Uraikan lika-liku Anda mengasuh anak jadi lebih simpel
Kenali soal gaya asuh lebih apik lewat konsultasi Kompas.com
KOMPAS.com - Hubungan antara kakak dan adik sering kali dianggap sebagai dinamika yang akan berjalan dengan sendirinya.
Pertengkaran, kecemburuan, hingga kedekatan emosional, dipandang sebagai bagian wajar dari proses tumbuh bersama.
Namun, di balik interaksi sehari-hari tersebut, ada peran besar orangtua yang membentuk bagaimana relasi kakak-adik berkembang dari masa kanak-kanak hingga dewasa.
Baca juga: Kakak Adik Sering Bertengkar? Begini Cara Orangtua Menghadapinya Menurut Psikolog
"Hubungan horizontal ini adalah manifestasi dari bagaimana orangtua memperlakukan kita dan saudara kita," tutur Wenny Aidia, M.Psi., Psikolog, dalam kelas daring KALM Counseling bertajuk "Dysfunctional Family: Ketika Keluarga Bukan Tempat Aman dan Nyaman", Minggu (18/1/2026).
Dalam suatu keluarga, ada yang namanya hubungan vertikal dan horizontal. Hubungan vertikal mengacu pada hubungan antara anak dan orangtua, sedangkan hubungan horizontal adalah hubungan antara saudara kandung.
Relasi horizontal ini tidak terlepas dari pola asuh yang diterapkan orangtua sejak awal, terutama dalam menempatkan peran, tanggung jawab, dan ekspektasi kepada masing-masing anak.
Ilustrasi kakak adik.Psikolog yang berpraktik di KALM Counseling ini melanjutkan, relasi kakak-adik terbentuk melalui interaksi sehari-hari, mulai dari bermain bersama, berbagi ruang, hingga menghadapi konflik kecil.
Namun, pola interaksi tersebut tidak muncul secara acak. Cara orangtua mengasuh dan merespons situasi antaranak menjadi dasar pembentukan relasi tersebut.
Ia menjelaskan, perlakuan ayah dan ibu terhadap masing-masing anak akan memengaruhi bagaimana kakak dan adik memandang satu sama lain, termasuk soal peran, hak, dan batasan dalam hubungan.
Dalam banyak keluarga, peran kakak dan adik sering kali ditetapkan secara tidak tertulis.
Sebagai seorang "kakak", anak diharapkan lebih dewasa, lebih sabar, dan sering kali diminta mengalah. Sementara sebagai seorang "adik", anak kerap diposisikan sebagai pihak yang perlu dilindungi atau diutamakan.
Wenny mencontohkan situasi sederhana yang kerap terjadi di rumah, seperti saat kakak dan adik berebut mainan. Respons orangtua dalam kondisi ini dapat meninggalkan makna mendalam bagi kedua anak.
“Misalnya saya sebagai kakak punya adik, terus lagi berantem, berebut mainan, terus orang tua bilang, 'kakak ngalah dong',” ujar Wenny.
Ilustrasi kakak adik.Dari situasi tersebut, anak dapat menangkap pesan tertentu. Kakak bisa menanamkan keyakinan bahwa dirinya harus selalu mengalah, sedangkan adik bisa merasa bahwa kebutuhannya lebih diutamakan.
Baca juga: Tips Parenting untuk Mencegah Persaingan Kakak Adik sejak Dini