KOMPAS.com – Dampak kesepian bisa beragam, dari kesehatan fisik sampai kesehatan mental. Kesepian tak hanya dialami oleh mereka yang hidup sendiri, tapi juga oleh individu yang dikelilingi banyak orang, tapi tetap merasa kosong.
Psikolog Klinis, Praktisi, dan Edukator isu kesehatan mental, Dra. Tika Bisono, MPsiT., Psikolog menjelaskan, kesepian dapat berdampak serius terhadap kondisi mental seseorang.
Baca juga:
“Kesepian bisa memengaruhi kondisi kesejahteraan menurun, mulai dari stres, buruknya kualitas tidur, tidak fokus, bahkan bisa mengarah ke melukai diri,” kata Tika dalam Webinar Fenomena Kesepian Pada Perantau: Bagaimana Mengatasinya, Sabtu (4/10/2025).
Jangan anggap remeh, dampak kesepian bagi kesehatan mental dan kesehatan fisik bisa membahayakan. Apa saja?Kesepian bukan sekadar perasaan sementara. Dalam jangka panjang, kondisi ini bisa menggerus ketenangan batin seseorang.
Menurut Tika, ketika seseorang terus-menerus merasa kesepian, tubuh akan memproduksi hormon stres, seperti kortisol, lebih banyak.
Akibatnya, kualitas tidur menurun, daya tahan tubuh melemah, dan produktivitas ikut terpengaruh.
Selain itu, merasa kesepian juga kerap diikuti gangguan emosi lain seperti cemas dan murung.
“Beberapa orang juga mengalami gejala depresi, kecemasan bersosialisasi, dan kecanduan alkohol untuk mendistraksi rasa kesepian,” jelasnya.
Kebiasaan mencari pelarian melalui alkohol atau hiburan yang berlebihan menjadi cara sementara untuk menenangkan diri, tapi dalam jangka panjang justru dapat memperburuk kondisi mental.
Baca juga:
Jangan anggap remeh, dampak kesepian bagi kesehatan mental dan kesehatan fisik bisa membahayakan. Apa saja?Tika menuturkan, seseorang yang mengalami kesepian akan menunjukkan tanda-tanda khas yang terlihat dari perilaku dan emosinya.
“Biasanya akan terasa tidak nyaman dengan pengalaman yang telah dilalui, ada rasa kehilangan dan hampa,” ujarnya.
Rasa hampa itu seringkali diikuti oleh kehilangan motivasi hidup, munculnya pikiran negatif, dan perasaan tidak berguna.
“Gangguan perasaan lainnya yang dirasakan seperti murung, tidak memiliki motivasi, merasa tidak berguna, sedih, berfokus hanya pada kegagalan,” tambah Tika.
Tanda-tanda tersebut bisa muncul secara perlahan dan seringkali tidak disadari oleh orang sekitar.
Oleh karena itu, penting bagi individu untuk lebih peka terhadap perubahan suasana hati dan perilaku mereka sendiri.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya