Penulis
KOMPAS.com - Seorang diplomat berpangkat tinggi di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mundur dari jabatannya setelah menuduh bahwa organisasi internasional tersebut sedang mempersiapkan skenario yang melibatkan penggunaan senjata nuklir terhadap Iran.
Mohamad Safa yang menjabat sebagai Perwakilan Tetap Organisasi Visi Patriotik (PVA) untuk PBB selama hampir 12 tahun, mengumumkan pengunduran dirinya melalui akun media sosial X.
Ia menyatakan tidak bisa menjadi saksi atas kejahatan terhadap kemanusiaan.
Pengunduran diri Safa terjadi di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah usai serangan Amerika Serikat-Israel terhadap Iran.
Safa juga menuduh kepemimpinan senior PBB telah ditekan oleh "lobi kuat" untuk merekayasa sentimen pro-perang.
Baca juga: 3 Pasukannya Gugur di Lebanon, Indonesia Desak Pertemuan Dewan Keamanan PBB
Dalam unggahan terbarunya di X, Mohamad Safa menyatakan keprihatinannya atas kurangnya kesadaran publik mengenai operasi PBB saat ini.
"Saya rasa orang-orang tidak memahami betapa seriusnya situasi ini karena PBB sedang mempersiapkan kemungkinan penggunaan senjata nuklir di Iran," kata Safa, dikutip dari India Times.
"Saya meninggalkan karier diplomatik saya untuk membocorkan informasi ini. Saya menangguhkan tugas saya agar tidak menjadi bagian dari atau saksi kejahatan terhadap kemanusiaan ini," sambungnya.
Surat pengunduran diri Safa merinci periode tiga tahun yang penuh dengan frustrasi.
Baca juga: AS Mengeluh: Sering Bantu Sekutu Perang, tapi Tak Dibantu Lawan Iran
Ia juga menuduh para pejabat senior PBB menyalahgunakan kekuasaan mereka untuk melayani lobi tersebut dan secara efektif melindungi para pembuat keputusan dari penetapan kejahatan perang.
"Para pejabat tinggi menolak untuk menyebut apa yang terjadi di Gaza sebagai genosida, apa yang terjadi di Lebanon sebagai kejahatan perang dan pembersihan etnis," ujarnya.
"Bahwa perang terhadap Iran ilegal menurut hukum internasional dan Iran tidak menimbulkan ancaman langsung terhadap perdamaian dunia," sambungnya.
Ia mengeklaim menerima ancaman pembunuhan setelah menawarkan perspektif yang berbeda terkait perang di Gaza pada Oktober 2023.
Baca juga: AS Mengeluh: Sering Bantu Sekutu Perang, tapi Tak Dibantu Lawan Iran
Sebelum penangguhan tugasnya, Mohamad Safa memegang posisi penting dalam kerangka konsultatif PBB.
Sejak 2013, ia menjabat sebagai direktur eksekutif Patriotic Vision (PVA), sebuah organisasi dengan status konsultatif khusus di Dewan Ekonomi dan Sosial Perserikatan Bangsa-Bangsa (ECOSOC)
Pada 2016, ia dinominasikan sebagai Perwakilan Tetap PBB, memimpin delegasi PVA selama lebih dari satu dekade di bawah berbagai Sekretaris Jenderal dan Presiden Dewan Hak Asasi Manusia.
Safa menyatakan, ia tidak akan kembali menjalankan tugasnya sampai proses reformasi yang digariskan oleh Sekretaris Jenderal PBB diimplementasikan secara bermakna.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang