Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kemarau di Sumsel Diprediksi Mulai Mei, Durasi Bisa Capai 5 Bulan

Kompas.com, 26 Maret 2026, 06:19 WIB
Aji YK Putra,
Vachri Rinaldy Lutfipambudi

Tim Redaksi

PALEMBANG, KOMPAS.com – Musim kemarau 2026 di Sumatera Selatan (Sumsel) diprediksi akan berlangsung mulai bulan Mei mendatang, dengan durasi bisa mencapai hingga 5 bulan.

Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Sumatera Selatan, Wandayantolis menjelaskan, awal paling dini musim kemarau diperkirakan terjadi pada Mei, sementara mayoritas wilayah akan mulai memasuki musim kemarau pada awal hingga pertengahan Juni.

“Sekitar 29 persen wilayah mulai kemarau pada akhir Mei dan sekitar 64 persen wilayah lainnya terjadi pada awal sampai pertengahan Juni,” katany dalam keterangan tertulis, Rabu (25/3/2026).

Menurut Wandayantolis, dibandingkan dengan rata-rata klimatologis periode 1991–2020, sebagian besar wilayah Sumatera Selatan mengalami percepatan awal musim kemarau.

“Sekitar 64 persen wilayah mengalami kemajuan hingga dua dasarian atau sekitar 20 hari lebih cepat dari biasanya,” jelasnya.

Baca juga: Kemarau di Sumatera Selatan Diprediski Lebih Kering, Ini Penjelasan BMKG

Kondisi ini menunjukkan bahwa musim kemarau tahun ini datang lebih awal dari pola normal.

Untuk durasi, musim kemarau di Sumatera Selatan diperkirakan berlangsung antara 7 hingga 15 dasarian atau sekitar 2 hingga 5 bulan.

Wilayah bagian tengah Sumatera Selatan berpotensi mengalami durasi kemarau terpanjang, yakni mencapai 13 hingga 15 dasarian atau sekitar 4 hingga 5 bulan.

“Ini termasuk durasi yang cukup panjang untuk wilayah Sumatera,” ungkapnya.

Curah Hujan Lebih Rendah

Wandayantolis mengungkapkan, sifat musim kemarau tahun ini didominasi kondisi bawah normal, yang berarti curah hujan diprediksi lebih rendah dari biasanya.

“Hanya sebagian kecil wilayah yang bersifat normal. Selebihnya lebih kering, sehingga potensi kekeringan perlu diwaspadai,” katanya.

Sementara itu, puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada Juli di sebagian kecil wilayah, dan Agustus di mayoritas wilayah Sumatera Selatan.

Meski demikian, terdapat variasi waktu puncak di beberapa daerah.

Baca juga: Daftar Wilayah yang Masuk Musim Kemarau April 2026, Mana Saja?

Sebagian wilayah mengalami puncak yang sama seperti normal, sebagian lebih maju sekitar satu bulan, dan sebagian lainnya justru mundur lebih dari satu bulan.

“Hal ini menunjukkan adanya perbedaan karakteristik musim antar wilayah di Sumatera Selatan,” jelasnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Fakta Pria di Kebumen Diduga Cabuli Belasan Anak di Bawah Umur
Fakta Pria di Kebumen Diduga Cabuli Belasan Anak di Bawah Umur
Regional
Aset BUMD Jateng Tembus Rp 118 Triliun, Ahmad Luthfi: Tidak Untung, Tidak Usah Jadi BUMD!
Aset BUMD Jateng Tembus Rp 118 Triliun, Ahmad Luthfi: Tidak Untung, Tidak Usah Jadi BUMD!
Regional
Gugur di Lebanon, Sosok Sertu Ichwan di Mata Eks Atasan: Prajurit Loyal dan Disiplin
Gugur di Lebanon, Sosok Sertu Ichwan di Mata Eks Atasan: Prajurit Loyal dan Disiplin
Regional
Pemprov Maluku Segera Terapkan WFH, Gubernur: Konsekuensi Kondisi Global
Pemprov Maluku Segera Terapkan WFH, Gubernur: Konsekuensi Kondisi Global
Regional
Eks Dirut BUMD Serang Dituntut 6 Tahun Penjara, Jaksa Ungkap Transaksi 'Kickback' di Parkiran Mal
Eks Dirut BUMD Serang Dituntut 6 Tahun Penjara, Jaksa Ungkap Transaksi 'Kickback' di Parkiran Mal
Regional
Maaf-maafan, Bupati dan Wabup Lebak Berdamai Usai Ribut Saat Halalbihalal
Maaf-maafan, Bupati dan Wabup Lebak Berdamai Usai Ribut Saat Halalbihalal
Regional
ASN Jateng Mau WFH? Siap-siap Lokasi Rumah Dipantau Ketat lewat 'Tagging'
ASN Jateng Mau WFH? Siap-siap Lokasi Rumah Dipantau Ketat lewat "Tagging"
Regional
Kericuhan Pecah di Mimika, Hujan Panah Warnai Proses Kremasi Korban Pembunuhan
Kericuhan Pecah di Mimika, Hujan Panah Warnai Proses Kremasi Korban Pembunuhan
Regional
Sanksi WFH ASN Kaltim: Tak Absen TPP Dipotong 1 Persen per Hari, Tak Lapor 2 Persen
Sanksi WFH ASN Kaltim: Tak Absen TPP Dipotong 1 Persen per Hari, Tak Lapor 2 Persen
Regional
Masih Ada Parkir Liar di Indomaret Banyumas? Laporkan ke Nomor Ini
Masih Ada Parkir Liar di Indomaret Banyumas? Laporkan ke Nomor Ini
Regional
Natalius Pigai, Penguatan HAM, dan Masa Depan Indonesia...
Natalius Pigai, Penguatan HAM, dan Masa Depan Indonesia...
Regional
Soal WFH Tiap Jumat, Bupati Ende: Kita Sudah Mulai Sejak Awal Tahun
Soal WFH Tiap Jumat, Bupati Ende: Kita Sudah Mulai Sejak Awal Tahun
Regional
Sekolah Ini Bikin Orang Tua Tak Bisa Dibohongi Absensi Anak lewat Aplikasi 'Si Apik'
Sekolah Ini Bikin Orang Tua Tak Bisa Dibohongi Absensi Anak lewat Aplikasi "Si Apik"
Regional
Soal Kebijakan WFH, Wali Kota Ambon: Kita Sudah Lakukan, Tinggal Disesuaikan Saja
Soal Kebijakan WFH, Wali Kota Ambon: Kita Sudah Lakukan, Tinggal Disesuaikan Saja
Regional
Dua Nelayan di Indramayu Hilang Misterius Saat Melaut, Tim SAR Dikerahkan Pencarian
Dua Nelayan di Indramayu Hilang Misterius Saat Melaut, Tim SAR Dikerahkan Pencarian
Regional
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau
Kemarau di Sumsel Diprediksi Mulai Mei, Durasi Bisa Capai 5 Bulan
Akses penuh arsip ini tersedia di aplikasi KOMPAS.com atau dengan Membership KOMPAS.com Plus.
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Unduh KOMPAS.com App untuk berita terkini, akurat, dan terpercaya setiap saat