KOMPAS.com - Hubungan yang tidak sehat sering kali sulit diakhiri, bahkan ketika seseorang menyadari bahwa hubungan tersebut menyakitkan.
Banyak orang tetap kembali kepada pasangan yang sama meski hubungan dipenuhi konflik dan luka emosional.
Dalam psikologi, kondisi ini sering disebut trauma bond, menggambarkan ikatan emosional yang sangat kuat antara seseorang dengan pasangan yang sebenarnya menyakitinya.
Baca juga: Mengapa Tubuh Lebih Dulu Mengingat Trauma? Pelajaran dari Broken Strings
Terapis berbasis New York, Sienna Chu, LMHC menjelaskan, trauma bond adalah hubungan emosional yang intens dengan seseorang yang menjadi sumber kenyamanan sekaligus sumber luka.
“Trauma bond adalah istilah yang digunakan psikolog untuk menggambarkan keterikatan emosional yang sangat kuat dengan orang yang bersikap abusif, yang sekaligus menjadi sumber kenyamanan dan rasa sakit,” kata Chu, disadur SELF Magazine, Sabtu (14/3/2026).
Kondisi tersebut membuat seseorang merasa sulit untuk benar-benar pergi dari hubungan yang tidak sehat. Berikut 4 tanda seseorang mungkin berada dalam hubungan trauma bond.
Salah satu ciri utama trauma bond adalah adanya siklus emosi yang sangat intens dalam hubungan.
Hubungan tidak selalu buruk sepanjang waktu. Justru sering kali ada fase romantis yang sangat hangat di antara konflik yang terjadi.
Profesor psikologi dari Miami University, Terri Messman, PhD menjelaskan, hubungan trauma bond biasanya diawali dengan fase yang sangat menyenangkan.
“Banyak trauma bond dimulai dengan fase honeymoon, yaitu periode kedekatan yang terasa sangat istimewa, langka, bahkan seperti takdir,” kata Messman.
Namun setelah fase tersebut, biasanya muncul konflik seperti pertengkaran, komentar pasif-agresif, atau perilaku yang menyakitkan.
Yang membuat hubungan ini rumit adalah otak cenderung mengingat momen-momen baik sebagai alasan untuk tetap bertahan.
Baca juga: 6 Dampak Ghosting bagi Kesehatan Mental, dari Stres hingga Trauma
Akibatnya, seseorang terus berharap bahwa pasangan akan kembali seperti saat hubungan terasa hangat, padahal siklus konflik dan rekonsiliasi terus berulang.
Dalam hubungan trauma bond, kasih sayang dari pasangan sering terasa bersyarat. Seseorang merasa harus melakukan hal yang benar agar pasangan tetap bersikap baik kepadanya.
Menurut Psikolog klinis Elena Welsh, PhD, kondisi ini sering membuat seseorang menyalahkan dirinya sendiri atas perilaku buruk pasangan.