Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Plafon Cagar Budaya Gedong Duwur Indramayu Ambruk Diterjang Hujan dan Angin Kencang

Kompas.com, 31 Maret 2026, 15:34 WIB
Handhika Rahman,
Eris Eka Jaya

Tim Redaksi

INDRAMAYU, KOMPAS.com - Kekhawatiran akan ambruknya plafon bangunan cagar budaya Gedong Duwur di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, menjadi kenyataan.

Plafon bangunan bersejarah yang telah berdiri sejak zaman kolonial itu kini ambruk setelah sempat dilaporkan mengalami kerusakan pada awal Maret 2026 kemarin.

Petaka ambruknya plafon ini terjadi pada Jumat (27/3/2026) kemarin.

Hujan deras yang disertai angin kencang memicu robohnya setengah bagian plafon bangunan yang berlokasi di dalam areal asrama TNI, Jalan Mayor Dasuki, Desa Penganjang, Kecamatan Sindang tersebut.

Baca juga: Atap Depan Bangunan Cagar Budaya Gedong Duwur Indramayu Berusia 160 Tahun Ambruk

Pamong Budaya Bidang Kebudayaan Disdikbud Indramayu, Suparto Agustinus, mengatakan, langkah-langkah darurat penyelamatan sebenarnya sudah direncanakan oleh pihaknya.

Seperti mengadakan kayu atau bambu untuk menopang plafon yang keropos, tetapi sebelum rencana itu terealisasi, plafon bangunan lebih dahulu ambruk.

"Rencana kami sebenarnya mau ada tindakan, minimalnya dengan menopang plafon menggunakan kayu atau bambu, tetapi sebelum kami melakukan tindakan itu, di hari Jumat terjadi hujan besar disertai angin, hari Sabtunya kami dapat laporan ambruk," ujar Suparto Agustinus yang akrab disapa Tinus tersebut saat ditemui di lokasi tengah meninjau kondisi bangunan cagar budaya yang ambruk, Selasa (31/3/2026).

Tinus mengatakan, Gedong Duwur ini tercatat sebagai bangunan cagar budaya yang ditetapkan melalui Keputusan Bupati Indramayu Nomor: 100.3.3.2/Kep.90/Disdikbud/2025.

Mengenal Gedong Duwur

Gedong Duwur diketahui bukanlah bangunan sembarangan.

Gedung ini dibangun pada tahun 1866, beriringan dengan pembentukan Distrik Indramayu di bawah Karesidenan Cirebon.

Pada masa awal pendiriannya, bangunan yang berlokasi di dalam areal asrama TNI ini difungsikan sebagai kantor sekaligus tempat tinggal Asisten Residen atau pusat pemerintahan kolonial Belanda pada masa penjajahan dahulu.

Pada tahun 2026 ini, Gedong Duwur diketahui genap berusia 160 tahun.

Baca juga: Jadi Lokasi Film Horor, Cagar Budaya Gedong Duwur Indramayu Dipenuhi Vandalisme

"Di sini adalah kantor sekaligus tempat tinggal bagi Asisten Residen, kemudian naik menjadi Residen. Setelah agresi militer Belanda pertama itu pernah dipakai palang merah Hindia Belanda, kemudian setelah kemerdekaan tanah-tanah yang menjadi kekuasaan kolonial penjajah itu ditarik oleh militer sampai sekarang," ucap Tinus.

Kondisi bangunan cagar budaya Gedong Duwur yang ambruk pada bagian plafon depannya, bangunan ini berlokasi di dalam areal asrama TNI, Jalan Mayor Dasuki, Desa Penganjang, Kecamatan Sindang, Kabupaten Indramayu, Selasa (31/3/2026)KOMPAS.com/HANDHIKA RAHMAN Kondisi bangunan cagar budaya Gedong Duwur yang ambruk pada bagian plafon depannya, bangunan ini berlokasi di dalam areal asrama TNI, Jalan Mayor Dasuki, Desa Penganjang, Kecamatan Sindang, Kabupaten Indramayu, Selasa (31/3/2026)

Tinus tidak menampik kondisi bangunan yang lapuk dimakan usia menjadi pemicu utama ambruknya plafon tersebut.

Saat ini, lokasi plafon yang ambruk sudah dipasangi garis polisi untuk mencegah adanya aktivitas di lokasi kejadian.

Halaman:


Terkini Lainnya
Asal-usul Nasi Jamblang Khas Cirebon, Kenapa Dibungkus Daun Jati?
Asal-usul Nasi Jamblang Khas Cirebon, Kenapa Dibungkus Daun Jati?
Bandung
Pemkot Bandung Jamin Gaji 121 Pekerja Bandung Zoo Selama Masa Transisi, Sesuai UMK
Pemkot Bandung Jamin Gaji 121 Pekerja Bandung Zoo Selama Masa Transisi, Sesuai UMK
Bandung
BI Ungkap Uang Palsu di Bogor Berkualitas Rendah, Dicetak Pakai Printer Biasa
BI Ungkap Uang Palsu di Bogor Berkualitas Rendah, Dicetak Pakai Printer Biasa
Bandung
Di Tengah Konflik Perang Iran-Israel, 4 Warga Subang Berangkat Kerja ke Timur Tengah
Di Tengah Konflik Perang Iran-Israel, 4 Warga Subang Berangkat Kerja ke Timur Tengah
Bandung
KA Ciremai Tertahan di Jalur Maswati-Sasaksaat akibat Longsor, KAI Lakukan Penanganan
KA Ciremai Tertahan di Jalur Maswati-Sasaksaat akibat Longsor, KAI Lakukan Penanganan
Bandung
Kereta Api Ciremai Anjlok di Maswati-Sasaksaat, Warga: Tabrak Material Longsor
Kereta Api Ciremai Anjlok di Maswati-Sasaksaat, Warga: Tabrak Material Longsor
Bandung
Pelari Tewas di Lebarun Sentul Ultra, Bima Arya: PP ALTI Serukan Evaluasi Total Keselamatan
Pelari Tewas di Lebarun Sentul Ultra, Bima Arya: PP ALTI Serukan Evaluasi Total Keselamatan
Bandung
Hemat Energi, ASN Pemkab Bogor Gunakan Sepeda atau Transportasi Umum ke Kantor Tiap Rabu
Hemat Energi, ASN Pemkab Bogor Gunakan Sepeda atau Transportasi Umum ke Kantor Tiap Rabu
Bandung
Longsor Tutup Rel Maswati–Sasaksaat, KA Ciremai Alami Gangguan Perjalanan
Longsor Tutup Rel Maswati–Sasaksaat, KA Ciremai Alami Gangguan Perjalanan
Bandung
Daftar Sektor ASN di Karawang yang Tak WFH, Tetap Kerja di Kantor
Daftar Sektor ASN di Karawang yang Tak WFH, Tetap Kerja di Kantor
Bandung
Melayat ke Rumah Duka di Cimahi, Panglima TNI Jamiin Hak Prajurit dan Siapkan Kenaikan Pangkat
Melayat ke Rumah Duka di Cimahi, Panglima TNI Jamiin Hak Prajurit dan Siapkan Kenaikan Pangkat
Bandung
Farhan Optimistis Ibadah Haji Aman meski Ada Konflik di Timur Tengah
Farhan Optimistis Ibadah Haji Aman meski Ada Konflik di Timur Tengah
Bandung
WFH ASN Tasikmalaya Tiap Jumat Mulai Pekan Depan, Diprediksi Tingkatkan Wisata Domestik
WFH ASN Tasikmalaya Tiap Jumat Mulai Pekan Depan, Diprediksi Tingkatkan Wisata Domestik
Bandung
Tabrak Truk yang Diduga Parkir Sembarangan, Pengendara Motor di Bandung Tewas
Tabrak Truk yang Diduga Parkir Sembarangan, Pengendara Motor di Bandung Tewas
Bandung
Tumpukan Sampah di Jalur Kebun Teh Pangalengan, Camat: Oknum Pungut Iuran lalu Buang Sembarangan
Tumpukan Sampah di Jalur Kebun Teh Pangalengan, Camat: Oknum Pungut Iuran lalu Buang Sembarangan
Bandung
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau