Penulis
JAKARTA, KOMPAS.com - Fenomena job hopping atau berpindah kerja dalam waktu relatif singkat semakin lazim di kalangan pekerja muda, khususnya generasi milenial dan Gen Z.
Jika sebelumnya perpindahan kerja kerap diasosiasikan dengan kurangnya loyalitas, kini tren tersebut justru mencerminkan perubahan mendasar dalam cara generasi muda memandang karier, stabilitas finansial, dan makna pekerjaan.
Laporan Deloitte Global 2025 Gen Z and Millennial Survey menunjukkan, mobilitas karier menjadi salah satu ciri utama dunia kerja modern.
Baca juga: Survei Deloitte: Sukses Karier bagi Gen Z dan Milenial Bukan Naik Jabatan
Ilustrasi Gen Z Survei yang melibatkan 23.482 responden dari 44 negara itu mencatat hampir sepertiga atau 31 persen Gen Z berencana mengganti pemberi kerja dalam dua tahun ke depan.
Sementara itu, 17 persen milenial juga menyatakan rencana serupa.
Perpindahan kerja ini terjadi di tengah perubahan besar dalam ekspektasi terhadap pekerjaan, kondisi ekonomi global, serta meningkatnya tekanan biaya hidup yang memengaruhi stabilitas finansial generasi muda.
Laporan Deloitte menegaskan, kecenderungan berpindah kerja di kalangan Gen Z dan milenial tidak semata-mata dipicu oleh kurangnya loyalitas.
Baca juga: Survei: Milenial dan Gen Z Stres di Tempat Kerja, Tekanan Finansial Pemicunya
Sebaliknya, banyak pekerja muda melihat job hopping sebagai strategi untuk mencapai stabilitas, keseimbangan hidup, dan peluang pengembangan diri.
“Fleksibilitas karier adalah ciri khas tenaga kerja modern,” tulis Deloitte dalam laporannya.
Survei tersebut juga menemukan perpindahan kerja biasanya didorong oleh beberapa faktor utama.
Ilustrasi karier, karier bagi pegawai milenial dan Gen Z. Di antaranya adalah kondisi pasar kerja dan ketersediaan peluang, keinginan memperoleh keseimbangan kerja dan kehidupan yang lebih baik, peningkatan kompensasi, fleksibilitas waktu kerja, serta peluang pengembangan karier.
Baca juga: 57 Persen Gen Z Pilih Side Hustle, Tak Lagi Kejar Jabatan Tinggi
Sebanyak 32 persen Gen Z dan 33 persen milenial menyebut kondisi pasar kerja sebagai alasan utama berpindah jalur karier atau pekerjaan.
Sementara itu, 28 persen Gen Z dan 26 persen milenial menyebut keseimbangan kerja dan kehidupan sebagai faktor penting.
Kompensasi yang lebih baik juga menjadi motivasi signifikan, disebut oleh 26 persen Gen Z dan 29 persen milenial.
Selain itu, fleksibilitas kerja, peluang pengembangan karier, hingga perubahan minat pribadi juga menjadi pendorong perpindahan kerja.
Baca juga: Conscious unbossing dan Krisis Regenerasi: Saat Gen Z Menolak Jadi Bos