCK Jet tempur India Sukhoi Su-30.
Dari sisi historis, fasilitas ini menutup kelemahan fatal pertahanan India yang sempat terekspos pada perang tahun 1962 dengan China. 

Saat itu, dataran Assam menjadi sangat rentan akibat infrastruktur jalan yang buruk dan terbatasnya dukungan udara.

Halaman:


Terkini Lainnya
Irak Mendadak 'Lupa Perang' Usai Lolos Piala Dunia, Ukir Sejarah 40 Tahun
Irak Mendadak "Lupa Perang" Usai Lolos Piala Dunia, Ukir Sejarah 40 Tahun
Internasional
Tunggu Serangan Darat AS, Menlu Iran: Mereka Tak Akan Berani
Tunggu Serangan Darat AS, Menlu Iran: Mereka Tak Akan Berani
Internasional
Houthi Tembakkan Rudal ke Israel, Klaim Serangan Gabungan dengan Iran-Hizbullah
Houthi Tembakkan Rudal ke Israel, Klaim Serangan Gabungan dengan Iran-Hizbullah
Internasional
Paus Leo XIV Desak Trump Cari Jalan Keluar Perang di Iran
Paus Leo XIV Desak Trump Cari Jalan Keluar Perang di Iran
Internasional
Spesifikasi USS George HW Bush yang Dikirim AS ke Timur Tengah
Spesifikasi USS George HW Bush yang Dikirim AS ke Timur Tengah
Internasional
Iran Tembaki Kapal Tanker Qatar, 1 Rudal 'Nyangkut' di Ruang Mesin
Iran Tembaki Kapal Tanker Qatar, 1 Rudal "Nyangkut" di Ruang Mesin
Internasional
Trump Ngamuk Perancis Blokir Pesawat AS ke Israel: Kami Akan Mengingatnya
Trump Ngamuk Perancis Blokir Pesawat AS ke Israel: Kami Akan Mengingatnya
Internasional
Iran Akui Jalin Kontak dengan AS, tapi Bantah Ada Negosiasi
Iran Akui Jalin Kontak dengan AS, tapi Bantah Ada Negosiasi
Internasional
China Mulai Terdampak Perang Iran, Bisa Picu Risiko Besar
China Mulai Terdampak Perang Iran, Bisa Picu Risiko Besar
Internasional
Berbalik Arah, Uni Emirat Arab Siap Ikut AS Lawan Iran demi Buka Selat Hormuz
Berbalik Arah, Uni Emirat Arab Siap Ikut AS Lawan Iran demi Buka Selat Hormuz
Internasional
Warga AS Ikut Tanggung Dampak Perang, Marah Harga BBM yang Meroket
Warga AS Ikut Tanggung Dampak Perang, Marah Harga BBM yang Meroket
Internasional
Trump Akan Tinggalkan Perang Iran meski Tanpa Kesepakatan, Abaikan Masalah Selat Hormuz
Trump Akan Tinggalkan Perang Iran meski Tanpa Kesepakatan, Abaikan Masalah Selat Hormuz
Internasional
Dewan Sains Trump Diisi Para Miliarder Rp 15.000 Triliun, Mengapa Ilmuwan Akademik Tersingkir?
Dewan Sains Trump Diisi Para Miliarder Rp 15.000 Triliun, Mengapa Ilmuwan Akademik Tersingkir?
Internasional
Mengapa Selat Hormuz Sulit Direbut dari Iran?
Mengapa Selat Hormuz Sulit Direbut dari Iran?
Internasional
Israel Dilaporkan Tak Akan Bantu Invasi Darat AS di Iran
Israel Dilaporkan Tak Akan Bantu Invasi Darat AS di Iran
Internasional
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau