KOMPAS.com - Pernikahan selama ini sering dianggap sebagai jaminan untuk masa tua yang lebih bahagia dan sehat.
Namun, sebuah penelitian terbaru dalam jurnal International Social Work menunjukkan, manfaat umur panjang dan kesehatan optimal dari pernikahan ternyata tidak dirasakan secara merata oleh pria dan wanita.
“Studi kami mengikuti lebih dari 7.000 warga Kanada usia paruh baya dan lanjut usia, dan kami memperhatikan bahwa beberapa orang menua dengan baik, sedangkan yang lain tidak."
Hal itu diungkap peneliti dari Institute of Life Course and Aging di University of Toronto's Factor Inwentash Faculty of Social Work, yang turut andil dalam studi tersebut, Mabel Ho, dikutip dari Best Life, Rabu (18/3/2026).
Baca juga: Apakah Takut Menikah itu Wajar? Ini Penjelasan Psikolog
Data menunjukkan bahwa wanita yang menyandang status menikah, bercerai, atau menjadi janda ternyata tidak menjalani masa tua yang seoptimal rekan-rekan mereka yang memang tidak pernah menikah.
Kondisi ini sangat berbeda dengan kaum pria. Mereka yang menikah memiliki peluang empat kali lebih besar untuk menua dengan sukses dibandingkan pria lajang.
Status perkawinan terbukti menjadi elemen vital dalam menentukan kualitas fisik, mental, hingga kesejahteraan sosial seseorang, khususnya pada laki-laki.
Guna mendapatkan hasil yang akurat, tim peneliti melakukan analisis mendalam terhadap tumpukan data selama tiga tahun yang bersumber dari Canadian Longitudinal Study on Aging.
Mereka melakukan survei menyeluruh terhadap tingkat kesehatan dan kesejahteraan dari total 7.641 partisipan berusia di atas 60 tahun, yang terdiri dari 3.926 partisipan pria dan 3.715 partisipan wanita.
Para peserta dibagi ke dalam enam kategori berdasarkan kondisi hubungan mereka, yakni:
Dalam riset ini, indikator "penuaan yang sukses" mencakup kesejahteraan fisik, psikologis, sosial, dan emosional secara menyeluruh.
Tim peneliti memfokuskan penilaian pada kemampuan fisik partisipan, yakni bebas dari keterbatasan akibat nyeri kronis. Lalu kondisi kesehatan mental yang stabil tanpa adanya gangguan kecemasan atau depresi, serta dukungan sosial yang memadai dari pasangan.
Selain itu, penilaian mandiri dari para partisipan mengenai kesejahteraan hidup mereka juga menjadi faktor penentu utama.
Hasilnya, sekitar 70 persen dari seluruh peserta riset mampu memenuhi kriteria untuk dikategorikan sebagai individu yang menua dengan sukses.
Baca juga: Tak Cukup Modal Cinta, Ini Kesiapan Mental Sebelum Menikah Menurut Psikolog
Bagi kaum pria, ikatan pernikahan terbukti menjadi pendorong utama bagi kesehatan jangka panjang mereka.