PADANG, KOMPAS.com - Para pemudik yang hendak menuju Sumatera Barat (Sumbar) pada Lebaran 2026 diingatkan untuk menyiapkan fisik dan manajemen waktu yang ekstra ketat.
Pasalnya, absennya jalur alternatif utama dan kondisi perbaikan infrastruktur di jalur vital diprediksi akan memicu kemacetan ekstrem.
Berdasarkan data teknis dari Dinas Perhubungan (Dishub) Sumbar, waktu tempuh normal rute Padang–Bukittinggi biasanya berkisar 2 hingga 3 jam.
Durasi ini terancam membengkak hingga 8 sampai 10 jam pada puncak arus mudik.
Namun, sejak penerapan sistem satu arah, kemacetan di ruas jalan Padang-Bukittinggi bisa terurai.
Dengan memanfaatkan jalur Sicincin-Padang Panjang via Lembah Anai dan Sicincin-Malalak via Malalak, sejak periode mudik 2023-2025.
Sekarang kondisi kedua ruas yang menjadi pengurai kepadatan kendaraan pemudik tersebut dalam masih dalam kondisi perbaikan pasca-bencana akhir November 2025.
Baca juga: Mudik Sumbar 2026: Waspada Jalan Tanah Jalur Malalak, Rawan Longsor dan Gelap
Kondisi terkini berdasarkan penjelasan Kepala Balai Pelaksana Jalan (BPJN) Sumbar, Elsa Putra Friandi, perbaikan ruas jalan Lembah Anai masih diangka 44 persen.
Meski kondisi jalan yang terputus sudah tersambung secara keseluruhan dan pengerjaan struktur bore pile (fondasi dalam) sudah mencapai 77 persen.
Ruas jalan ini sudah bisa fungsional 24 jam selama periode mudik Lebaran 2026 (H-10 hingga H+10 lebaran).
Walaupun Jalan Lembah Anai bersifat fungsional, ruas jalan Sicincin-Malalak via Malalak tidak direkomendasikan untuk para pemudik untuk arus mudik lebaran 2026. Perbaikan ruas jalan ini baru mencapai angka delapan persen.
Situasi ini menurut Kadishub Sumbar Dedy Diantolani membuat opsi skema one way yang menjadi juru selamat saat arus mudik dan arus balik Lebaran di ranah Minang menjadi terbatas.
Berdasarkan koordinasi lintas sektoral, Pemprov Sumbar menerapkan sistem satu arah berbasis waktu dengan titik tumpu di Jalan Lembah Anai.
Situasi Jalan Lembah Anai yang masih 44 persen tentu sulit untuk menampung prediksi 5.36 juta pemudik yang datang ke Sumbar tahun ini.
"Absennya jalur Malalak menyebabkan beban lalu lintas terpusat sepenuhnya pada koridor utama Lembah Anai. Ini menghilangkan fleksibilitas rekayasa lalu lintas kita di lapangan," ungkap Dedy Diantolani, pada Kompas.com, Senin (9/3/2026).