BEKASI, KOMPAS.com – Antrean panjang kendaraan terjadi di SPBU Pertamina 34.171.44 di Jalan RA Kartini, Kelurahan Margahayu, Kecamatan Bekasi Timur, Kota Bekasi, Selasa (31/3/2026) malam.
Kepadatan ini dipicu isu kenaikan harga dan pembatasan BBM oleh pemerintah yang disebut akan berlaku mulai Rabu (1/4/2026).
Pantauan Kompas.com di lokasi, antrean didominasi sepeda motor yang mengular hingga ke badan jalan. Para pengendara tampak berbaris teratur menunggu giliran untuk mengisi bahan bakar minyak (BBM), meski harus mengantre cukup lama.
“Jujur saja baru dengar hari ini dari teman tongkrongan. Saya juga kaget, kok pom bensin Vivo sama Pertamina antreannya panjang banget,” ujar pengendara ojek online, Andri Wibowo (48), saat ditemui Kompas.com di lokasi, Selasa.
Andri menjelaskan, selama ini ia menggunakan BBM sesuai dengan kondisi pendapatan hariannya.
“Kalau lagi sepi pakai Pertalite. Kalau lagi ramai, ya yang 92, mau itu Vivo atau Shell,” ujarnya.
Menurut dia, jika harga BBM benar-benar naik, ia kemungkinan akan beralih ke BBM dengan oktan lebih rendah demi menekan pengeluaran.
Baca juga: Kejagung Ungkap Alasan Dirut OTM Harus Teken Dokumen Terminal BBM di Bui
Ia juga menyoroti ketidakseimbangan antara tarif penghasilan dengan harga BBM yang terus meningkat.
“Sekarang pendapatan saya per order minimal Rp10.000. Kalau harga bensin satu liternya lebih dari itu, masa saya harus pakai bensin yang lebih mahal setiap hari,” katanya.
Andri berharap BBM subsidi tidak mengalami kenaikan harga. Namun, jika memang terjadi kenaikan, ia meminta agar besaran harga tidak terlalu tinggi agar tidak memberatkan masyarakat kecil.
“Mudah-mudahan jangan terlalu banyaklah, kasihan rakyat kecil,” katanya.
Ia juga mengingatkan agar pemerintah memastikan ketersediaan BBM tetap aman dan tidak terjadi kelangkaan.
“Kalaupun terpaksa misalnya dinaikkan harganya, tapi ya barangnya jangan sampai langka,” ucapnya.
Menurut dia, potensi penimbunan BBM oleh oknum juga perlu diwaspadai.
“Jangan sampai ada oknum-oknum yang menimbun karena ada berita mau ada kenaikan. Kalau cuma sebotol dua botol mah enggak masalah, lah ini mungkin satu gudang pabrik nimbunnya,” kata Andri.