Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Job Hopping Jadi Strategi Karier Milenial dan Gen Z, Bukan Sekadar Pindah Kerja

Kompas.com, 18 Februari 2026, 10:11 WIB
Sakina Rakhma Diah Setiawan

Penulis

JAKARTA, KOMPAS.com - Fenomena job hopping atau berpindah kerja dalam waktu relatif singkat semakin lazim di kalangan pekerja muda, khususnya generasi milenial dan Gen Z.

Jika sebelumnya perpindahan kerja kerap diasosiasikan dengan kurangnya loyalitas, kini tren tersebut justru mencerminkan perubahan mendasar dalam cara generasi muda memandang karier, stabilitas finansial, dan makna pekerjaan.

Laporan Deloitte Global 2025 Gen Z and Millennial Survey menunjukkan, mobilitas karier menjadi salah satu ciri utama dunia kerja modern.

Baca juga: Survei Deloitte: Sukses Karier bagi Gen Z dan Milenial Bukan Naik Jabatan

Ilustrasi Gen Z iStock Ilustrasi Gen Z

Survei yang melibatkan 23.482 responden dari 44 negara itu mencatat hampir sepertiga atau 31 persen Gen Z berencana mengganti pemberi kerja dalam dua tahun ke depan.

Sementara itu, 17 persen milenial juga menyatakan rencana serupa.

Perpindahan kerja ini terjadi di tengah perubahan besar dalam ekspektasi terhadap pekerjaan, kondisi ekonomi global, serta meningkatnya tekanan biaya hidup yang memengaruhi stabilitas finansial generasi muda.

Job hopping sebagai strategi, bukan tanda ketidaksetiaan

Laporan Deloitte menegaskan, kecenderungan berpindah kerja di kalangan Gen Z dan milenial tidak semata-mata dipicu oleh kurangnya loyalitas.

Baca juga: Survei: Milenial dan Gen Z Stres di Tempat Kerja, Tekanan Finansial Pemicunya

Sebaliknya, banyak pekerja muda melihat job hopping sebagai strategi untuk mencapai stabilitas, keseimbangan hidup, dan peluang pengembangan diri.

“Fleksibilitas karier adalah ciri khas tenaga kerja modern,” tulis Deloitte dalam laporannya.

Survei tersebut juga menemukan perpindahan kerja biasanya didorong oleh beberapa faktor utama.

Ilustrasi karier, karier bagi pegawai milenial dan Gen Z. FREEPIK/TIRACHARDZ Ilustrasi karier, karier bagi pegawai milenial dan Gen Z.

Di antaranya adalah kondisi pasar kerja dan ketersediaan peluang, keinginan memperoleh keseimbangan kerja dan kehidupan yang lebih baik, peningkatan kompensasi, fleksibilitas waktu kerja, serta peluang pengembangan karier.

Baca juga: 57 Persen Gen Z Pilih Side Hustle, Tak Lagi Kejar Jabatan Tinggi

Sebanyak 32 persen Gen Z dan 33 persen milenial menyebut kondisi pasar kerja sebagai alasan utama berpindah jalur karier atau pekerjaan.

Sementara itu, 28 persen Gen Z dan 26 persen milenial menyebut keseimbangan kerja dan kehidupan sebagai faktor penting.

Kompensasi yang lebih baik juga menjadi motivasi signifikan, disebut oleh 26 persen Gen Z dan 29 persen milenial.

Selain itu, fleksibilitas kerja, peluang pengembangan karier, hingga perubahan minat pribadi juga menjadi pendorong perpindahan kerja.

Baca juga: Conscious unbossing dan Krisis Regenerasi: Saat Gen Z Menolak Jadi Bos

Halaman:


Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau