YOGYAKARTA, KOMPAS.com - Dinas Kesehatan Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, mencatat ada 13 orang terjangkit, dan 3 di antaranya meninggal dunia akibat Leptospirosis pada awal tahun 2026.
Masyarakat diimbau menjaga kebersihan.
"13 yang terjangkit, 3 meninggal dunia. Untuk sebarannya ada di beberapa kapanewon. Tapi, saat sekarang paling banyak di Kapanewon Playen karena ada temuan lima kasus dengan dua warga meninggal dunia," kata Kepala Dinas Kesehatan Gunungkidul, Ismono saat dihubungi wartawan melalui telepon Minggu (8/3/2026).
Baca juga: Leptospirosis Pasca-banjir Renggut 4 Nyawa di Pati, Lansia Paling Rentan
Diakuinya angka kematian ini naik signifikan, karena selama 2025 tercatat 1 orang meninggal dunia akibat penyakit yang disebar melalui kencing tikus ini.
Pihaknya mengimbau masyarakat untuk berhati-hati saat beraktivitas di luar terutama petani.
Sebab, banyak tikus yang berkembang biak di area ladang atau persawahan.
Tikus yang air kencingnya mengandung bakteri Leptospira.
"Hujan membuat di sawah banyak genangan, sedangkan tikus juga banyak berkembang biak di area ini," kata Ismono.
Ismono mengimbau kepada para petani untuk menggunakan sepatu boot dan sarung tangan saat beraktivitas.
Baca juga: Yogyakarta Jadi Lokasi Endemis Leptospirosis, Selama 2026 Ditemukan 6 Kasus Penularan
"Setelah beraktivitas segera dicuci dengan sabun agar terhindar dari penyebaran penyakit," kata dia.
Leptospirosis menyebar melalui luka di tubuh, dan gejala panas, bisa muncul rasa sakit di badan, mual muntah dan lain-lain, tergantung daya tahan tubuh.
Ismono mengingatkan kepada masyarakat untuk segera memeriksakan ke fasilitas kesehatan terdekat jika ada gejala.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang