Penulis
KOMPAS.com – Di tengah suasana Idul Fitri, masyarakat di pesisir Lampung memiliki tradisi khas yang telah diwariskan turun-temurun, yaitu Ngejalang Kubokh.
Tradisi ini tidak sekadar ziarah kubur, tetapi juga menjadi simbol kuat hubungan antara keluarga, leluhur, dan masyarakat.
Di Lebaran tahun ini, tradisi Ngejalang Kubokh salah satunya dilakukan di kompleks Pemakaman Pusaka Tambak Balak, Pekon Gunung Kemala, Kecamatan Way Krui, Pesisir Barat, Provinsi Lampung pada Selasa (22/3/2026).
Kompleks pemakaman yang biasanya sunyi itu mendadak ramai oleh ratusan orang yang duduk berjajar rapi di bawah tenda. Tepat di hadapan mereka, ditata berderet logam berkaki yang disebut Pahakh.
Di balik kain tapis yang menutupinya, tersaji ragam kuliner khas, mulai dari nasi, lauk pauk, hingga jajanan Lebaran seperti buak (kue) Tat dan selimpok.
Dilansir dari Tribun, dalam tradisi tersebut, ratusan pria dari lintas usia duduk bersila dengan khidmat dipimpin seorang pemuka agama, melantunkan shalawat dan doa bagi keluarga yang telah berpulang.
"Ngejalang Kubokh adalah cara kami para ahli waris menyapa dan mendoakan keluarga yang telah mendahului. Sekaligus pengingat bahwa setiap dari kita hanya menunggu giliran untuk dimakamkan di sini," ujar Ahmad Zaki, tokoh adat setempat, Rabu (25/3/2026).
Ngejalang Kubokh tidak dilakukan serentak dalam satu hari di beberapa wilayah. Tradisi ini digelar bergilir secara estafet di setiap pekon (desa) selama beberapa hari di awal bulan Syawal.
"Biasanya dilaksanakan setelah shalat Id. Tidak harus 1 Syawal, tapi bergiliran sampai 7 Syawal karena setiap pemakaman pekon mengadakan acara serupa," tambah Ahmad Zaki.
Baca juga: Kisah Tempoyak, Fermentasi Durian Penuh Sejarah dari Dapur Tradisional Sumatera
Tradisi ini sudah berjalan sejak lama dan terus lestari hingga kini.
Selain untuk melangitkan doa, tradisi ini juga menjadi ajang silaturahmi warga perantau yang mudik ke kampung halaman dengan sanak saudaranya.
Mereka akan duduk bersama di atas tikar, melantunkan doa, kemudian makan dari Pahakh yang sama tanpa pembeda.
"Ini ajang silaturahmi yang luar biasa. Kerabat yang merantau pulang, tetangga yang mungkin setahun jarang bertegur sapa, semuanya berkumpul di sini. Kita duduk sama rendah, berdoa bersama, lalu makan dari Pahakh yang sama," paparnya.
Ngejalang Kubokh sendiri berasal dari tradisi masyarakat Lampung, khususnya di wilayah Pesisir Barat seperti Krui.
Secara umum, tradisi ini dilakukan pada bulan Syawal, tepat setelah hari raya Idul Fitri, dilansir dari laman Kemdikbud.go.id.
Secara etimologis, kata "ngejalang" berkaitan dengan makna “menjaring harapan”, yang diwujudkan melalui doa-doa yang dipanjatkan untuk keluarga yang telah meninggal dunia.
Tradisi ini juga menjadi bentuk akulturasi antara ajaran Islam dan budaya lokal. Masyarakat memaknainya sebagai cara menjaga nilai religius sekaligus mempererat hubungan sosial antarwarga.
Baca juga: Gulai Taboh, Hidangan Santan dan Ikan yang Bertapa Semalam di Dapur Tradisional Lampung
Masih diambil dari laman yang sama, pelaksanaan Ngejalang Kubokh biasanya dilakukan pada hari pertama hingga beberapa hari setelah Idul Fitri, tergantung kesepakatan masyarakat setempat.
Prosesi diawali dengan membersihkan makam keluarga sejak bulan Ramadhan, kemudian dilanjutkan dengan ziarah dan doa bersama pada Hari Raya.
Tradisi ini tidak hanya bersifat individual, tetapi kolektif. Warga berkumpul di area pemakaman untuk mendoakan leluhur secara bersama-sama.
Dalam praktiknya, Ngejalang Kubokh memiliki beberapa tahapan utama, antara lain:
Makanan yang dibawa biasanya disusun dalam wadah khusus dan dinikmati bersama setelah doa selesai. Tradisi makan bersama ini menjadi simbol kebersamaan dan rasa syukur, dicukil dari RRI.
Meski zaman terus berubah, Ngejalang Kubokh tetap dipertahankan oleh masyarakat Lampung sebagai bagian dari identitas budaya mereka.
Tradisi ini tidak hanya menjadi warisan leluhur, tetapi juga ruang sosial yang mempertemukan generasi lama dan muda dalam satu momen kebersamaan saat Lebaran.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang