JAKARTA, KOMPAS.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan koreksi tipis sebesar 0,14 persen pada pekan lalu yang hanya berlangsung tiga hari perdagangan, usai libur panjang Idul Fitri.
Pergerakan indeks yang relatif terbatas tersebut terjadi di tengah tekanan jual investor asing yang cukup signifikan.
Berdasarkan Bursa Efek Indonesia (BEI), arus keluar dana asing (outflow) tercatat mencapai Rp 3,8 triliun. Kondisi ini mengindikasikan bahwa sentimen global masih menjadi faktor dominan dalam menentukan arah pergerakan pasar saham domestik.
Ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran yang masih berada dalam kondisi deadlock turut memicu kekhawatiran global, terutama terkait potensi gangguan pasokan energi di Selat Hormuz. Situasi ini mendorong harga minyak mentah naik hingga di atas 100 dollar AS per barrel.
Baca juga: Prediksi IHSG Pekan Ini: Volatilitas Tinggi, Sektor Energi Jadi Penyelamat?
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Imam Gunadi, menjelaskan lonjakan harga minyak tersebut memicu efek domino terhadap komoditas energi lainnya, termasuk batu bara yang menembus level 140 dollar AS per ton.
Menurutnya, kenaikan itu didorong oleh pergeseran konsumsi global, di mana negara-negara seperti Jepang mulai beralih ke batu bara sebagai alternatif energi domestik yang lebih stabil.
Di sektor agrikultur, sentimen positif menyertai harga CPO Malaysia yang bertahan di level MYR 4.600 per ton, didukung oleh lonjakan ekspor dan meningkatnya daya tarik biofuel seiring reli harga minyak mentah.
Di sisi domestik, percepatan program B50 di Indonesia menjadi katalis kuat bagi sektor ini. Namun, pasar tetap mencermati risiko penurunan permintaan dari India serta perlambatan data ekonomi China yang dapat memengaruhi prospek komoditas ini ke depan.
Baca juga: IHSG Dibuka Melemah Pagi Ini, Tekanan Jual Dominasi Pasar
Bagi pasar modal Indonesia, dinamika ini membawa implikasi kompleks berupa tekanan pada nilai tukar Rupiah dan capital outflow yang memicu aksi ambil untung oleh investor asing. Meski demikian, terdapat peluang pada emiten sektor energi (batu bara dan migas) serta CPO yang menjadi penerima manfaat utama dari kenaikan harga komoditas global.
Selain itu, emiten berbasis ekspor lainnya diuntungkan oleh pelemahan Rupiah yang meningkatkan daya saing mereka di pasar internasional.
Secara keseluruhan, pasar saat ini berada dalam fase wait and see, dengan fokus utama pada perkembangan negosiasi geopolitik dan arah harga energi global. Selama deadlock antara Amerika Serikat dan Iran belum menemukan titik temu, volatilitas diperkirakan akan tetap tinggi. Dengan demikian, pergerakan IHSG berpotensi cenderung sideways di rentang 6745-7323.