Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Gejolak Timur Tengah: Minyak Brent dan WTI Menguat, Jalur Pelayaran Terancam

Kompas.com, 30 Maret 2026, 10:36 WIB
Yohana Artha Uly,
Sakina Rakhma Diah Setiawan

Tim Redaksi

Sumber Reuters

NEW YORK, KOMPAS.com - Harga minyak dunia kembali menguat pada perdagangan Senin (30/3/2026), dengan minyak mentah Brent menuju lonjakan bulanan terbesar sepanjang sejarah, seiring meluasnya konflik di Timur Tengah.

Mengutip Reuters, harga minyak mentah Brent naik 3,09 dollar AS atau 2,74 persen menjadi 115,66 dollar AS per barrel pada 06:53 WIB, setelah ditutup menguat 4,2 persen pada perdagangan Jumat pekan lalu.

Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik 2,92 dollar AS atau 2,93 persen ke level 102,56 dollar AS per barrel, setelah pada perdagangan akhir pekan lalu ditutup naik 5,5 persen.

Baca juga: Harga Minyak Naik saat Konflik Iran Meluas dan Houthi Serang Israel

Ilustrasi harga minyak mentah. SHUTTERSTOCK/GAS-PHOTO Ilustrasi harga minyak mentah.

Secara bulanan, harga Brent telah melonjak hingga 59 persen, melampaui kenaikan saat Perang Teluk 1990.

Lonjakan ini dipicu oleh konflik Iran yang secara efektif menutup Selat Hormuz, jalur penting bagi sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia.

Konflik yang dimulai pada 28 Februari 2026 melalui serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel ke Iran kini meluas ke berbagai wilayah di Timur Tengah.

Kelompok Houthi di Yaman yang bersekutu dengan Iran bahkan melancarkan serangan pertama ke Israel pada akhir pekan lalu.

Baca juga: Trump Buka Opsi Ambil Alih Minyak Iran, Ketegangan Timur Tengah Memanas

Aksi tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap keamanan jalur pelayaran di sekitar Semenanjung Arab dan Laut Merah.

"Konflik ini tidak lagi terpusat di Teluk Persia dan sekitar Selat Hormuz, tetapi kini meluas ke Laut Merah dan Bab el-Mandeb, salah satu titik sempit paling krusial di dunia untuk aliran minyak mentah dan produk olahan," tulis Analis JP Morgan yang dipimpin Natasha Kaneva.

Data dari perusahaan analitik Kpler menunjukkan, ekspor minyak Arab Saudi yang dialihkan dari Selat Hormuz ke pelabuhan Yanbu di Laut Merah mencapai 4,658 juta barrel per hari pada pekan lalu.

Ilustrasi harga minyak dunia.GETTY IMAGES via BBC INDONESIA Ilustrasi harga minyak dunia.

Namun, analis JP Morgan memperingatkan, jika ekspor dari Yanbu terganggu, maka pasokan minyak Saudi harus dialihkan melalui pipa Suez-Mediterranean (SUMED) menuju Laut Mediterania.

Baca juga: Harga Minyak Berpotensi Tembus 125 Dollar AS, Analis Prediksi Lonjakan Tajam Pekan Depan

Di sisi lain, eskalasi serangan juga terjadi selama akhir pekan dan bahkan merusak terminal Salalah di Oman, meskipun upaya pembicaraan gencatan senjata mulai diinisiasi.

Iran menyatakan siap merespons jika terjadi serangan darat oleh AS.

Teheran juga menuduh Washington tengah mempersiapkan operasi militer darat, meskipun di saat yang sama masih membuka jalur negosiasi.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Pakistan Ishaq Dar mengatakan, pihaknya telah membahas berbagai kemungkinan untuk mengakhiri perang secara cepat dan permanen, termasuk peluang pembicaraan antara AS dan Iran di Islamabad.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Petrokimia Gresik Perkuat Pasokan Sulfur di Tengah Gejolak Global
Petrokimia Gresik Perkuat Pasokan Sulfur di Tengah Gejolak Global
Industri
Proyek Tambak Udang Rp 7,2 Triliun di NTT Dikebut, Sebagian Mulai Beroperasi Tahun Depan
Proyek Tambak Udang Rp 7,2 Triliun di NTT Dikebut, Sebagian Mulai Beroperasi Tahun Depan
Ekbis
Rupiah Menguat ke Rp 16.979, Pasar Cermati Sinyal Reda Konflik Timur Tengah
Rupiah Menguat ke Rp 16.979, Pasar Cermati Sinyal Reda Konflik Timur Tengah
Ekbis
Tambak Udang Sumba Diproyeksi Serap 8.820 Tenaga Kerja, Bidik Devisa Rp 4,5 Triliun per Tahun
Tambak Udang Sumba Diproyeksi Serap 8.820 Tenaga Kerja, Bidik Devisa Rp 4,5 Triliun per Tahun
Ekbis
Proyek Tambak Udang Rp 7,2 Triliun di Sumba Dibiayai Pinjaman Asing
Proyek Tambak Udang Rp 7,2 Triliun di Sumba Dibiayai Pinjaman Asing
Ekbis
Menaker Akan Evaluasi Imbauan WFH Swasta, BUMN, dan BUMD dalam 2 Bulan
Menaker Akan Evaluasi Imbauan WFH Swasta, BUMN, dan BUMD dalam 2 Bulan
Ekbis
Stok BBM Indonesia Aman, Pertamina: Cadangan Dalam Kondisi Cukup
Stok BBM Indonesia Aman, Pertamina: Cadangan Dalam Kondisi Cukup
Ekbis
Jamkrindo Syariah Bukukan Laba Bersih Rp 141,03 Miliar pada 2025
Jamkrindo Syariah Bukukan Laba Bersih Rp 141,03 Miliar pada 2025
Syariah
Danamon (BDMN) Setor Dividen Rp 142,19 per Saham, Total Rp 1,4 Triliun dari Laba 2025
Danamon (BDMN) Setor Dividen Rp 142,19 per Saham, Total Rp 1,4 Triliun dari Laba 2025
Ekbis
Wisman Tumbuh Dua Digit, Turis China Melonjak Tajam pada Februari 2026
Wisman Tumbuh Dua Digit, Turis China Melonjak Tajam pada Februari 2026
Ekbis
Tambak Udang KKP di Waingapu Ditargetkan Produksi 52.000 Ton per Tahun
Tambak Udang KKP di Waingapu Ditargetkan Produksi 52.000 Ton per Tahun
Ekbis
Efisiensi MBG: Demi Keadilan Gizi dan Tanggung Jawab Fiskal
Efisiensi MBG: Demi Keadilan Gizi dan Tanggung Jawab Fiskal
Ekbis
WFH 1 Hari per Pekan, Hak Pekerja Wajib Tetap Dibayar Penuh
WFH 1 Hari per Pekan, Hak Pekerja Wajib Tetap Dibayar Penuh
Ekbis
Diskon Tarif Listrik Rp 10.000 Via PLN Mobile, Cek Cara Mendapatkannya
Diskon Tarif Listrik Rp 10.000 Via PLN Mobile, Cek Cara Mendapatkannya
Ekbis
Empat Hari Kerja, Tujuh Hari Berpikir: ASN Bekerja atau Sekadar Hadir?
Empat Hari Kerja, Tujuh Hari Berpikir: ASN Bekerja atau Sekadar Hadir?
Ekbis
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau