KOMPAS.com – Memasuki usia 40 tahun, banyak orang mulai menyadari rambut terasa lebih tipis, mudah patah, dan rontok lebih banyak dari biasanya. Perubahan hormon, stres, hingga kebiasaan styling di masa lalu bisa menjadi pemicunya.
Meski terdengar mengkhawatirkan, para ahli menegaskan bahwa rambut rontok di usia ini dapat diatasi dengan pendekatan yang tepat. Simak tujuh cara yang bisa dilakukan.
Menurut salah satu pendiri dan Chief Medical Officer Nutrafol, Sophia Kogan, kesehatan rambut berawal dari kulit kepala.
Baca juga: 12 Penyebab Rambut Rontok yang Tak Terduga, Termasuk Kelebihan Vitamin
“Kesehatan kulit kepala bergantung pada faktor internal seperti keseimbangan hormon seks dan hormon stres, serta stres oksidatif dan kesehatan usus,” jelasnya, seperti dikutip Byrdie, Rabu (4/3/2026).
Ia menambahkan, tidak terlalu sering mencuci rambut, menghindari pewarnaan dan proses kimia keras, serta rutin memijat kulit kepala dapat membantu merangsang pertumbuhan rambut.
Pijatan ringan meningkatkan aliran darah ke folikel, sehingga mendukung fase pertumbuhan rambut.
Bagi yang tetap ingin mewarnai rambut, penting memilih produk yang lebih ramah kulit kepala.
Kogan menjelaskan, amonia dalam pewarna rambut memiliki pH tinggi yang dapat merusak kulit kepala dan folikel rambut.
“Saat berbicara dengan penata rambut, tanyakan tentang pewarna alami dan organik serta hindari hidrogen peroksida, amonia, ethanolamines, dan paraphenylenediamine (PPD),” sarannya.
Formula bebas amonia dinilai lebih lembut dan membantu menjaga struktur rambut tetap kuat serta berkilau setelah proses pewarnaan.
Baca juga: Perawatan Rambut Rontok di Korea Selatan Diusulkan Ditanggung Asuransi
Stres kronis maupun akut dapat berdampak langsung pada siklus rambut. Kogan mengungkap, ketika stres berat terjadi, tubuh mengalami perubahan hormonal dan neurokimia yang signifikan.
“Ketika stres akut besar terjadi, hal itu dapat menyebabkan pergeseran besar dalam keseimbangan hormon dan neurokimia, yang memberi sinyal pada sejumlah besar folikel rambut untuk berpindah lebih cepat dari fase pertumbuhan ke fase istirahat,” jelasnya.
Pada fase istirahat (telogen), rambut berhenti tumbuh dan bersiap rontok. Akibatnya, kerontokan bisa terlihat tiga hingga enam bulan setelah peristiwa stres terjadi.
Mengelola stres melalui olahraga, meditasi, atau konseling dapat membantu meminimalkan dampaknya.
Penata rambut selebritas Irinel de Leon mengingatkan bahwa kebiasaan menata rambut terlalu ketat sejak usia muda bisa berdampak jangka panjang.