Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Diplomat Senior PBB Mundur, Bongkar Dugaan Skenario Serangan Nuklir ke Iran

Kompas.com, 31 Maret 2026, 15:32 WIB
Ahmad Naufal Dzulfaroh

Penulis

KOMPAS.com - Seorang diplomat berpangkat tinggi di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mundur dari jabatannya setelah menuduh bahwa organisasi internasional tersebut sedang mempersiapkan skenario yang melibatkan penggunaan senjata nuklir terhadap Iran.

Mohamad Safa yang menjabat sebagai Perwakilan Tetap Organisasi Visi Patriotik (PVA) untuk PBB selama hampir 12 tahun, mengumumkan pengunduran dirinya melalui akun media sosial X. 

Ia menyatakan tidak bisa menjadi saksi atas kejahatan terhadap kemanusiaan.

Pengunduran diri Safa terjadi di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah usai serangan Amerika Serikat-Israel terhadap Iran

Safa juga menuduh kepemimpinan senior PBB telah ditekan oleh "lobi kuat" untuk merekayasa sentimen pro-perang.

Baca juga: 3 Pasukannya Gugur di Lebanon, Indonesia Desak Pertemuan Dewan Keamanan PBB

Dugaan skenario penggunaan senjata nuklir ke Iran

Dalam unggahan terbarunya di X, Mohamad Safa menyatakan keprihatinannya atas kurangnya kesadaran publik mengenai operasi PBB saat ini. 

"Saya rasa orang-orang tidak memahami betapa seriusnya situasi ini karena PBB sedang mempersiapkan kemungkinan penggunaan senjata nuklir di Iran," kata Safa, dikutip dari India Times.

"Saya meninggalkan karier diplomatik saya untuk membocorkan informasi ini. Saya menangguhkan tugas saya agar tidak menjadi bagian dari atau saksi kejahatan terhadap kemanusiaan ini," sambungnya.

Surat pengunduran diri Safa merinci periode tiga tahun yang penuh dengan frustrasi.

Baca juga: AS Mengeluh: Sering Bantu Sekutu Perang, tapi Tak Dibantu Lawan Iran

Ia juga menuduh para pejabat senior PBB menyalahgunakan kekuasaan mereka untuk melayani lobi tersebut dan secara efektif melindungi para pembuat keputusan dari penetapan kejahatan perang.

"Para pejabat tinggi menolak untuk menyebut apa yang terjadi di Gaza sebagai genosida, apa yang terjadi di Lebanon sebagai kejahatan perang dan pembersihan etnis," ujarnya.

"Bahwa perang terhadap Iran ilegal menurut hukum internasional dan Iran tidak menimbulkan ancaman langsung terhadap perdamaian dunia," sambungnya.

Ia mengeklaim menerima ancaman pembunuhan setelah menawarkan perspektif yang berbeda terkait perang di Gaza pada Oktober 2023.

Baca juga: AS Mengeluh: Sering Bantu Sekutu Perang, tapi Tak Dibantu Lawan Iran

Rekam jejak Mohammad Safa di PBB

Sebelum penangguhan tugasnya, Mohamad Safa memegang posisi penting dalam kerangka konsultatif PBB.

Sejak 2013, ia menjabat sebagai direktur eksekutif Patriotic Vision (PVA), sebuah organisasi dengan status konsultatif khusus di Dewan Ekonomi dan Sosial Perserikatan Bangsa-Bangsa (ECOSOC)

Pada 2016, ia dinominasikan sebagai Perwakilan Tetap PBB, memimpin delegasi PVA selama lebih dari satu dekade di bawah berbagai Sekretaris Jenderal dan Presiden Dewan Hak Asasi Manusia. 

Safa menyatakan, ia tidak akan kembali menjalankan tugasnya sampai proses reformasi yang digariskan oleh Sekretaris Jenderal PBB diimplementasikan secara bermakna.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Mengapa Israel Menolak Disalahkan Atas Gugurnya 3 Prajurit TNI di Lebanon?
Mengapa Israel Menolak Disalahkan Atas Gugurnya 3 Prajurit TNI di Lebanon?
Internasional
Irak Mendadak 'Lupa Perang' Usai Lolos Piala Dunia, Ukir Sejarah 40 Tahun
Irak Mendadak "Lupa Perang" Usai Lolos Piala Dunia, Ukir Sejarah 40 Tahun
Internasional
Tunggu Serangan Darat AS, Menlu Iran: Mereka Tak Akan Berani
Tunggu Serangan Darat AS, Menlu Iran: Mereka Tak Akan Berani
Internasional
Houthi Tembakkan Rudal ke Israel, Klaim Serangan Gabungan dengan Iran-Hizbullah
Houthi Tembakkan Rudal ke Israel, Klaim Serangan Gabungan dengan Iran-Hizbullah
Internasional
Paus Leo XIV Desak Trump Cari Jalan Keluar Perang di Iran
Paus Leo XIV Desak Trump Cari Jalan Keluar Perang di Iran
Internasional
Spesifikasi USS George HW Bush yang Dikirim AS ke Timur Tengah
Spesifikasi USS George HW Bush yang Dikirim AS ke Timur Tengah
Internasional
Iran Tembaki Kapal Tanker Qatar, 1 Rudal 'Nyangkut' di Ruang Mesin
Iran Tembaki Kapal Tanker Qatar, 1 Rudal "Nyangkut" di Ruang Mesin
Internasional
Trump Ngamuk Perancis Blokir Pesawat AS ke Israel: Kami Akan Mengingatnya
Trump Ngamuk Perancis Blokir Pesawat AS ke Israel: Kami Akan Mengingatnya
Internasional
Iran Akui Jalin Kontak dengan AS, tapi Bantah Ada Negosiasi
Iran Akui Jalin Kontak dengan AS, tapi Bantah Ada Negosiasi
Internasional
China Mulai Terdampak Perang Iran, Bisa Picu Risiko Besar
China Mulai Terdampak Perang Iran, Bisa Picu Risiko Besar
Internasional
Berbalik Arah, Uni Emirat Arab Siap Ikut AS Lawan Iran demi Buka Selat Hormuz
Berbalik Arah, Uni Emirat Arab Siap Ikut AS Lawan Iran demi Buka Selat Hormuz
Internasional
Warga AS Ikut Tanggung Dampak Perang, Marah Harga BBM yang Meroket
Warga AS Ikut Tanggung Dampak Perang, Marah Harga BBM yang Meroket
Internasional
Trump Akan Tinggalkan Perang Iran meski Tanpa Kesepakatan, Abaikan Masalah Selat Hormuz
Trump Akan Tinggalkan Perang Iran meski Tanpa Kesepakatan, Abaikan Masalah Selat Hormuz
Internasional
Dewan Sains Trump Diisi Para Miliarder Rp 15.000 Triliun, Mengapa Ilmuwan Akademik Tersingkir?
Dewan Sains Trump Diisi Para Miliarder Rp 15.000 Triliun, Mengapa Ilmuwan Akademik Tersingkir?
Internasional
Mengapa Selat Hormuz Sulit Direbut dari Iran?
Mengapa Selat Hormuz Sulit Direbut dari Iran?
Internasional
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau