Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Tiba-tiba Jantung Berdebar Saat Hujan? Psikolog Jelaskan Cara Otak Mengingat Trauma

Kompas.com, 10 Maret 2026, 12:00 WIB
Ria Apriani Kusumastuti

Penulis

KOMPAS.com - Rasa cemas yang muncul saat mendengar hujan deras atau merasakan getaran kecil bukan tanpa sebab.

Psikolog menjelaskan kondisi tersebut terjadi karena otak mengingat pengalaman bencana dan langsung mengaktifkan sistem pertahanan tubuh.

Psikolog Ibunda.id, Danti Wulan Manunggal, S.Psi., mengatakan rasa takut yang muncul dalam situasi tersebut berkaitan dengan cara otak memproses pengalaman masa lalu.

Otak dapat mengaitkan suara atau situasi tertentu dengan peristiwa bencana yang pernah terjadi.

Baca juga: Hidup di Bawah Bayang-bayang Bencana, Saat Hujan Turun Rasa Cemas Ikut Datang

Peran amigdala dalam memicu rasa takut

Menurut Danti, salah satu bagian otak yang berperan penting dalam merespons rasa takut adalah amigdala. Bagian otak ini berfungsi sebagai pusat pengolah emosi, terutama rasa takut.

“Amigdala atau pusat rasa takut di otak merekam trauma masa lalu,” ujar Danti saat dihubungi Kompas.com, Minggu (8/3/2026).

Ketika seseorang pernah mengalami bencana, pengalaman tersebut dapat tersimpan kuat di dalam ingatan. Saat ada pemicu yang mirip, seperti suara hujan deras atau getaran kecil, amigdala dapat langsung mengirim sinyal bahaya.

Baca juga: Hidup di Daerah Langganan Bencana, Warga Kerap Dihantui Rasa Cemas

Otak bereaksi sebelum logika bekerja

Ilustrasi kecemasan. Psikolog menjelaskan jantung berdebar atau rasa cemas saat mendengar hujan bisa terjadi karena otak mengingat pengalaman bencana dan langsung mengaktifkan sistem pertahanan tubuh.Freepik/Dragos Condrea Ilustrasi kecemasan. Psikolog menjelaskan jantung berdebar atau rasa cemas saat mendengar hujan bisa terjadi karena otak mengingat pengalaman bencana dan langsung mengaktifkan sistem pertahanan tubuh.

Danti menjelaskan reaksi takut sering muncul sebelum seseorang sempat berpikir secara rasional. Hal ini terjadi karena otak memproses sinyal bahaya dengan sangat cepat.

Ketika amigdala mendeteksi ancaman, otak langsung mengirimkan sinyal peringatan ke seluruh tubuh.

Proses ini berlangsung sangat cepat sehingga tubuh dapat bereaksi bahkan sebelum seseorang menyadari situasi yang sebenarnya terjadi.

Akibatnya, seseorang bisa merasa takut atau cemas meskipun belum tentu ada bahaya yang nyata.

Baca juga: Sulit Tidur hingga Mudah Marah, Ini Tanda Trauma Setelah Bencana

Tubuh masuk ke mode siaga

Ketika otak menganggap ada ancaman, tubuh akan masuk ke dalam kondisi yang dikenal sebagai fight-or-flight. Kondisi ini merupakan mekanisme alami tubuh untuk menghadapi bahaya.

Dalam keadaan tersebut, jantung bisa berdebar lebih cepat dan napas menjadi lebih pendek. Tubuh sebenarnya sedang mempersiapkan diri untuk melawan ancaman atau melarikan diri.

Reaksi ini merupakan bagian dari sistem pertahanan tubuh yang bertujuan menjaga keselamatan seseorang.

Baca juga: Sering Cemas Saat Hujan atau Mendengar Kabar Bencana? Psikolog Bagikan Cara Mengatasinya

Reaksi ini merupakan hal yang wajar

Danti menekankan bahwa rasa takut yang muncul ketika mendengar suara yang mengingatkan pada bencana merupakan reaksi yang wajar. Pengalaman masa lalu dapat membuat otak lebih sensitif terhadap situasi yang dianggap berbahaya.

“Menghadapi alam yang tak menentu memang berat, namun memahami bahwa ada respons mental yang menyertainya adalah hal yang wajar dan merupakan langkah awal untuk menjadi lebih tangguh,” kata Danti.

Memahami cara kerja otak dalam merespons ancaman dapat membantu seseorang lebih mengerti mengapa rasa cemas bisa muncul secara tiba-tiba.

Kesadaran ini juga dapat membantu masyarakat mencari cara yang lebih sehat untuk mengelola rasa takut ketika menghadapi situasi yang tidak menentu.

Baca juga: Berbagi MPASI di Tengah Bencana, Begini Cara AIMI Menjaga Kualitas Makanan

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
3 Bagian Tubuh Paling Kotor yang Sering Terlewat Saat Mandi, Apa Saja?
3 Bagian Tubuh Paling Kotor yang Sering Terlewat Saat Mandi, Apa Saja?
Beauty & Grooming
Intip Foto Prewedding Justin Hubner dan Jennifer Copper, Anggun dengan Busana Adat Jawa
Intip Foto Prewedding Justin Hubner dan Jennifer Copper, Anggun dengan Busana Adat Jawa
Fashion
Bercanda Boleh, Ini Batas Aman Prank Saat April Fools Menurut Psikolog
Bercanda Boleh, Ini Batas Aman Prank Saat April Fools Menurut Psikolog
Wellness
Jangan Asal Ikut Tren, Operasi Plastik Harus Perhatikan Harmoni Wajah
Jangan Asal Ikut Tren, Operasi Plastik Harus Perhatikan Harmoni Wajah
Beauty & Grooming
Kenapa Orang Suka Membuat Prank Saat April Fools? Ini Penjelasan Psikolog
Kenapa Orang Suka Membuat Prank Saat April Fools? Ini Penjelasan Psikolog
Wellness
Hubungan Rawan Konflik, 2 Shio Ini Tidak Cocok dengan Shio Babi
Hubungan Rawan Konflik, 2 Shio Ini Tidak Cocok dengan Shio Babi
Relationship
120 Ucapan Ulang Tahun Islami untuk Perempuan, Penuh Doa dan Menyentuh Hati
120 Ucapan Ulang Tahun Islami untuk Perempuan, Penuh Doa dan Menyentuh Hati
Wellness
7 Rahasia Tampil Trendi untuk Perempuan Usia 60 Tahun
7 Rahasia Tampil Trendi untuk Perempuan Usia 60 Tahun
Fashion
Anak Tantrum saat Gadget Diambil? Ini Cara Mengatasinya Menurut Psikolog
Anak Tantrum saat Gadget Diambil? Ini Cara Mengatasinya Menurut Psikolog
Wellness
Kematian Ibu Melahirkan Tinggi di Jember, 10 Meninggal di Awal 2026
Kematian Ibu Melahirkan Tinggi di Jember, 10 Meninggal di Awal 2026
Wellness
Tradisi April Fools di Berbagai Negara, dari Tempel Ikan hingga Kirim Misi Palsu
Tradisi April Fools di Berbagai Negara, dari Tempel Ikan hingga Kirim Misi Palsu
Wellness
Apa Itu April Fools? Tradisi Iseng 1 April yang Punya Sejarah dan Cerita Unik
Apa Itu April Fools? Tradisi Iseng 1 April yang Punya Sejarah dan Cerita Unik
Wellness
4 Tips Memilih Kalung Sesuai Bentuk Leher Busana agar Elegan
4 Tips Memilih Kalung Sesuai Bentuk Leher Busana agar Elegan
Fashion
Kebanyakan Produk Perawatan Berprotein Bisa Merusak Rambut
Kebanyakan Produk Perawatan Berprotein Bisa Merusak Rambut
Beauty & Grooming
Shio Monyet Paling Cocok dengan 3 Shio Ini, Siapa Saja?
Shio Monyet Paling Cocok dengan 3 Shio Ini, Siapa Saja?
Relationship
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau