Penulis
KOMPAS.com - Zodiak sering menjadi topik ringan yang mudah memancing percakapan.
Mulai dari pertanyaan “Kamu Aries atau Virgo?” hingga anggapan bahwa seseorang yang berzodiak tertentu pasti punya sifat khas tertentu, astrologi sudah lama hadir dalam budaya populer dan kehidupan sehari-hari.
Sebagian orang merasa deskripsi zodiak sangat menggambarkan dirinya, sementara yang lain menganggapnya sekadar hiburan. Lalu, benarkah zodiak bisa menjelaskan kepribadian seseorang?
Zodiak adalah sistem astrologi yang membagi perjalanan Matahari menjadi 12 bagian berdasarkan tanggal lahir, mulai dari Aries hingga Pisces.
Setiap tanda zodiak dikaitkan dengan elemen tertentu api, tanah, udara, dan air, yang dipercaya memengaruhi karakter dasar seseorang.
Misalnya, Aries sering diasosiasikan dengan sifat berani dan energik, Taurus dianggap stabil dan menyukai kenyamanan, sementara Gemini dikenal komunikatif dan mudah beradaptasi.
Secara umum, pembagian karakter zodiak yang populer adalah:
Dikutip dari The Times of India, eskripsi semacam ini membuat banyak orang merasa mudah terhubung dengan identitas zodiaknya.
Baca juga: 5 Zodiak yang Dikenal Pendiam, Lebih Suka Mengamati daripada Banyak Bicara
Menurut psikologi, ada fenomena yang disebut Barnum effect atau Forer effect, yaitu kecenderungan seseorang menganggap deskripsi umum terasa sangat personal.
Fenomena ini pertama kali dijelaskan oleh psikolog Bertram Forer pada 1948. Dalam eksperimennya, Forer memberikan deskripsi kepribadian yang sama kepada banyak orang, tetapi sebagian besar peserta merasa uraian itu sangat akurat untuk dirinya.
Deskripsi seperti “kadang Anda percaya diri, tetapi di situasi tertentu bisa ragu” terdengar spesifik, padahal sebenarnya berlaku bagi banyak orang.
Inilah sebabnya ramalan zodiak sering terasa relevan bagi banyak pembaca.
Baca juga: 10 Sifat Zodiak Capricorn yang Kadang Disalahpahami Orang Lain
Hingga kini, belum ada bukti ilmiah kuat yang menunjukkan bahwa posisi bintang saat lahir menentukan karakter seseorang.
Penelitian besar yang dipublikasikan dalam jurnal kepribadian menunjukkan bahwa faktor yang lebih berpengaruh terhadap pembentukan karakter adalah genetika, lingkungan keluarga, pengalaman hidup, pendidikan, dan relasi sosial.
Psikolog kepribadian Carl Jung memang pernah menaruh perhatian pada simbol dan pola astrologi, tetapi pendekatan psikologi modern saat ini tidak menjadikan zodiak sebagai alat ukur ilmiah untuk menilai kepribadian.