NEW YORK, KOMPAS.com - Harga minyak dunia kembali menguat pada perdagangan Senin (30/3/2026), dengan minyak mentah Brent menuju lonjakan bulanan terbesar sepanjang sejarah, seiring meluasnya konflik di Timur Tengah.
Mengutip Reuters, harga minyak mentah Brent naik 3,09 dollar AS atau 2,74 persen menjadi 115,66 dollar AS per barrel pada 06:53 WIB, setelah ditutup menguat 4,2 persen pada perdagangan Jumat pekan lalu.
Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik 2,92 dollar AS atau 2,93 persen ke level 102,56 dollar AS per barrel, setelah pada perdagangan akhir pekan lalu ditutup naik 5,5 persen.
Baca juga: Harga Minyak Naik saat Konflik Iran Meluas dan Houthi Serang Israel
Ilustrasi harga minyak mentah. Secara bulanan, harga Brent telah melonjak hingga 59 persen, melampaui kenaikan saat Perang Teluk 1990.
Lonjakan ini dipicu oleh konflik Iran yang secara efektif menutup Selat Hormuz, jalur penting bagi sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia.
Konflik yang dimulai pada 28 Februari 2026 melalui serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel ke Iran kini meluas ke berbagai wilayah di Timur Tengah.
Kelompok Houthi di Yaman yang bersekutu dengan Iran bahkan melancarkan serangan pertama ke Israel pada akhir pekan lalu.
Baca juga: Trump Buka Opsi Ambil Alih Minyak Iran, Ketegangan Timur Tengah Memanas
Aksi tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap keamanan jalur pelayaran di sekitar Semenanjung Arab dan Laut Merah.
"Konflik ini tidak lagi terpusat di Teluk Persia dan sekitar Selat Hormuz, tetapi kini meluas ke Laut Merah dan Bab el-Mandeb, salah satu titik sempit paling krusial di dunia untuk aliran minyak mentah dan produk olahan," tulis Analis JP Morgan yang dipimpin Natasha Kaneva.
Data dari perusahaan analitik Kpler menunjukkan, ekspor minyak Arab Saudi yang dialihkan dari Selat Hormuz ke pelabuhan Yanbu di Laut Merah mencapai 4,658 juta barrel per hari pada pekan lalu.
Ilustrasi harga minyak dunia.Namun, analis JP Morgan memperingatkan, jika ekspor dari Yanbu terganggu, maka pasokan minyak Saudi harus dialihkan melalui pipa Suez-Mediterranean (SUMED) menuju Laut Mediterania.
Baca juga: Harga Minyak Berpotensi Tembus 125 Dollar AS, Analis Prediksi Lonjakan Tajam Pekan Depan
Di sisi lain, eskalasi serangan juga terjadi selama akhir pekan dan bahkan merusak terminal Salalah di Oman, meskipun upaya pembicaraan gencatan senjata mulai diinisiasi.
Iran menyatakan siap merespons jika terjadi serangan darat oleh AS.
Teheran juga menuduh Washington tengah mempersiapkan operasi militer darat, meskipun di saat yang sama masih membuka jalur negosiasi.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Pakistan Ishaq Dar mengatakan, pihaknya telah membahas berbagai kemungkinan untuk mengakhiri perang secara cepat dan permanen, termasuk peluang pembicaraan antara AS dan Iran di Islamabad.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang