Penulis
JAKARTA, KOMPAS.com – Gen Z kembali menjadi sorotan dalam dinamika dunia kerja. Di tengah stereotip soal etos kerja, generasi ini justru tercatat sebagai kelompok usia yang paling banyak merasa kesepian di tempat kerja.
Laporan terbaru dari platform teknologi layanan konsumsi kantor, ezCater, menunjukkan sekitar 38 persen pekerja Gen Z mengaku merasa kesepian saat bekerja. Angka ini lebih tinggi dibandingkan kelompok usia lainnya.
Temuan tersebut memperlihatkan adanya tantangan sosial di lingkungan kerja modern, khususnya bagi generasi yang kini berusia 18 hingga 28 tahun.
Baca juga: Survei Global: Gen Z dan Milenial Terjebak Overwork, 4 dari 10 Mengaku Stres
Ilustrasi kesepian. Dari sejumlah daftar kementerian unik di seluruh dunia, ada Kementerian Kesepian di Inggris.Survei dilakukan terhadap 1.000 karyawan dan menyoroti relasi sosial sebagai salah satu faktor penting dalam keterlibatan (engagement) karyawan.
Dikutip dari Newsweek, Minggu (22/2/2026), dalam laporan itu, sebanyak 80 persen responden menyatakan memiliki teman di tempat kerja membuat mereka merasa lebih terlibat.
Namun, hanya 43 persen karyawan yang bekerja secara jarak jauh (remote) yang memiliki teman dekat di kantor.
Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan pekerja on-site dan hybrid, di mana 69 persen di antaranya mengaku memiliki teman dekat di tempat kerja.
Baca juga: Survei Deloitte: Biaya Hidup Jadi Sumber Stres Finansial Gen Z dan Milenial
Kondisi ini disebut semakin terasa di kalangan Gen Z. Sebanyak 38 persen pekerja dari generasi ini menyatakan merasa kesepian di tempat kerja, angka tertinggi dibandingkan kelompok usia lain dalam survei tersebut.
Ilustrasi Gen Z di tempat kerjaCEO 9i Capital Group sekaligus pengampu siniar 9innings, Kevin Thompson, menilai perubahan model kerja menjadi faktor yang tak bisa diabaikan.
“Dengan kerja jarak jauh dan kantor yang semakin sering kosong, tidak mengherankan jika banyak profesional muda merasa terisolasi,” ujar Thompson kepada Newsweek.
Ia menambahkan, dunia kerja modern masih dalam proses penyesuaian terhadap model hybrid dan remote. Ditambah lagi, fenomena perpindahan kerja (job hopping) yang lebih sering terjadi membuat relasi jangka panjang semakin sulit terbentuk.
Baca juga: Job Hopping Jadi Strategi Karier Milenial dan Gen Z, Bukan Sekadar Pindah Kerja
“Gen Z khususnya memiliki mobilitas yang lebih tinggi, baik secara profesional maupun geografis, sering kali tanpa jangkar tradisional seperti keluarga atau komitmen jangka panjang,” kata Thompson.
Konsultan sumber daya manusia, Bryan Driscoll, menilai realitas tempat kerja yang dihadapi Gen Z berbeda signifikan dibanding generasi sebelumnya.
“Generasi yang lebih tua memiliki mentor nyata, tatap muka, minum bersama setelah kerja. Gen Z mendapat undangan kalender dan 'sesuai e-mail saya sebelumnya',” kata Driscoll kepada Newsweek.
“Kita menyuruh mereka untuk bekerja keras, bersaing, dan tetap profesional, lalu kita terkejut mereka merasa terisolasi?” imbuhnya.
Baca juga: Survei Deloitte: Gen Z dan Milenial Ambisius, tapi Tak Lagi Fokus Jadi Bos