Penulis
Kondisi ini memperlihatkan adanya ketidaksesuaian antara ekspektasi Gen Z dan budaya kerja yang berlaku di perusahaan. Perbedaan ini dinilai berpotensi memicu tingkat pergantian karyawan (turnover) yang lebih tinggi dan menurunkan produktivitas.
Thompson menilai, dalam jangka panjang, fenomena ini bisa mengubah cara perusahaan memandang budaya kerja.
Baca juga: Conscious unbossing dan Krisis Regenerasi: Saat Gen Z Menolak Jadi Bos
“Dalam jangka panjang, ini bisa membentuk ulang cara perusahaan memikirkan budaya kerja. Bagaimana dampaknya terhadap kesehatan mental, retensi, dan produktivitas masih harus dilihat,” ujarnya.
“Perusahaan perlu menciptakan lingkungan di mana orang ingin bertahan dibandingkan memiliki turnover yang sangat tinggi, mungkin dengan upah atau paket kompensasi yang lebih kompetitif," sebut dia.
Selain faktor lingkungan kerja, tekanan ekonomi juga dinilai berkontribusi terhadap rasa kesepian yang dialami Gen Z.
Instruktur literasi keuangan di University of Tennessee at Martin, Alex Beene, mengatakan generasi ini menghadapi tekanan ekonomi yang signifikan.
Ilustrasi Gen Z, Gen Z mengakses pinjaman online/pinjol. Baca juga: Tren Keuangan Gen Z dan Milenial: Dari Belanja Impulsif hingga Investasi
“Ketika Anda mempertimbangkan semua tekanan ekonomi yang dihadapi Gen Z, mudah untuk melihat mengapa kesepian membebani mereka,” kata Beene.
Ia menyebut pekerjaan level awal banyak terdampak pemutusan hubungan kerja, sementara pasar tenaga kerja dinilai berada dalam periode sulit bagi banyak anak muda di Amerika Serikat.
“Ketika peluang profesional Anda suram, Anda menghadapi biaya hidup yang meningkat, dan media sosial memperlihatkan banyak orang yang tidak menghadapi kekhawatiran tersebut, Anda bisa dengan mudah jatuh ke dalam perasaan kesepian,” ujarnya.
Menurut Beene, rasa kesepian yang meningkat dapat berdampak pada kesehatan mental. Namun, ia juga mencatat Gen Z relatif lebih terbuka dalam mencari bantuan profesional dibanding generasi sebelumnya.
Baca juga: Bukan Soal Gaji Besar: Strategi Kaya ala Robert Kiyosaki untuk Gen Z
“Kami sudah melihat dampaknya, karena permintaan terhadap layanan kesehatan mental meningkat secara nasional,” kata Beene.
“Kabar baiknya, meski Gen Z mungkin lebih kesepian, mereka lebih mungkin mencari bantuan dibanding generasi sebelumnya. Harapannya, seiring mereka mendapatkan bantuan dan prospek pribadi serta finansial mereka membaik, mereka akan berjuang lebih sedikit," tutur dia.
Survei ezCater menunjukkan kantor, bagi sebagian pekerja, kini tidak lagi sekadar ruang kerja, melainkan potensi ruang interaksi sosial yang belum sepenuhnya terwujud.
Data mengenai keterkaitan antara pertemanan di kantor dan tingkat keterlibatan memperlihatkan adanya korelasi yang signifikan.
Baca juga: Gen Z Sulit Gapai Financial Freedom, Penyebabnya Ternyata Gaji
Ilustrasi bekerja, Gen Z bekerja di kantor. Dengan 80 persen responden menyatakan teman kerja meningkatkan engagement, isu kesepian menjadi relevan tidak hanya dari sisi individu, tetapi juga dari perspektif organisasi.
Di sisi lain, pengalaman Gen Z yang memasuki dunia kerja saat pandemi, melalui proses rekrutmen dan orientasi daring, disebut membentuk pengalaman kerja yang berbeda dari generasi sebelumnya.
Perubahan pola kerja, meningkatnya fleksibilitas lokasi, serta mobilitas karier yang lebih tinggi menciptakan dinamika baru dalam membangun relasi profesional.
Temuan ini menambah diskursus mengenai bagaimana perusahaan menyesuaikan kebijakan dan budaya kerja di tengah perubahan generasi tenaga kerja.
Baca juga: Gen Z dan Milenial Enggan Jadi Bos: Ancaman Krisis Kepemimpinan?
Dengan Gen Z yang kini semakin mendominasi pasar kerja, isu keterhubungan sosial menjadi salah satu variabel yang mendapat perhatian dalam pengelolaan sumber daya manusia.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang