SURABAYA, KOMPAS.com - Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melakukan mitigasi potensi bencana kekeringan saat musim kemarau.
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Kelas 1 Juanda memprakirakan puncak musim kemarau terjadi pada Mei hingga Agustus 2026.
Tetapi, di beberapa titik di Jawa Timur saat ini masih terpantau terjadi banjir seperti Kabupaten Pasuruan. Oleh sebab itu, Pemprov Jatim akan bersiap menghadapi fase pancaroba.
“Dari BMKG itu ada kemungkinan April ini beberapa daerah sudah mulai kekeringan. Bahkan juga hari ini di Tuban juga ada daerah yang mengalami kekeringan,” kata Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa saat ditemui Jumat (27/3/2026).
Baca juga: BNPB Antisipasi Hadapi Bencana Kekeringan dan Kebakaran di Jatim
Puncak kemarau diprediksi terjadi hingga Agustus 2026 nanti. Sementara, pada September, para petani di Jawa Timur akan memasuki musim tanam.
“September ini musim tanam. Kita berharap bahwa IP Indeks Pertanaman Jawa Timur 2,7. Tapi ada daerah yang 3,5 seperti Ngawi,” katanya.
Jawa Timur dikenal sebagai salah satu Lumbung Pangan Nasional. Khofifah berharap produksi padi dan beras di Jatim untuk menyuplai daerah-daerah lainnya tetap dapat terpenuhi. Sehingga, produksinya harus dijaga dari cuaca.
“Kalau untuk jagung, untuk daging sapi, daging ayam, telur. Kita insya Allah tetap pada posisi yang sangat optimis. Tapi kalau untuk tanam padi karena ini ada kaitan dengan suplai air,” ucapnya.
Baca juga: Jelang Kemarau 2026, Ini Peta Risiko Potensi Bencana Kekeringan Seluruh Daerah di Kalteng
Pemprov Jatim dan BNPB akan menyiapkan sumur-sumur dalam untuk bisa melakukan irigasi di sawah-sawah agar musim tanam untuk komoditas padi bisa berjalan dan para petani tidak mengalami kendala signifikan.
“Supaya indeks pertanaman kita itu tidak turun. Itu menjadi penting karena ketahanan pangan ini menjadi kebutuhan nasional. BNPB punya peta yang sangat komprehensif. Itu akan menjadi panduan bagi Pemprov Jawa Timur untuk melakukan plan of action secara detail dan terukur,” ucapnya.
Terpisah, Kepala BNPB, Letjend Suharyanto mendapat perintah dari Presiden Prabowo Subianto untuk mengantisipasi adanya bencana hidrometeorologi ke seluruh wilayah, termasuk Jawa Timur.
“Kemudian untuk mengatasi kekurangan air ada bantuan-bantuan pembuatan sumur mengalirkan air dari puncak-puncak atau sumber-sumber air yang jauh ya ini juga akan dilakukan,” kata Suharyanto.
Baca juga: Kemarau Diprediksi Mei, BPBD Kalteng Petakan Daerah Rawan Kekeringan
BNPB juga akan melakukan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) bila diperlukan untuk mengatasi kekeringan dengan mengisi embung-embung di sejumlah titik di Jawa Timur.
“Bahkan tadi sambil bercanda tapi ini bukan bercanda saja tapi itulah realitanya adalah mengisi kolam-kolam renang karena di satu titik jadi kebakaran sumber airnya juga bisa diambil dari kolam renang,” katanya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang