Pentingnya perempuan waspada pada penipuan digital.
Parapuan.co - Pernahkah Kawan Puan menerima pesan WhatsApp dari nomor tak dikenal yang mengaku sebagai kurir paket, atau telepon mendadak dari pihak bank yang bernada mendesak?
Di tengah kesibukan mengelola rumah tangga atau pekerjaan, momen-momen panik seperti ini sering kali menjadi pintu masuk bagi para pelaku kejahatan siber.
Bukan rahasia lagi, modus penipuan digital kini semakin licin. Menggunakan logo resmi dan bahasa formal, para pelaku lihai memanfaatkan celah psikologis korban.
Data dari Indonesia Anti-Scam Centre (IASC) OJK mencatat realitas yang cukup pahit. Sepanjang November 2024 hingga Desember 2025, terdapat 411 ribu pengaduan dengan total kerugian mencapai Rp 9,1 triliun.
Sayangnya, dari angka fantastis tersebut, kurang dari 5% dana yang berhasil diselamatkan. Salah satu kendala utamanya adalah faktor waktu, dimana sebanyak 85% korban baru melapor setelah 12 jam kejadian, saat jejak digital pelaku sudah sulit ditelusuri.
Memahami keresahan tersebut, Miftahul Fadli Muttaqin, M.T., seorang pakar IT sekaligus Dosen Teknik Informatika Universitas Pasundan, menghadirkan sebuah inovasi yang sangat relevan bagi kaum perempuan dan keluarga. Melalui aplikasi web gratis tanya.fadli.id, ia mencoba memberikan "perisai" tambahan bagi masyarakat.
Aplikasi berbasis kecerdasan buatan (AI) ini dirancang untuk mendeteksi potensi penipuan secara instan. Pengguna cukup bercerita atau mengunggah tangkapan layar percakapan yang mencurigakan.
Secara cerdas, AI akan menganalisis pola bahasa hingga tautan berbahaya, lalu memberikan skor risiko dari 0 hingga 100.
"Aplikasi ini kami buat agar masyarakat tidak lagi sendirian ketika menghadapi pesan atau telepon mencurigakan. Cukup unggah bukti yang ada, dan sistem akan membantu memberikan gambaran tingkat risikonya. Kami ingin solusi ini bisa digunakan siapa saja, termasuk orang tua dan lansia," ujar Fadli.
Baca Juga: 10 Negara Paling Rentan Terhadap Penipuan Sepanjang 2025, Indonesia Termasuk
Bagi para ibu yang sangat memperhatikan keamanan data keluarga, Fadli menjamin bahwa privasi adalah prioritas.
Secara sistem, aplikasi tidak mempublikasikan data pengguna. Namun, tersedia fitur berbagi bagi mereka yang ingin membantu orang lain mengenali modus serupa, tentu dengan sensor otomatis pada data sensitif.
“Kami tidak menyimpan data pribadi pengguna tanpa persetujuan. Ketika seseorang memilih untuk membagikan pengalamannya, data sensitif otomatis disensor oleh sistem. Tujuannya sederhana, satu cerita bisa menyelamatkan banyak orang dari modus penipuan yang sama," tegas Fadli.
Tak hanya berhenti pada teknologi, perlindungan keluarga idealnya dimulai dari pemahaman yang mendalam. Sebagai pelengkap, Fadli juga meluncurkan buku berjudul Jaga Keluarga di Dunia Digital yang akan terbit pada 18 Februari 2026.
Buku ini hadir sebagai panduan hangat bagi para perempuan untuk melindungi anggota keluarga, mulai dari anak-anak hingga orang tua, tanpa harus merasa terintimidasi oleh istilah teknologi yang rumit.
"Keamanan digital bukan tanggung jawab satu orang, tapi tanggung jawab satu keluarga. Buku ini kami tulis dengan pendekatan menemani, bukan menakut-nakuti. Kami ingin setiap keluarga punya panduan sederhana yang bisa langsung dipraktikkan, tanpa harus menjadi ahli teknologi terlebih dahulu," jelas Fadli.
Kini, menghadapi pesan mencurigakan tidak perlu lagi disertai rasa panik yang berlebih. Dengan literasi yang tepat dan bantuan teknologi, kita bisa menjaga dompet dan ketenangan keluarga tetap aman.
(*)
Baca Juga: Cegah Penipuan Telepon Customer Service dengan Perhatikan Hal Ini