Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Antisipasi Kekeringan, BNPB dan Pemprov Jatim Siapkan Sumur Dalam demi Amankan Stok Padi

Kompas.com, 27 Maret 2026, 21:15 WIB
Izzatun Najibah,
Novita Rahmawati

Tim Redaksi

SURABAYA, KOMPAS.com - Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melakukan mitigasi potensi bencana kekeringan saat musim kemarau.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Kelas 1 Juanda memprakirakan puncak musim kemarau terjadi pada Mei hingga Agustus 2026.

Tetapi, di beberapa titik di Jawa Timur saat ini masih terpantau terjadi banjir seperti Kabupaten Pasuruan. Oleh sebab itu, Pemprov Jatim akan bersiap menghadapi fase pancaroba.

“Dari BMKG itu ada kemungkinan April ini beberapa daerah sudah mulai kekeringan. Bahkan juga hari ini di Tuban juga ada daerah yang mengalami kekeringan,” kata Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa saat ditemui Jumat (27/3/2026).

Baca juga: BNPB Antisipasi Hadapi Bencana Kekeringan dan Kebakaran di Jatim

Puncak kemarau diprediksi terjadi hingga Agustus 2026 nanti. Sementara, pada September, para petani di Jawa Timur akan memasuki musim tanam.

“September ini musim tanam. Kita berharap bahwa IP Indeks Pertanaman Jawa Timur 2,7. Tapi ada daerah yang 3,5 seperti Ngawi,” katanya.

Jawa Timur dikenal sebagai salah satu Lumbung Pangan Nasional. Khofifah berharap produksi padi dan beras di Jatim untuk menyuplai daerah-daerah lainnya tetap dapat terpenuhi. Sehingga, produksinya harus dijaga dari cuaca.

“Kalau untuk jagung, untuk daging sapi, daging ayam, telur. Kita insya Allah tetap pada posisi yang sangat optimis. Tapi kalau untuk tanam padi karena ini ada kaitan dengan suplai air,” ucapnya.

Baca juga: Jelang Kemarau 2026, Ini Peta Risiko Potensi Bencana Kekeringan Seluruh Daerah di Kalteng

Pemprov Jatim dan BNPB akan menyiapkan sumur-sumur dalam untuk bisa melakukan irigasi di sawah-sawah agar musim tanam untuk komoditas padi bisa berjalan dan para petani tidak mengalami kendala signifikan.

“Supaya indeks pertanaman kita itu tidak turun. Itu menjadi penting karena ketahanan pangan ini menjadi kebutuhan nasional. BNPB punya peta yang sangat komprehensif. Itu akan menjadi panduan bagi Pemprov Jawa Timur untuk melakukan plan of action secara detail dan terukur,” ucapnya.

Terpisah, Kepala BNPB, Letjend Suharyanto mendapat perintah dari Presiden Prabowo Subianto untuk mengantisipasi adanya bencana hidrometeorologi ke seluruh wilayah, termasuk Jawa Timur.

“Kemudian untuk mengatasi kekurangan air ada bantuan-bantuan pembuatan sumur mengalirkan air dari puncak-puncak atau sumber-sumber air yang jauh ya ini juga akan dilakukan,” kata Suharyanto.

Baca juga: Kemarau Diprediksi Mei, BPBD Kalteng Petakan Daerah Rawan Kekeringan

BNPB juga akan melakukan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) bila diperlukan untuk mengatasi kekeringan dengan mengisi embung-embung di sejumlah titik di Jawa Timur.

“Bahkan tadi sambil bercanda tapi ini bukan bercanda saja tapi itulah realitanya adalah mengisi kolam-kolam renang karena di satu titik jadi kebakaran sumber airnya juga bisa diambil dari kolam renang,” katanya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Sidang Korupsi Jalan Sumut, Topan Ginting Divonis 5 Tahun 6 Bulan Penjara
Sidang Korupsi Jalan Sumut, Topan Ginting Divonis 5 Tahun 6 Bulan Penjara
Medan
Respons Kejari Karo Usai Amsal Sitepu Divonis Bebas: Kami Pikir-pikir...
Respons Kejari Karo Usai Amsal Sitepu Divonis Bebas: Kami Pikir-pikir...
Medan
Selama Libur Lebaran 360 Ribu Wisatawan Berkunjung ke Sumut, Terbanyak ke Samosir
Selama Libur Lebaran 360 Ribu Wisatawan Berkunjung ke Sumut, Terbanyak ke Samosir
Medan
Tiga Kasus Jual Beli Bayi Terungkap di Sumatera, Terbaru Digagalkan di Tol Marelan
Tiga Kasus Jual Beli Bayi Terungkap di Sumatera, Terbaru Digagalkan di Tol Marelan
Medan
Divonis Bebas, Amsal Sitepu: Tak Ada Lagi Pejuang Ekonomi Kreatif yang Dikriminalisasi
Divonis Bebas, Amsal Sitepu: Tak Ada Lagi Pejuang Ekonomi Kreatif yang Dikriminalisasi
Medan
Tak Terbukti Korupsi, Ini Pertimbangan Hakim PN Medan Bebaskan Videografer Amsal Sitepu
Tak Terbukti Korupsi, Ini Pertimbangan Hakim PN Medan Bebaskan Videografer Amsal Sitepu
Medan
Divonis Bebas, Amsal Sitepu: Terima Kasih Bapak Presiden Prabowo...
Divonis Bebas, Amsal Sitepu: Terima Kasih Bapak Presiden Prabowo...
Medan
Dinyatakan Bebas dari Kasus Korupsi Video Profil Desa, Amsal Sitepu: Ini Air Mata Kemenangan
Dinyatakan Bebas dari Kasus Korupsi Video Profil Desa, Amsal Sitepu: Ini Air Mata Kemenangan
Medan
Tangis Videografer Amsal Sitepu Pecah Usai Divonis Bebas, Tak Terbukti Korupsi Video Profil Desa
Tangis Videografer Amsal Sitepu Pecah Usai Divonis Bebas, Tak Terbukti Korupsi Video Profil Desa
Medan
Puting Beliung Terjang Deli Serdang, 100 Rumah Rusak di 4 Kecamatan
Puting Beliung Terjang Deli Serdang, 100 Rumah Rusak di 4 Kecamatan
Medan
Hakim PN Medan Vonis Bebas Videografer Amsal Sitepu di Kasus Dugaan Korupsi Video Profil Desa
Hakim PN Medan Vonis Bebas Videografer Amsal Sitepu di Kasus Dugaan Korupsi Video Profil Desa
Medan
Terbongkarnya Sindikat Jual-beli Bayi Saat Transaksi di Pintu Tol Marelan, 6 Orang Ditangkap
Terbongkarnya Sindikat Jual-beli Bayi Saat Transaksi di Pintu Tol Marelan, 6 Orang Ditangkap
Medan
Kajari dan Kasi Pidsus Karo Diperiksa Terkait Kasus Videografer Amsal Sitepu
Kajari dan Kasi Pidsus Karo Diperiksa Terkait Kasus Videografer Amsal Sitepu
Medan
Link Live Streaming Sidang Vonis Kasus Dugaan Korupsi Videografer Amsal Sitepu Hari Ini di PN Medan
Link Live Streaming Sidang Vonis Kasus Dugaan Korupsi Videografer Amsal Sitepu Hari Ini di PN Medan
Medan
Topan Ginting, Eks Kadis PUPR Sumut Jalani Sidang Vonis Kasus Korupsi Jalan
Topan Ginting, Eks Kadis PUPR Sumut Jalani Sidang Vonis Kasus Korupsi Jalan
Medan
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau