Penulis
KOMPAS.com – Upacara Commonwealth Day di Westminster Abbey, London, diwarnai momen tak terduga ketika Kate Middleton dan Putri Anne terlihat menyesuaikan cara salam mereka—yang dianggap sebagai pelanggaran kecil terhadap protokol kerajaan.
Alih-alih bertukar cium pipi seperti biasanya, keduanya memilih salam yang lebih santai dan jenaka. Penyebabnya? Topi besar yang dikenakan Kate.
Baca juga: Pangeran Andrew Ditahan, William dan Kate Pasang Badan untuk Raja Charles
Dalam prosesi tersebut, Kate tetap menunjukkan sikap formal dengan membungkuk dan mencium pipi Raja Charles III. Namun saat berhadapan dengan Anne, situasinya berbeda.
Putri Anne yang dikenal menjunjung tinggi formalitas tampak memilih alternatif yang lebih praktis ketimbang harus membungkuk di bawah topi lebar Kate.
Keduanya pun bertukar salam ringan yang disertai senyum, mencairkan suasana.
Baca juga: Pangeran William dan Kate Middleton Dukung Pernyataan Raja soal Penangkapan Eks Pangeran Andrew
Reporter kerajaan Rebecca English kepada Daily Mail menyebut, “Tidak mungkin Putri Anne akan mencoba mencium di bawah topi seperti Putri Wales.”
Sementara itu, Pangeran William tetap mengikuti tradisi keluarga dengan mencium pipi bibinya sebelum menyapa Ratu Camilla.
Gestur ini menunjukkan bahwa etiket kerajaan tetap dijaga, meski ada penyesuaian kecil karena faktor teknis.
Baca juga: Pangeran William dan Kate Middleton Soroti Skandal Epstein Files, Jauhi Pangeran Andrew
Putri Anne memang dikenal konsisten mempertahankan salam formal. Ia kerap memadukannya dengan sentuhan humor, seperti saat memilih berjabat tangan alih-alih berpelukan dengan kapten rugby Skotlandia Sione Tuipulotu usai kemenangan timnya.
Sejak wafatnya Ratu Elizabeth II pada 2022, Anne disebut semakin menegaskan preferensinya pada interaksi yang lebih resmi.
Biografer kerajaan Robert Hardman bahkan menulis bahwa Anne pernah bereaksi tak terduga ketika seorang staf senior mencoba memeluknya.
Baca juga: Kate Middleton Disebut Jaga Jarak dari Donald Trump Usai Pertemuan Terakhir Dinilai Tak Nyaman
Di tengah sorotan tersebut, publik kembali mempertanyakan posisi Putri Anne dalam garis suksesi.
Meski merupakan satu-satunya putri Ratu Elizabeth II dan Pangeran Philip, Anne tidak berada di posisi atas dalam urutan pewaris takhta.
Saat lahir pada 1950, sistem yang berlaku masih menganut primogenitur yang mengutamakan laki-laki, sehingga ia berada di belakang kakaknya, Raja Charles III, serta adik-adiknya, Pangeran Andrew dan Pangeran Edward.
Baca juga: Pangeran William dan Kate Middleton Tunjukkan Dukungan bagi Korban Jeffrey Epstein
Perubahan baru terjadi melalui Undang-Undang Suksesi Takhta 2013 yang menerapkan primogenitur absolut—mengutamakan urutan kelahiran tanpa memandang gender—namun aturan itu tidak berlaku surut bagi Anne dan saudara-saudaranya.
Kini, Putri Anne berada di urutan ke-11 dalam garis suksesi. Reformasi tersebut justru menguntungkan generasi berikutnya, seperti Putri Charlotte yang tetap berada di atas adiknya, Pangeran Louis, sesuai urutan kelahiran.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang