KOMPAS.com – Menjelang Ramadhan dan Lebaran, pusat perbelanjaan biasanya mulai dipadati pengunjung.
Namun di tengah ramainya istilah rojali (rombongan jarang beli) dan rohana (rombongan hanya nanya), muncul pertanyaan, apakah tren tersebut masih mendominasi saat musim belanja tiba?
Ketua Bidang Program Promosi Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) sekaligus General Manager Mal Kota Kasablanka, Agung Gunawan, menilai fenomena rojali bukan hal baru dan tidak serta-merta mencerminkan kondisi daya beli masyarakat.
Baca juga: Biaya Hidup Makin Mahal, Tahan Godaan Belanja Saat Pegang Uang
“Kalau kita melihat istilah rojali atau rohana, sebenarnya itu sudah ada dari dulu. Hanya saja dulu namanya lebih keren, window shopping,” ujar Agung saat konferensi pers BINA Lebaran di Mal Kota Kasablanka, Jumat (13/2/2026).
Menurutnya, kebiasaan datang ke mal tanpa langsung berbelanja memang sudah menjadi bagian dari kultur pusat perbelanjaan.
Namun, situasinya berbeda ketika memasuki momentum Ramadhan dan Lebaran, yang secara tradisional menjadi periode peningkatan konsumsi masyarakat.
Baca juga: Tips Cerdas Atur Belanja Online Saat Biaya Hidup di Kota Makin Mencekik
Di samping itu, Agung menekankan bahwa pusat perbelanjaan sejak awal memang tidak hanya dirancang sebagai tempat transaksi.
“Sebagai sebuah mal, daya tariknya adalah orang datang ke mal. Tapi tidak semua orang yang datang memang harus berbelanja,” katanya.
Ia menyebut, banyak pengunjung datang untuk berbagai keperluan lain, seperti bertemu rekan kerja, sekadar minum kopi, hingga makan bersama keluarga.
“Ada yang datang untuk meeting, untuk kopi saja, atau hanya untuk makan dan minum,” ujar Agung.
Di kota besar dengan ruang publik terbatas, mal kerap menjadi alternatif ruang sosial yang nyaman dan aman.
Maka dari itu, tidak semua kunjungan bisa langsung diukur dari jumlah transaksi di hari yang sama.
Baca juga: Fungsi Mal di Indonesia Berubah Menurut APBI, Jangan Hanya Andalkan Belanja
Press conference BINA (Belanja di Indonesia Aja) Lebaran di Mal Kota Kasablanka, Jumat (13/2/2026).Meski demikian, Agung meyakini bahwa periode Ramadhan dan Lebaran tetap menjadi fase penting bagi pusat perbelanjaan.
“Biasanya mau Ramadhan dan Lebaran banyak orang buka puasa. Bahkan satu hari bisa ada dua batch, jam 5 sampai setengah 8, lalu jam 8 sampai jam 10,” ujarnya.