Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Prediksi IHSG Pekan Ini: Volatilitas Tinggi, Sektor Energi Jadi Penyelamat?

Kompas.com, 30 Maret 2026, 10:19 WIB
Suparjo Ramalan ,
Sakina Rakhma Diah Setiawan

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan masih akan tertekan pada awal pekan atau Senin (30/3/2026), setelah indeks ditutup melemah 0,94 persen ke level 7.097,057 pada Jumat kemarin.

Pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, mengatakan jika konflik di Timur Tengah kembali memanas dan harga minyak naik, maka IHSG berpotensi kembali menguji support psikologis di level 7.000 dan resistance-nya di posisi 7.200.

“Secara keseluruhan IHSG masih berpotensi bergerak volatil dan cenderung sideways dengan kecenderungan melemah selama ketidakpastian global masih tinggi,” ujar Hendra saat dihubungi Kompas.com, Minggu (29/3/2026).

Baca juga: IHSG Dibuka Melemah Pagi Ini, Tekanan Jual Dominasi Pasar

Ilustrasi pasar saham.PIXABAY/PETE LINFORTH Ilustrasi pasar saham.

Pelemahan IHSG pada penutupan akhir pekan lalu menunjukkan pasar saham masih berada dalam fase ketidakpastian global yang tinggi.

Ia mencatat memanasnya konflik Timur Tengah serta kebijakan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang kembali meningkatkan tensi geopolitik membuat pasar keuangan global diliputi ketidakpastian.

Meskipun sempat menunda serangan terhadap fasilitas energi Iran selama sepuluh hari, pasar tetap khawatir konflik akan meluas menjadi konflik darat dan mengganggu jalur distribusi energi dunia.

Di sisi lain, aksi demonstrasi besar bertajuk “No Kings” di berbagai kota di Amerika Serikat juga menunjukkan meningkatnya ketidakpastian politik domestik di AS.

Baca juga: IHSG Melemah Tipis ke 7.097, Asing Masih Gencar Net Sell Rp 30,88 Triliun

Kombinasi antara risiko geopolitik dan ketidakpastian politik inilah yang membuat bursa saham global, termasuk IHSG, mengalami tekanan.

Kondisi tersebut diperparah dengan kenaikan harga minyak dunia yang kembali mendekati angka 100 dollar AS per barrel.

Ilustrasi IHSGANTARA FOTO/GALIH PRADIPTA Ilustrasi IHSG

Kenaikan harga minyak memicu kekhawatiran inflasi global kembali naik, sehingga pasar mulai memperkirakan bahwa suku bunga global akan bertahan tinggi lebih lama atau higher for longer.

“Ketika suku bunga tinggi bertahan lebih lama, maka aliran dana global cenderung masuk ke obligasi dan keluar dari pasar saham, sehingga wajar jika IHSG dan bursa global cenderung bergerak melemah dan volatil dalam jangka pendek,” paparnya.

Baca juga: IHSG Ditutup Melemah 0,94 Persen ke 7.097, Mayoritas Saham di Zona Merah

Namun di tengah tekanan IHSG, sektor energi justru menjadi sektor yang paling kuat.

Hal ini menunjukkan bahwa terjadi rotasi sektor di pasar, di mana investor mulai mengalihkan dana ke saham berbasis komoditas seperti energi, batu bara, dan logam.

Hendra memandang dalam situasi perang atau konflik geopolitik, harga komoditas energi biasanya naik karena adanya kekhawatiran gangguan pasokan, sehingga perusahaan energi justru diuntungkan.

Oleh karena itu, saham berbasis komoditas berpotensi menjadi leader pasar dalam jangka pendek di tengah kondisi pasar yang tidak pasti.

Baca juga: IHSG Dibuka Melemah 0,22 Persen ke 7.148 pada Jumat Pagi

Halaman:


Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau