Editor
KOMPAS.com - Cuaca ekstrem berupa angin puting beliung menerjang dua desa di Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, dan menyebabkan kerusakan pada puluhan rumah warga.
Peristiwa ini terjadi di Kecamatan Cikarang Pusat dan Cikarang Selatan, dengan total 27 rumah terdampak. Meski tidak menimbulkan korban jiwa, kerusakan material yang terjadi cukup signifikan.
Peristiwa terjadi saat hujan deras mengguyur wilayah tersebut sekitar pukul 15.00 WIB. Angin kencang datang secara tiba-tiba dan berlangsung singkat, namun cukup kuat untuk merusak bangunan rumah warga.
Sekretaris Desa Cicau, Narto, mengatakan sebanyak 16 rumah di wilayahnya mengalami kerusakan akibat terpaan angin dan pohon tumbang.
Baca juga: Rentetan Teror Air Keras di Bekasi, Dari Mobil Fotuner hingga Warga
Ia menyebutkan bahwa lokasi terparah berada di Kampung Cicau PLN RT 02/05, di mana satu rumah yang dihuni dua kepala keluarga mengalami kerusakan cukup berat.
"Atap dapur dan bagian depan rumah terlepas beserta rangkanya. Kami sempat panik karena orang tua sedang sakit, sehingga harus segera dievakuasi meski angin hanya berlangsung sebentar," kata salah satu warga, Sarwan dikutip dari Antara.
Selain Desa Cicau, angin puting beliung juga menerjang Desa Ciantra, Kecamatan Cikarang Selatan. Sebanyak 11 rumah dilaporkan mengalami kerusakan ringan hingga sedang.
Tidak hanya rumah warga, beberapa fasilitas milik pemerintah desa setempat juga turut terdampak dalam kejadian tersebut.
Baca juga: Isu Kenaikan BBM Bikin Antrean Panjang di SPBU RA Kartini Bekasi
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Bekasi, Dodi Supriyadi, mengatakan bahwa petugas telah diterjunkan ke lokasi untuk melakukan asesmen dan penanganan awal.
Selain itu, bantuan logistik juga telah disalurkan kepada warga terdampak guna memenuhi kebutuhan dasar mereka.
"Warga diminta tetap siaga, melakukan evakuasi sedini mungkin bila diperlukan, serta segera menghubungi petugas apabila membutuhkan bantuan atau penanganan lebih lanjut," kata Dodi.
BPBD juga terus berkoordinasi dengan pemerintah kecamatan dan desa untuk memastikan penanganan berjalan cepat dan tepat sasaran.
Baca juga: Jasad Korban Mutilasi di Dalam Freezer, Polisi Bongkar Motif Pembunuhan di Bekasi
Dodi memastikan bahwa tidak ada korban luka maupun korban jiwa dalam kejadian tersebut.
Selain angin puting beliung, bencana lain juga terjadi di wilayah Kabupaten Bekasi, yakni longsor di bantaran Kali Cikarang, tepatnya di Kampung Kaum RT 01/05, Desa Kalijaya, Kecamatan Cikarang Barat.
Sebanyak empat rumah warga dilaporkan mengalami kerusakan akibat longsor yang dipicu derasnya arus sungai dalam beberapa waktu terakhir.
Salah satu warga terdampak, Puput, mengungkapkan bahwa erosi sebenarnya telah terjadi sejak beberapa tahun lalu, namun semakin parah sejak pertengahan 2025.
Baca juga: Teror Air Keras di Bekasi, Awalnya Sasar Mobil Fortuner Kini Serang Warga
"Kejadian longsor terparah terjadi pada Juli 2025. Sekarang terjadi lagi hingga rumah milik ibu dan saya sudah tidak dapat dihuni," ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa jarak antara rumah dan aliran sungai yang sebelumnya sekitar tujuh meter kini telah terkikis hingga sebagian bangunan hilang.
Akibat kondisi tersebut, dapur dan ruang keluarga rumahnya telah terbawa longsor.
Selain rumah Puput, tiga rumah lain di sekitar bantaran sungai juga mengalami kerusakan berat dan tidak lagi layak huni.
Para penghuni rumah terdampak kini terpaksa mengungsi dan mencari tempat tinggal sementara.
Baca juga: Pria di Bekasi Disiram Air Keras Saat Berangkat Subuh, Kondisi Korban Memprihatinkan
"Saat ini saya dan ibu tinggal di rumah kontrakan. Tetangga lain juga sudah pindah karena rumah mereka tidak layak huni," katanya.
Kondisi ini menambah beban warga yang harus mengeluarkan biaya tambahan untuk tempat tinggal sementara, sekaligus menghadapi ketidakpastian masa depan hunian mereka.
Warga berharap pemerintah daerah segera mengambil langkah konkret untuk mencegah kerusakan lebih lanjut di bantaran Kali Cikarang.
Salah satu solusi yang diharapkan adalah pembangunan tanggul penahan tebing guna mengurangi risiko longsor lanjutan.
"Kami berharap ada solusi dari pemerintah, setidaknya berupa penanganan seperti pembangunan tanggul agar tanah warga tidak terus terkikis oleh aliran sungai," ujar Puput.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang