Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Studi PwC: Gen Z Tekan Belanja, Tapi Tuntut Nilai Lebih

Kompas.com, 30 Maret 2026, 09:19 WIB
Sakina Rakhma Diah Setiawan

Penulis

JAKARTA, KOMPAS.com – Generasi Z (Gen Z) semakin menunjukkan pengaruh besar dalam membentuk pola konsumsi global.

Namun, berbeda dengan generasi sebelumnya, kelompok ini memperlihatkan perilaku unik: cenderung menekan pengeluaran, tetapi tetap memiliki ekspektasi tinggi terhadap nilai suatu produk.

Laporan PricewaterhouseCoopers (PwC) bertajuk “The Gen Z paradox: Spending less, expecting more” menyoroti bahwa konsumen Gen Z tidak sekadar berbelanja lebih hemat, melainkan lebih selektif dalam menentukan apa yang layak dibeli.

Baca juga: Gen Z Prioritaskan Self-Reward, Konsep Kemewahan Bergeser ke Belanja Kecil

Ilustrasi Gen Z.Dok. Freepik/Freepik Ilustrasi Gen Z.

Dalam laporan tersebut, PwC mencatat bahwa lebih dari 79 persen Gen Z memilih menunggu diskon sebelum membeli produk.

Sebaliknya, hanya sekitar 21 persen yang secara rutin membayar harga penuh.

Fenomena ini menunjukkan adanya pergeseran perilaku konsumsi, dari sekadar berburu harga murah menjadi pendekatan yang lebih terencana dan berbasis nilai.

Tidak sekadar murah, tapi “bernilai”

PwC menegaskan, orientasi Gen Z bukan semata-mata pada harga, melainkan pada nilai yang dirasakan dari suatu produk.

Baca juga: Survei: Karier Fleksibel dan Keseimbangan Hidup Jadi Prioritas Gen Z

“Mereka sadar akan nilai, dengan penekanan pada nilai emosional dan sosial, bukan hanya diskon," jelas PwC dalam laporannya.

Artinya, keputusan pembelian Gen Z dipengaruhi oleh faktor emosional, sosial, hingga relevansi produk dengan identitas diri mereka. Harga tetap penting, tetapi bukan satu-satunya pertimbangan.

Pencarian diskon pun mengalami peningkatan signifikan. PwC mencatat aktivitas pencarian kode promo naik 14 persen, sementara aktivitas browsing meningkat 17 persen.

Ilustrasi Gen ZFREEPIK/FREEPIK Ilustrasi Gen Z

Namun, peningkatan ini tidak sepenuhnya mencerminkan perilaku hemat dalam arti tradisional. PwC menyebutnya sebagai bentuk “intentionality” atau kesengajaan dalam berbelanja.

Baca juga: WEF Ungkap Tren Investasi Gen Z, Lebih Cepat dan Lebih Berani Risiko

Paradoks: mengurangi belanja, meningkatkan ekspektasi

Konsep utama yang diangkat PwC adalah paradoks Gen Z, yakni mengurangi pengeluaran, tetapi menuntut lebih banyak dari produk maupun brand.

Di satu sisi, Gen Z cenderung menahan belanja dan mencari alternatif yang lebih terjangkau, seperti produk secondhand atau rental.

Di sisi lain, mereka tetap mengharapkan kualitas tinggi, pengalaman yang baik, serta nilai yang relevan secara personal.

PwC melihat fenomena ini sebagai tantangan bagi pelaku industri ritel. Konsumen tidak lagi hanya membandingkan harga, tetapi juga mempertimbangkan pengalaman, keaslian brand, serta nilai sosial yang ditawarkan.

Baca juga: Gen Z dan Milenial Hadapi Tekanan Finansial, Perencanaan Jadi Kunci

Halaman:


Terkini Lainnya
Bank QNB Indonesia Catat Lonjakan Kredit 18 Persen, NPL Turun 2,2 Persen
Bank QNB Indonesia Catat Lonjakan Kredit 18 Persen, NPL Turun 2,2 Persen
Ekbis
Dari Buka Puasa hingga Mudik, BSI Maslahat Jangkau 145 Ribu Penerima
Dari Buka Puasa hingga Mudik, BSI Maslahat Jangkau 145 Ribu Penerima
Ekbis
RI dan Korsel Sepakati 10 Kerja Sama Strategis, Fokus Mineral hingga AI
RI dan Korsel Sepakati 10 Kerja Sama Strategis, Fokus Mineral hingga AI
Ekbis
RI Antisipasi Krisis Bahan Baku Plastik, Bidik India hingga Afrika
RI Antisipasi Krisis Bahan Baku Plastik, Bidik India hingga Afrika
Ekbis
Penjualan Turun, Laba Tahun Berjalan 2025 Indocement (INTP) Justru Naik 12 Persen
Penjualan Turun, Laba Tahun Berjalan 2025 Indocement (INTP) Justru Naik 12 Persen
Ekbis
Pakai Lahan KAI dan Angkasa Pura, Pemerintah Bangun 800 Hunian di Pusat Jakarta
Pakai Lahan KAI dan Angkasa Pura, Pemerintah Bangun 800 Hunian di Pusat Jakarta
Ekbis
Indonesia Masuk Bisnis Leasing Pesawat Global, Danantara Luncurkan Platform Baru
Indonesia Masuk Bisnis Leasing Pesawat Global, Danantara Luncurkan Platform Baru
Ekbis
Merdeka Copper Gold (MDKA) Cetak Pendapatan Rp 32,06 Triliun, Turun 15,62 Persen Per 2025
Merdeka Copper Gold (MDKA) Cetak Pendapatan Rp 32,06 Triliun, Turun 15,62 Persen Per 2025
Ekbis
Strategi Kemenperin Genjot Transformasi Industri Nasional
Strategi Kemenperin Genjot Transformasi Industri Nasional
Ekbis
Pelaporan SPT 2025 Capai 10,53 Juta, Didominasi Karyawan
Pelaporan SPT 2025 Capai 10,53 Juta, Didominasi Karyawan
Ekbis
Efek Berganda Industri Hulu Migas bagi Masyarakat, Mulai dari Pajak hingga Dana Bagi Hasil
Efek Berganda Industri Hulu Migas bagi Masyarakat, Mulai dari Pajak hingga Dana Bagi Hasil
Ekbis
Update Harga iPhone 16, iPhone 17, dan 17 Pro Max Per 1 April 2026
Update Harga iPhone 16, iPhone 17, dan 17 Pro Max Per 1 April 2026
Ekbis
Kemenaker Imbau WFH, Sektor Kesehatan hingga Keuangan Tetap WFO
Kemenaker Imbau WFH, Sektor Kesehatan hingga Keuangan Tetap WFO
Ekbis
Purbaya: Kalau Kepepet, Pemerintah Punya SAL Rp 420 Triliun untuk Jaga APBN
Purbaya: Kalau Kepepet, Pemerintah Punya SAL Rp 420 Triliun untuk Jaga APBN
Ekbis
Harga Avtur Naik hingga 80 Persen, Tarif Tiket Pesawat Terancam Melonjak
Harga Avtur Naik hingga 80 Persen, Tarif Tiket Pesawat Terancam Melonjak
Ekbis
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau