SUMEDANG, KOMPAS.com - Massa pengemudi ojek online (ojol) berunjuk rasa di depan Gedung Rektorat Universitas Padjadjaran (Unpad) Kampus Jatinangor, Kecamatan Jatinangor, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, Selasa (31/3/2026).
Aksi unjuk rasa ini merupakan bentuk protes atas kebijakan pembatasan akses masuk kampus dan rekayasa lalu lintas di lingkungan Kampus Unpad Jatinangor.
Salah seorang pengemudi ojol, Herdi (38) mengatakan, dengan ditutupnya gerbang utama masuk Unpad, rute yang harus ditempuh menuju sejumlah fakultas menjadi semakin jauh, terutama menuju fakultas ilmu budaya dan kedokteran.
"Ditutupnya gerbang utama membuat kami jadi harus memutar jauh ke atas untuk mengantarkan mahasiswa ke fakultas. Apalagi, yang diantarnya mahasiswa fakultas ilmu budaya dan kedokteran. Jarak makin jauh, tapi ongkos tetap sama," ujar Herdi kepada Kompas.com di depan kampus Unpad Jatinangor, Selasa siang.
Baca juga: Guru Besar Unpad Desak Pemerintah Evaluasi Keanggotaan Board of Peace
Herdi menuturkan, selain penutupan gerbang utama Unpad, terkait penerapan barcode di pintu masuk utama ke kawasan Unpad juga harus dievaluasi.
Herdi menilai, jika masalah keamanan menjadi alasan Unpad memberlakukan penggunaan barcode di pintu utama, itu tidak efektif.
"Kalau alasannya keamanan, seperti banyaknya helm yang hilang, itu tidak efektif. Pandangan kami, jika ingin benar-benar aman, barcode itu harusnya diberlakukan di tiap fakultas, bukan di pintu utama," tutur Herdi.
"Kalau di pintu masuk fakultas kami pikir itu lebih aman, lebih efektif. Karena, mahasiswa yang bawa motor juga parkirnya kan di lingkungan fakultasnya," ucap Herdi.
Ia mengatakan, penutupan akses utama menuju Unpad ini juga dikeluhkan mahasiswa.
"Mahasiswanya juga pada ngeluh soal ini, karena jarak tempuh keluar masuk jadi lebih jauh. Tapi, baru dari kami pengemudi ojol ini yang sekarang protes, katanya dari mahasiswa Unpad sendiri juga mau aksi soal ini," ujar Herdi.
Menurut dia, setelah aksi ini, belum ada solusi konkret terkait permasalahan para ojol. Namun, komunikasi dengan pihak Unpad sudah terjalin.
"Nanti malam pukul 21.00, perwakilan kami dari Ojol diundang untuk berdiskusi oleh pihak Unpad. Harapan kami, ya, gerbang utama kembali dibuka dan tolong kaji ulang penggunaan barcode di gerbang utama itu," ujar Herdi.
Pengemudi ojol lainnya, Yudi (36), mengeluhkan dampak signifikan dari penutupan akses utama gerbang masuk Unpad tersebut.
"Jarak tempuh lebih jauh dan tidak sebanding dengan ongkos yang murah, hanya Rp 8000, ini kan tidak sebanding kalau harus memutar dan naik ke atas dulu," ujar Yudi.
Baca juga: Demi Beli Sabu dan Judol, 2 Pria Jambret Penumpang Ojol hingga Pingsan di Medan
Sementara itu, Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Sumedang, Herman Suwandi mengatakan, kebijakan penutupan tersebut dilakukan demi keselamatan pengguna jalan.