Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com, 22 Februari 2026, 18:35 WIB
Suci Rahayu,
Bestari Kumala Dewi

Tim Redaksi

Konsultasi Tanya Pakar Parenting

Uraikan lika-liku Anda mengasuh anak jadi lebih simpel

Kenali soal gaya asuh lebih apik lewat konsultasi Kompas.com

SURABAYA, KOMPAS.com – Dalam melihat kasus tekanan psikologis pada anak-anak, relasi dengan figur pengasuh utama menjadi salah satu aspek yang tidak bisa diabaikan.

Hubungan emosional di dalam keluarga kerap menjadi fondasi utama bagi anak dalam memahami diri dan dunia di sekitarnya.

Psikolog klinis RS Kemenkes Surabaya, Mellyana Setyowati, M.Psi menekankan pentingnya melihat persoalan anak dari sudut pandang keterikatan emosional dalam keluarga.

Baca juga: Teknik Parenting Pangeran William, Dengarkan Anak Sebelum Beri Solusi

Menurutnya, relasi yang terbangun sejak dini sangat memengaruhi cara anak mengelola tekanan dan rasa tidak nyaman.

Dalam teori keterikatan yang dikembangkan oleh John Bowlby, hubungan awal antara anak dan ibu membentuk “peta emosional” terhadap dunia.

Anak yang merasa aman, didengar, dan diterima memiliki fondasi regulasi emosi yang lebih kuat dibandingkan anak yang tumbuh tanpa rasa aman tersebut.

Namun, ia menegaskan bahwa tragedi yang menimpa seorang anak berusia 10 tahun, YBR, siswa kelas IV Sekolah Dasar (SD) asal Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang diduga bunuh diri, tidak pernah sesederhana menyalahkan orangtua.

“Sebab dalam banyak kasus, ada multifaktor, tekanan akademik, perundungan, rasa malu, konflik keluarga, trauma, hingga keterbatasan kemampuan anak dalam mengelola emosi yang intens,” ujarnya kepada Kompas.com.

Orangtua sebagai Cermin Emosi Anak

Ia menjelaskan, anak belajar memahami dan memberi makna pada emosinya melalui respons orangtua. Termasuk interaksi sederhana sehari-hari sesungguhnya membentuk cara anak memandang perasaannya sendiri.

Ketika anak merasa sedih lalu ditenangkan, ia belajar bahwa kesedihan adalah emosi yang wajar dan dapat dihadapi. Sebaliknya, jika anak dimarahi saat menunjukkan kemarahan, ia bisa belajar bahwa emosinya berbahaya atau harus ditekan.

Karena itu, ia menyoroti pentingnya rasa diterima tanpa syarat dan ruang dialog yang terbuka di dalam keluarga. Anak perlu merasa aman untuk mengungkapkan apa yang ia rasakan, tanpa takut disalahkan atau diabaikan.

Baca juga: Parenting Menurut Nikita Willy, Setiap Ibu Punya Cara Berbeda

“Dalam praktik klinis, saya sering menemukan bahwa anak yang berada dalam tekanan berat sebenarnya sedang ‘berteriak minta didengar’, tetapi tidak memiliki ruang aman untuk mengungkapkan perasaannya,” kata psikolog yang biasa disapa Melly itu.

Ilustrasi ibu dan anakPexels/Ivan Samkov Ilustrasi ibu dan anak

Mengenali Sinyal yang Sering Terlewat

Sebab tekanan psikologis pada anak tidak selalu muncul dalam bentuk yang jelas. Karena itu, orangtua perlu lebih peka terhadap perubahan perilaku sekecil apa pun.

Beberapa sinyal yang perlu diwaspadai antara lain anak menjadi sangat menarik diri, perubahan pola tidur dan makan, sering merasa tidak berharga, munculnya ledakan emosi yang tidak biasa, hingga kehilangan minat pada hal-hal yang sebelumnya disukai.

Untuk itu pencegahan tidak dimulai dari nasihat panjang atau ceramah moral. Justru yang paling bermakna adalah kualitas hubungan sehari-hari.

"Beri 10–15 menit waktu khusus tanpa distraksi, mendengar tanpa langsung menghakimi, mengurangi kalimat membandingkan, memvalidasi emosi sebelum memberi solusi,” tutur Melly.

Baca juga: Peran Ganda Ibu Bekerja, Psikolog Tekankan Pentingnya Dukungan Keluarga

Ia juga menekankan bahwa orangtua tidak harus menjadi sosok yang sempurna. Karena anak tidak membutuhkan orangtua tanpa cela, melainkan orangtua yang cukup hadir dan cukup peduli.

Kini tragedi yang terjadi di NTT menjadi refleksi bersama, bahwa kesehatan mental anak untuk menjadi tanggung jawab kolektif, bukan hanya keluarga, tetapi juga sekolah dan masyarakat.

“Mari kita lebih peka. Karena seringkali, yang dibutuhkan anak bukan solusi besar, melainkan satu orang dewasa yang benar-benar mau mendengar,” pungkasnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
3 Bagian Tubuh Paling Kotor yang Sering Terlewat Saat Mandi, Apa Saja?
3 Bagian Tubuh Paling Kotor yang Sering Terlewat Saat Mandi, Apa Saja?
Beauty & Grooming
Intip Foto Prewedding Justin Hubner dan Jennifer Copper, Anggun dengan Busana Adat Jawa
Intip Foto Prewedding Justin Hubner dan Jennifer Copper, Anggun dengan Busana Adat Jawa
Fashion
Bercanda Boleh, Ini Batas Aman Prank Saat April Fools Menurut Psikolog
Bercanda Boleh, Ini Batas Aman Prank Saat April Fools Menurut Psikolog
Wellness
Jangan Asal Ikut Tren, Operasi Plastik Harus Perhatikan Harmoni Wajah
Jangan Asal Ikut Tren, Operasi Plastik Harus Perhatikan Harmoni Wajah
Beauty & Grooming
Kenapa Orang Suka Membuat Prank Saat April Fools? Ini Penjelasan Psikolog
Kenapa Orang Suka Membuat Prank Saat April Fools? Ini Penjelasan Psikolog
Wellness
Hubungan Rawan Konflik, 2 Shio Ini Tidak Cocok dengan Shio Babi
Hubungan Rawan Konflik, 2 Shio Ini Tidak Cocok dengan Shio Babi
Relationship
120 Ucapan Ulang Tahun Islami untuk Perempuan, Penuh Doa dan Menyentuh Hati
120 Ucapan Ulang Tahun Islami untuk Perempuan, Penuh Doa dan Menyentuh Hati
Wellness
7 Rahasia Tampil Trendi untuk Perempuan Usia 60 Tahun
7 Rahasia Tampil Trendi untuk Perempuan Usia 60 Tahun
Fashion
Anak Tantrum saat Gadget Diambil? Ini Cara Mengatasinya Menurut Psikolog
Anak Tantrum saat Gadget Diambil? Ini Cara Mengatasinya Menurut Psikolog
Wellness
Kematian Ibu Melahirkan Tinggi di Jember, 10 Meninggal di Awal 2026
Kematian Ibu Melahirkan Tinggi di Jember, 10 Meninggal di Awal 2026
Wellness
Tradisi April Fools di Berbagai Negara, dari Tempel Ikan hingga Kirim Misi Palsu
Tradisi April Fools di Berbagai Negara, dari Tempel Ikan hingga Kirim Misi Palsu
Wellness
Apa Itu April Fools? Tradisi Iseng 1 April yang Punya Sejarah dan Cerita Unik
Apa Itu April Fools? Tradisi Iseng 1 April yang Punya Sejarah dan Cerita Unik
Wellness
4 Tips Memilih Kalung Sesuai Bentuk Leher Busana agar Elegan
4 Tips Memilih Kalung Sesuai Bentuk Leher Busana agar Elegan
Fashion
Kebanyakan Produk Perawatan Berprotein Bisa Merusak Rambut
Kebanyakan Produk Perawatan Berprotein Bisa Merusak Rambut
Beauty & Grooming
Shio Monyet Paling Cocok dengan 3 Shio Ini, Siapa Saja?
Shio Monyet Paling Cocok dengan 3 Shio Ini, Siapa Saja?
Relationship
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau