Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Fajar Setyaning Dwi Putra
Dosen

Akademisi dan Peneliti

Doom Scrolling: Ancaman Baru bagi Kesehatan Mental Publik

Kompas.com, 8 Desember 2025, 20:00 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini
Editor Wisnubrata

FENOMENA membaca berita buruk secara terus menerus di media sosial atau platform digital kini dikenal luas dengan istilah doom scrolling. Istilah ini merujuk pada kecenderungan seseorang untuk tetap menggulir layar meskipun konten yang dikonsumsi menimbulkan rasa takut, cemas, marah, atau tidak nyaman.

Di era ketika telepon genggam menjadi perpanjangan dari diri manusia, perilaku ini semakin sering muncul dan tidak lagi dipandang sekadar kebiasaan buruk, tetapi menjadi ancaman serius bagi kesehatan mental publik.

Meskipun terlihat sepele karena hanya terkait dengan aktivitas menggulir layar, doom scrolling memiliki dampak psikologis yang kompleks. Pada banyak kasus, perilaku ini muncul secara tidak sadar. Seseorang membuka telepon genggam hanya untuk melihat notifikasi atau mencari informasi singkat, tetapi kemudian terseret oleh arus kabar buruk yang terasa tidak ada habisnya.

Berita mengenai konflik politik, bencana alam, kriminalitas, kekerasan, maupun perdebatan sosial yang memecah belah menjadi sebagian kecil dari konten yang memenuhi laman beranda warga digital. Semakin banyak seseorang mengakses informasi negatif, semakin besar dorongan untuk mencari lebih banyak sampai akhirnya terjebak dalam lingkaran kecemasan.

Baca juga: Psikolog Sebut Doom Scrolling Medsos Sebelum Tidur Bisa Ganggu Kesehatan Mental

Ada beberapa faktor yang membuat doom scrolling sangat mudah terjadi. Pertama adalah desain media sosial yang memang dikonstruksi untuk mempertahankan perhatian. Algoritma bekerja seperti penjual konten yang selalu tahu apa yang membuat seseorang berhenti menggulir. Ketika pengguna sering berinteraksi dengan berita bernada negatif, sistem akan menyuplai lebih banyak konten sejenis karena dianggap relevan. Akibatnya, ruang digital perlahan menjadi ekosistem yang didominasi rasa khawatir.

Seseorang mungkin tidak menyadari bahwa alur konten yang muncul telah dipersonalisasi oleh algoritma berdasarkan pola interaksinya. Ketika berita buruk memberikan reaksi emosional paling kuat, sistem akan mengulang pola tersebut. Dalam konteks ini, doom scrolling bukan sepenuhnya kesalahan pengguna, tetapi juga hasil dari desain digital yang menempatkan perhatian sebagai komoditas utama.

Faktor kedua adalah sifat psikologi manusia. Otak memiliki kecenderungan untuk memberikan perhatian lebih besar pada informasi negatif daripada positif. Hal ini merupakan warisan evolusi yang membuat manusia lebih sensitif terhadap ancaman demi bertahan hidup.

Namun dalam dunia digital, sensitivitas terhadap ancaman ini menjadi kontraproduktif. Alih alih melindungi, kecenderungan tersebut membuat seseorang terpapar informasi yang menekan secara berulang. Aliran kabar buruk akhirnya menciptakan tekanan mental yang terus meningkat. Tanpa disadari, seseorang bisa mengalami peningkatan kecemasan, kekhawatiran berlebihan terhadap masa depan, sulit tidur, hingga kelelahan emosional.

Selain itu, doom scrolling memiliki dampak sosial. Ketika masyarakat banyak mengonsumsi berita negatif, persepsi kolektif mengenai dunia menjadi lebih gelap dari realitas sebenarnya. Konflik sosial tampak lebih intens, kriminalitas seolah meluas tanpa kendali, dan masalah publik terasa seakan tidak memiliki solusi. Persepsi seperti ini mempengaruhi optimisme sosial masyarakat.

Semakin banyak orang yang terjebak dalam pola ini, semakin besar kemungkinan munculnya apatisme publik, hilangnya rasa percaya, serta meningkatnya polarisasi dalam hubungan antar warga. Dalam jangka panjang, fenomena ini bisa mengganggu kesehatan demokrasi karena masyarakat kehilangan kemampuan menilai informasi secara jernih.

Baca juga: 7 Kebiasaan Toxic yang Bisa Menurunkan Kualitas Hidup, Termasuk Scrolling Media Sosial

Selain aspek psikologis dan sosial, doom scrolling juga mengganggu produktivitas. Banyak orang yang memulai pagi dengan kebiasaan membuka media sosial atau aplikasi berita. Ketika paparan pertama yang diterima adalah kabar negatif, suasana hati akan terbentuk sejak awal dan berdampak pada aktivitas sepanjang hari.

Konsentrasi kerja menurun, motivasi melemah, dan energi emosional tersedot oleh proses menghadapi informasi yang membebani. Bahkan setelah telepon genggam ditutup, jejak emosional dari konten negatif itu tetap tertinggal.

Fenomena ini menjelaskan mengapa banyak pekerja merasa lelah meskipun belum memulai aktivitas fisik apa pun. Muncul pula dampak lain yang sering tidak disadari yaitu gangguan tidur. Banyak orang melakukan doom scrolling pada malam hari sebagai ritual menutup hari.

Niat awal sekadar melihat perkembangan berita atau melepas penat. Namun ketika paparan informasi negatif terus meningkat, sistem saraf tetap terjaga dan pikiran sulit tenang. Pada akhirnya, seseorang tidur larut, kualitas tidur menurun, dan tubuh memasuki siklus ketidakstabilan hormon stres.

Gangguan tidur yang berulang menjadi titik awal munculnya masalah kesehatan mental lain seperti kecemasan kronis dan depresi ringan. Fenomena ini perlu dipandang sebagai isu publik karena perilaku digital tidak hanya menyangkut individu, tetapi juga mempengaruhi ekosistem sosial yang lebih luas.

Dunia digital telah menjadi ruang publik tempat masyarakat berinteraksi, mencari informasi, menyampaikan pendapat, dan membentuk persepsi kolektif. Ketika ruang ini dipenuhi kabar negatif dan disertai perilaku konsumsi informasi yang tidak sehat, masyarakat dapat kehilangan ketahanan mental dalam menghadapi tantangan.

Baca juga: Kecanduan Scrolling Medsos, Gejala Brain Rot yang Kian Nyata

Oleh karena itu, penting merumuskan strategi mitigasi yang tidak hanya mengandalkan kesadaran individu, tetapi juga memperbaiki desain sistem digital yang selama ini memicu perilaku tersebut. Salah satu langkah penting adalah membangun literasi digital emosional.

Literasi ini tidak hanya berkaitan dengan kemampuan memilah informasi, tetapi juga kemampuan memahami bagaimana konten tertentu mempengaruhi kondisi psikologis. Individu perlu belajar mengenali tanda tubuh dan pikiran ketika mulai terjebak dalam doom scrolling.

Sinyal seperti sesak di dada, pikiran berulang, perubahan suasana hati yang tiba tiba, atau dorongan untuk terus menggulir meski merasa lelah adalah tanda bahwa seseorang perlu berhenti sejenak.

Langkah kedua adalah menerapkan batasan konsumsi digital. Seseorang dapat menetapkan jadwal khusus untuk mengakses berita atau media sosial sehingga tidak terjebak dalam aliran informasi sepanjang hari. Fitur seperti pengatur waktu, peringatan penggunaan aplikasi, atau mode istirahat dapat membantu.

Selain itu, kurasi konten perlu dilakukan dengan mengikuti akun yang memberikan perspektif positif, informasi edukatif, atau inspirasi sehingga alur konten lebih seimbang.

Dari sisi platform digital, perlu ada tanggung jawab kolektif untuk menghadirkan ekosistem yang lebih sehat. Algoritma yang hanya mengejar intensitas interaksi perlu ditinjau ulang agar tidak mengorbankan kesehatan mental pengguna.

Konten edukasi mengenai kesehatan mental dan literasi digital bisa diperkuat, sementara penyebaran kabar yang menimbulkan panik dapat disertai konteks yang membantu pengguna memahami isu secara lebih proporsional.

Baca juga: Waspadai Doomscrolling, Haus Informasi Hoaks di Internet

Pada akhirnya, doom scrolling bukan sekadar kebiasaan buruk, tetapi gejala dari hubungan manusia dengan teknologi yang berkembang terlalu cepat. Ketika kemampuan adaptasi tidak sebanding dengan kecepatan perubahan, tekanan mental menjadi konsekuensi yang sulit dihindari.

Untuk melindungi kesehatan mental publik, diperlukan upaya bersama dari individu, masyarakat, platform digital, dan institusi negara. Dunia digital seharusnya menjadi ruang yang memperkuat ketahanan sosial, bukan sebaliknya. Dengan kesadaran kritis dan tata kelola yang lebih manusiawi, fenomena ini dapat dikendalikan sehingga masyarakat dapat menikmati manfaat teknologi tanpa harus mengorbankan keseimbangan psikologis.

Baca juga: Berdampak pada Kesehatan Mental? Ini Cara Menghentikan Doomscrolling

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com. Download sekarang


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau