Penulis
JAKARTA, KOMPAS.com - Perubahan lanskap ekonomi digital telah menciptakan dinamika baru dalam perilaku konsumsi generasi muda.
Dua kelompok generasi yang kini mendominasi aktivitas ekonomi global, yakni Gen Z dan milenial, memiliki karakteristik yang berbeda dalam membelanjakan uang, mengelola utang, hingga memanfaatkan instrumen keuangan modern.
Perdebatan tentang generasi mana yang lebih bijak dalam mengelola keuangan semakin relevan seiring meningkatnya daya beli kedua kelompok ini.
Baca juga: Belajar dari Warren Buffett: 5 Pelajaran Uang yang Relevan untuk Gen Z
Ilustrasi Gen Z Gen Z mulai memasuki usia produktif dan memperoleh pendapatan sendiri, sementara milenial berada pada fase kehidupan yang lebih matang, seperti membeli rumah, mobil, atau membangun keluarga.
Perbedaan tahap kehidupan ini memengaruhi prioritas finansial, cara membelanjakan uang, serta sikap terhadap investasi dan utang.
Gen Z kini menjadi kekuatan ekonomi baru yang semakin diperhitungkan oleh pelaku industri global. Berbagai perusahaan bahkan secara khusus merancang produk, aplikasi, dan strategi pemasaran yang menargetkan generasi ini.
Dikutip dari The Financial Express, Senin (16/2/2026), sekitar 44 persen Gen Z secara global melakukan pembelian melalui media sosial, dengan total daya beli mencapai 360 miliar dollar AS atau setara sekitar Rp 6.054 triliun (asumsi kurs Rp 16.819 per dollar AS).
Baca juga: Gen Z dan Milenial Enggan Jadi Bos: Ancaman Krisis Kepemimpinan?
Jumlah tersebut mencerminkan besarnya pengaruh Gen Z terhadap ekonomi digital global, terutama melalui platform e-commerce dan media sosial.
Tidak hanya itu, proyeksi jangka panjang menunjukkan potensi yang jauh lebih besar. Total belanja Gen Z secara global diperkirakan mencapai 12 triliun dollar AS atau setara sekitar Rp 201.828 triliun pada 2030.
Ilustrasi Gen Z, Gen Z mengakses pinjaman online/pinjol. Angka ini menegaskan Gen Z akan menjadi salah satu kelompok konsumen paling dominan dalam dekade mendatang.
Selain itu, Gen Z diperkirakan akan mewakili sekitar 17 persen dari total belanja ritel global pada dekade berikutnya, menurut laporan Afterpay.
Baca juga: Gen Z Sulit Gapai Financial Freedom, Penyebabnya Ternyata Gaji
Perkembangan teknologi digital menjadi faktor utama yang membedakan perilaku keuangan Gen Z dan milenial.
Gen Z tumbuh sepenuhnya di era internet dan smartphone, sehingga sangat terbiasa dengan transaksi digital. Platform pembayaran digital, e-commerce, dan media sosial menjadi bagian integral dari kehidupan sehari-hari mereka.
Generasi ini hidup melalui perangkat digital dan tidak memiliki kesenjangan digital seperti generasi sebelumnya.
Kemudahan akses teknologi ini membuat proses belanja menjadi lebih cepat, mudah, dan sering kali impulsif.
Baca juga: Bukan Soal Gaji Besar: Strategi Kaya ala Robert Kiyosaki untuk Gen Z
Sebagai contoh, layanan Buy Now Pay Later (BNPL) atau paylater menjadi sangat populer di kalangan Gen Z. Menurut laporan GWI, Gen Z sangat bergantung pada layanan BNPL untuk membiayai pembelian mereka.
Skema ini memungkinkan konsumen membeli barang tanpa membayar penuh di awal, tetapi dengan cicilan bulanan.
Fleksibilitas pembayaran ini memudahkan Gen Z untuk mengakses berbagai produk, termasuk barang premium, meskipun pendapatan mereka belum stabil.
Meskipun Gen Z memiliki daya beli yang besar, penelitian menunjukkan bahwa mereka cenderung melakukan pembelian impulsif lebih sering dibandingkan milenial.
Ilustrasi gen Z dan milenialBaca juga: Gen Z Cenderung Paling Kurang Bahagia di Tempat Kerja
Hampir 90 persen Gen Z dan milenial melakukan pembelian impulsif secara online, tetapi Gen Z melakukannya lebih sering, terutama untuk barang dengan harga lebih rendah. Hal ini berkaitan dengan karakteristik pendapatan Gen Z yang masih relatif tidak stabil.