Penulis
JAKARTA, KOMPAS.com - Perubahan mendasar sedang terjadi dalam cara generasi muda memandang karier.
Jika selama beberapa dekade kesuksesan profesional identik dengan naik jabatan hingga mencapai posisi manajerial atau eksekutif, kini semakin banyak pekerja muda yang menempuh jalur berbeda.
Alih-alih mengejar jabatan tinggi di perusahaan, Gen Z justru membangun berbagai sumber penghasilan secara paralel melalui side hustle atau pekerjaan sampingan.
Baca juga: Ekonomi Bandara Berubah: Gen Z dan Milenial Jadi Konsumen Utama Duty Free
Ilustrasi pekerja lepas. Data terbaru menunjukkan pergeseran ini bukan sekadar tren sementara, melainkan perubahan struktural dalam strategi ekonomi dan karier generasi muda, khususnya Generasi Z (Gen Z).
Fenomena ini berkaitan dengan faktor ekonomi, teknologi, hingga perubahan nilai dan persepsi terhadap stabilitas kerja.
"Kita telah mengganti jenjang karier yang kaku dengan pijakan karier, jalur di mana kita dapat melompat ke peluang apa pun yang paling sesuai saat ini," kata Morgan Sanner, pakar karier Gen Z di Glassdoor.
Bagi generasi ini, kesuksesan berarti menciptakan keseimbangan, keamanan, dan kendali atas pendakian karier yang lebih tinggi di dalam satu organisasi.
Baca juga: Conscious unbossing dan Krisis Regenerasi: Saat Gen Z Menolak Jadi Bos
Dikutip dari Forbes, Selasa (17/2/2026), survei terbaru yang dilakukan Harris Poll menunjukkan side hustle telah menjadi bagian penting dari strategi karier Gen Z.
Sebanyak 57 persen pekerja Gen Z memiliki pekerjaan sampingan, lebih tinggi dibandingkan generasi sebelumnya seperti milenial (48 persen), Gen X (31 persen), dan baby boomer (21 persen).
Angka ini menegaskan, bagi generasi muda, side hustle bukan sekadar aktivitas tambahan, tetapi telah menjadi komponen inti dari perencanaan karier mereka.
Ilustrasi Gen Z.Menurut laporan tersebut, bagi banyak pekerja Gen Z, side hustle tidak hanya berfungsi sebagai sumber pendapatan tambahan, tetapi juga sebagai sarana untuk memperoleh otonomi, kreativitas, dan ekspresi diri yang sering kali tidak tersedia dalam pekerjaan formal.
Baca juga: Tren Keuangan Gen Z dan Milenial: Dari Belanja Impulsif hingga Investasi
Fenomena ini menunjukkan perubahan cara generasi muda mendefinisikan ambisi.
Jika generasi sebelumnya memandang kesuksesan sebagai proses linear, dimulai dari posisi entry-level hingga akhirnya mencapai jabatan tinggi, Gen Z justru melihat kesuksesan sebagai proses membangun portofolio karier yang beragam.
Dalam banyak kasus, pekerjaan utama hanya berfungsi sebagai fondasi finansial untuk mendukung aktivitas sampingan yang lebih fleksibel dan sesuai minat mereka.
Perubahan cara pandang ini tercermin dalam ungkapan populer di kalangan Gen Z, yakni the 9-to-5 funds the 5-to-9, yang berarti pekerjaan utama digunakan untuk mendukung usaha atau proyek pribadi di luar jam kerja.
Baca juga: Belajar dari Warren Buffett: 5 Pelajaran Uang yang Relevan untuk Gen Z
Konsep ini menandai pergeseran signifikan dari paradigma lama yang mengandalkan loyalitas terhadap satu perusahaan sebagai jalan utama menuju stabilitas ekonomi.
Sebaliknya, Gen Z cenderung membangun berbagai sumber penghasilan secara bersamaan sebagai bentuk diversifikasi risiko dan peluang.
Sejumlah ekonom menyebut fenomena ini sebagai portfolio career, yakni pendekatan karier di mana seseorang menggabungkan pekerjaan tetap dengan aktivitas lain seperti freelance, konsultasi, bisnis kecil, atau produk digital.
Pendekatan ini memberi fleksibilitas sekaligus keamanan finansial yang tidak sepenuhnya bergantung pada satu pemberi kerja.
Baca juga: Bukan Soal Gaji Besar: Strategi Kaya ala Robert Kiyosaki untuk Gen Z
Ilustrasi bekerja.Salah satu faktor utama yang mendorong meningkatnya side hustle adalah ketidakpastian ekonomi dan perubahan teknologi, terutama perkembangan kecerdasan buatan (AI).