Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Survei Ungkap, Gen Z Jadi Generasi Paling Kesepian di Kantor

Kompas.com, 22 Februari 2026, 21:19 WIB
Sakina Rakhma Diah Setiawan

Penulis

Sumber Newsweek

Kondisi ini memperlihatkan adanya ketidaksesuaian antara ekspektasi Gen Z dan budaya kerja yang berlaku di perusahaan. Perbedaan ini dinilai berpotensi memicu tingkat pergantian karyawan (turnover) yang lebih tinggi dan menurunkan produktivitas.

Thompson menilai, dalam jangka panjang, fenomena ini bisa mengubah cara perusahaan memandang budaya kerja.

Baca juga: Conscious unbossing dan Krisis Regenerasi: Saat Gen Z Menolak Jadi Bos

“Dalam jangka panjang, ini bisa membentuk ulang cara perusahaan memikirkan budaya kerja. Bagaimana dampaknya terhadap kesehatan mental, retensi, dan produktivitas masih harus dilihat,” ujarnya.

“Perusahaan perlu menciptakan lingkungan di mana orang ingin bertahan dibandingkan memiliki turnover yang sangat tinggi, mungkin dengan upah atau paket kompensasi yang lebih kompetitif," sebut dia.

Tekanan ekonomi dan dampak mental

Selain faktor lingkungan kerja, tekanan ekonomi juga dinilai berkontribusi terhadap rasa kesepian yang dialami Gen Z.

Instruktur literasi keuangan di University of Tennessee at Martin, Alex Beene, mengatakan generasi ini menghadapi tekanan ekonomi yang signifikan.

Ilustrasi Gen Z, Gen Z mengakses pinjaman online/pinjol. FREEPIK/FREEPIK Ilustrasi Gen Z, Gen Z mengakses pinjaman online/pinjol.

Baca juga: Tren Keuangan Gen Z dan Milenial: Dari Belanja Impulsif hingga Investasi

“Ketika Anda mempertimbangkan semua tekanan ekonomi yang dihadapi Gen Z, mudah untuk melihat mengapa kesepian membebani mereka,” kata Beene.

Ia menyebut pekerjaan level awal banyak terdampak pemutusan hubungan kerja, sementara pasar tenaga kerja dinilai berada dalam periode sulit bagi banyak anak muda di Amerika Serikat.

“Ketika peluang profesional Anda suram, Anda menghadapi biaya hidup yang meningkat, dan media sosial memperlihatkan banyak orang yang tidak menghadapi kekhawatiran tersebut, Anda bisa dengan mudah jatuh ke dalam perasaan kesepian,” ujarnya.

Menurut Beene, rasa kesepian yang meningkat dapat berdampak pada kesehatan mental. Namun, ia juga mencatat Gen Z relatif lebih terbuka dalam mencari bantuan profesional dibanding generasi sebelumnya.

Baca juga: Bukan Soal Gaji Besar: Strategi Kaya ala Robert Kiyosaki untuk Gen Z

“Kami sudah melihat dampaknya, karena permintaan terhadap layanan kesehatan mental meningkat secara nasional,” kata Beene.

“Kabar baiknya, meski Gen Z mungkin lebih kesepian, mereka lebih mungkin mencari bantuan dibanding generasi sebelumnya. Harapannya, seiring mereka mendapatkan bantuan dan prospek pribadi serta finansial mereka membaik, mereka akan berjuang lebih sedikit," tutur dia.

Perubahan lanskap kerja

Survei ezCater menunjukkan kantor, bagi sebagian pekerja, kini tidak lagi sekadar ruang kerja, melainkan potensi ruang interaksi sosial yang belum sepenuhnya terwujud.

Data mengenai keterkaitan antara pertemanan di kantor dan tingkat keterlibatan memperlihatkan adanya korelasi yang signifikan.

Baca juga: Gen Z Sulit Gapai Financial Freedom, Penyebabnya Ternyata Gaji

Ilustrasi bekerja, Gen Z bekerja di kantor. Dok. Freepik/Freepik Ilustrasi bekerja, Gen Z bekerja di kantor.

Dengan 80 persen responden menyatakan teman kerja meningkatkan engagement, isu kesepian menjadi relevan tidak hanya dari sisi individu, tetapi juga dari perspektif organisasi.

Di sisi lain, pengalaman Gen Z yang memasuki dunia kerja saat pandemi, melalui proses rekrutmen dan orientasi daring, disebut membentuk pengalaman kerja yang berbeda dari generasi sebelumnya.

Perubahan pola kerja, meningkatnya fleksibilitas lokasi, serta mobilitas karier yang lebih tinggi menciptakan dinamika baru dalam membangun relasi profesional.

Temuan ini menambah diskursus mengenai bagaimana perusahaan menyesuaikan kebijakan dan budaya kerja di tengah perubahan generasi tenaga kerja.

Baca juga: Gen Z dan Milenial Enggan Jadi Bos: Ancaman Krisis Kepemimpinan?

Dengan Gen Z yang kini semakin mendominasi pasar kerja, isu keterhubungan sosial menjadi salah satu variabel yang mendapat perhatian dalam pengelolaan sumber daya manusia.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:


Terkini Lainnya
Merdeka Copper Gold (MDKA) Cetak Pendapatan Rp 32,06 Triliun, Turun 15,62 Persen Per 2025
Merdeka Copper Gold (MDKA) Cetak Pendapatan Rp 32,06 Triliun, Turun 15,62 Persen Per 2025
Ekbis
Strategi Kemenperin Genjot Transformasi Industri Nasional
Strategi Kemenperin Genjot Transformasi Industri Nasional
Ekbis
Pelaporan SPT 2025 Capai 10,53 Juta, Didominasi Karyawan
Pelaporan SPT 2025 Capai 10,53 Juta, Didominasi Karyawan
Ekbis
Efek Berganda Industri Hulu Migas bagi Masyarakat, Mulai dari Pajak hingga Dana Bagi Hasil
Efek Berganda Industri Hulu Migas bagi Masyarakat, Mulai dari Pajak hingga Dana Bagi Hasil
Ekbis
Update Harga iPhone 16, iPhone 17, dan 17 Pro Max Per 1 April 2026
Update Harga iPhone 16, iPhone 17, dan 17 Pro Max Per 1 April 2026
Ekbis
Kemenaker Imbau WFH, Sektor Kesehatan hingga Keuangan Tetap WFO
Kemenaker Imbau WFH, Sektor Kesehatan hingga Keuangan Tetap WFO
Ekbis
Purbaya: Kalau Kepepet, Pemerintah Punya SAL Rp 420 Triliun untuk Jaga APBN
Purbaya: Kalau Kepepet, Pemerintah Punya SAL Rp 420 Triliun untuk Jaga APBN
Ekbis
Harga Avtur Naik hingga 80 Persen, Tarif Tiket Pesawat Terancam Melonjak
Harga Avtur Naik hingga 80 Persen, Tarif Tiket Pesawat Terancam Melonjak
Ekbis
Tarif Listrik Triwulan II-2026 Tidak Naik, PLN Pastikan Layanan Tetap Optimal
Tarif Listrik Triwulan II-2026 Tidak Naik, PLN Pastikan Layanan Tetap Optimal
Energi
Berbalik dari Rugi ke Untung, Laba Bersih Phapros (PEHA) Melonjak 109 Persen di 2025
Berbalik dari Rugi ke Untung, Laba Bersih Phapros (PEHA) Melonjak 109 Persen di 2025
Ekbis
BBM Tak Naik, Purbaya Tambah Anggaran Subsidi BBM  hingga Rp 100 Triliun
BBM Tak Naik, Purbaya Tambah Anggaran Subsidi BBM hingga Rp 100 Triliun
Keuangan
IHSG Ditutup Menguat 1,93 Persen, Sentimen Geopolitik Timur Tengah Meredah?
IHSG Ditutup Menguat 1,93 Persen, Sentimen Geopolitik Timur Tengah Meredah?
Ekbis
Harga BBM Tak Naik, Purbaya: Pertamina Tanggung Sementara
Harga BBM Tak Naik, Purbaya: Pertamina Tanggung Sementara
Keuangan
Bengkel Siaga CNG Layani Kendaraan BBG di Jalur Mudik, Hadir 24 Jam
Bengkel Siaga CNG Layani Kendaraan BBG di Jalur Mudik, Hadir 24 Jam
Energi
Harga Plastik Melonjak Imbas Konflik Timur Tengah, Pedagang Tertekan
Harga Plastik Melonjak Imbas Konflik Timur Tengah, Pedagang Tertekan
Industri
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau