Penulis
Menurut Glassdoor, sekitar 70 persen pekerja Gen Z mengatakan AI membuat mereka mempertanyakan keamanan pekerjaan jangka panjang mereka.
Kekhawatiran ini bukan tanpa alasan. Otomatisasi berbasis AI telah mulai menggantikan atau mengubah berbagai jenis pekerjaan, mulai dari layanan pelanggan hingga analisis data dan produksi konten.
Ketidakpastian ini mendorong pekerja muda untuk mengembangkan sumber penghasilan alternatif sebagai strategi mitigasi risiko.
Baca juga: Gen Z Sulit Gapai Financial Freedom, Penyebabnya Ternyata Gaji
Dengan memiliki lebih dari satu sumber pendapatan, mereka tidak sepenuhnya bergantung pada satu pekerjaan yang dapat hilang akibat perubahan teknologi atau kondisi ekonomi.
Side hustle, dalam konteks ini, menjadi bagian dari strategi keamanan ekonomi pribadi.
Diversifikasi pendapatan semakin dipandang sebagai kebutuhan, bukan pilihan.
Sebagai gambaran, survei LendingTree menemukan, hampir 40 persen pekerja di Amerika Serikat memiliki side hustle, dan 61 persen di antaranya mengatakan kehidupan mereka akan sulit secara finansial tanpa pendapatan tambahan tersebut.
Baca juga: Gen Z dan Milenial Enggan Jadi Bos: Ancaman Krisis Kepemimpinan?
Survei yang sama menunjukkan, pekerja dengan side hustle memperoleh rata-rata tambahan pendapatan sebesar 1.215 dollar AS per bulan atau setara sekitar Rp 20,46 juta (asumsi kurs Rp 16.845 per dollar AS).
Selain itu, sekitar 31 persen pekerja bahkan mempertimbangkan untuk meninggalkan pekerjaan utama mereka demi fokus pada pekerjaan sampingan, sementara 10 persen telah melakukannya.
Ilustrasi bekerja di kantor. Data ini menunjukkan side hustle bukan sekadar aktivitas tambahan, tetapi dalam beberapa kasus telah menjadi alternatif utama terhadap pekerjaan formal.
Perkembangan teknologi digital menjadi faktor penting yang mempercepat pertumbuhan side hustle.
Baca juga: Gen Z Cenderung Paling Kurang Bahagia di Tempat Kerja
Platform freelance, marketplace digital, media sosial, dan alat berbasis AI memungkinkan individu untuk menghasilkan pendapatan tanpa harus bergantung pada struktur perusahaan tradisional.
Menurut laporan Forbes, teknologi digital telah membuat pembangunan sumber pendapatan alternatif menjadi lebih mudah, memungkinkan pekerja untuk menghasilkan uang dari keterampilan, pengetahuan, dan minat.
Teknologi juga memungkinkan monetisasi berbagai aktivitas yang sebelumnya sulit dijadikan sumber pendapatan, seperti:
Baca juga: Gen Z Ubah Cara Industri Properti Memandang Layanan Parkir
Akses ke pasar global melalui internet memungkinkan individu memperoleh klien dan pelanggan di luar wilayah geografis mereka.
Selain faktor ekonomi, motivasi utama di balik meningkatnya side hustle adalah keinginan akan otonomi dan fleksibilitas.
Side hustle memungkinkan pekerja untuk membuat keputusan secara mandiri tanpa bergantung pada struktur organisasi perusahaan.
Ilustrasi Gen Z, Gen Z mengakses pinjaman online/pinjol. Selain itu, side hustle memberikan kesempatan bagi individu untuk mengejar minat pribadi yang mungkin tidak tersedia dalam pekerjaan utama mereka.
Baca juga: Talkshow Energy Connect 5.0 Soroti Kesiapan Gen Z Masuk Sektor Energi
Pendapatan dari side hustle juga dapat diperoleh secara langsung, tanpa harus menunggu kenaikan gaji tahunan atau promosi jabatan. Hal ini memberikan kontrol yang lebih besar terhadap perkembangan finansial pribadi.
Perubahan pola karier Gen Z juga memengaruhi cara mereka memandang jabatan manajerial.