Penulis
KOMPAS.com - Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan akan menargetkan Kuba setelah Iran.
Ia bahkan memperkirakan, negara yang dikelola komunis tersebut akan lumpuh akibat blokade energi AS dan akan segera jatuh.
"Mereka sangat ingin mencapai kesepakatan," kata Trump kepada CNN dalam sebuah wawancara telepon, dikutip dari AFP.
Klaim kesepakatan itu muncul sehari setelah Trump mengisyaratkan akan beralih ke proyek yang tidak spesifik untuk Kuba setelah perang melawan Iran.
"Saat ini kami benar-benar fokus pada hal ini. Kami punya banyak waktu, tetapi Kuba sudah siap setelah 50 tahun," tambahnya.
Baca juga: Trump Ungkap Satu-satunya Syarat Akhiri Perang Iran
Menurutnya, Menteri Luar Negeri Marco Rubio akan menjadi orang kepercayaannya untuk urusan Kuba.
Baik Trump maupun Rubio, tidak merahasiakan keinginan mereka untuk melakukan perubahan rezim di Havana setelah menggulingkan musuh bebuyutan Washington lainnya di Karibia, Nicolas Maduro.
Koordinator Departemen Luar Negeri AS untuk urusan Kuba, Rob Allison baru-baru ini bertemu di Havana dengan perwakilan senior Gereja Katolik.
Kedutaan besar tersebut mengunggah foto Rob Allison dan kuasa usaha AS di Kuba, Mike Hammer sedang bertemu dengan Kardinal Juan de la Claridad dan Uskup Arturo Gonzalez, presiden konferensi uskup nasional.
Keempatnya membahas bantuan kemanusiaan yang dikirim oleh Washington ke Kuba dan perlunya perubahan untuk memperbaiki situasi.
Baca juga: Trump Pecat Menteri Keamanan Dalam Negeri Kristi Noem, Janjikan Jabatan Lain
Trump telah berulang kali mengatakan bahwa ia percaya rezim Kuba sudah siap untuk runtuh.
Ia memberlakukan blokade energi terhadap negara Karibia tersebut, sebagai salah satu upaya untuk meruntuhkan Kuba.
Kuba belum menerima pengiriman minyak sejak 9 Januari, memaksa maskapai penerbangan untuk mengurangi atau menangguhkan penerbangan ke Kuba dan memperdalam krisis ekonomi yang telah berlangsung lama.
Havana menuduh Trump berupaya mencekik perekonomian Kuba.
Baca juga: Trump Cawe-cawe Pilih Pemimpin Tertinggi Iran, Tak Tunjuk Reza Pahlavi atau Mojtaba
Kuba yang berada di bawah embargo perdagangan AS sejak 1962, selama bertahun-tahun telah terperangkap dalam krisis parah yang ditandai dengan pemadaman listrik berkepanjangan, serta kekurangan bahan bakar, obat-obatan, dan makanan.