Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Aksi Heroik Rizki, Rela Jatuh Bangun demi Selamatkan Rumah Warga dari Balon Udara Raksasa di Pamekasan

Kompas.com, 31 Maret 2026, 11:49 WIB
Fathor Rahman,
Aloysius Gonsaga AE

Tim Redaksi

PAMEKASAN, KOMPAS.com - Aksi heroik Rizki (20) demi menyelamatkan rumah warga dari balon udara yang jatuh di Dusun Blingi, Desa Palengaan Laok, Kecamatan Palengaan, Kabupaten Pamekasan, pada Sabtu (28/3/2026) membuat warga setempat kagum.

Aksi nekat yang dilakukan Rizki terekam kamera handphone warga. Dia diteriaki warga untuk segera menjauh karena berbahaya.

Namun, pada video berdurasi 52 detik, Riski terus berusaha memadamkan api. Padahal, petasan yang tersisa dengan jumlah cukup banyak bisa meledak seketika.

Akhirnya, balon udara mendarat dengan selamat. Api segera dipadamkan dan petasan yang tersisa tidak meledak segera diamankan.

Baca juga: Langit yang Dijaga: Ketika Balon Udara Ponorogo Menemukan Cara Baru untuk Terbang

"Riski menariknya dan berusaha agar balon udara tidak terbakar dan petasan tidak meledak. Warga lainnya mengambil air agar api padam," ungkap A Latif, warga setempat, Selasa (31/3/2026).

Menurutnya, aksi Riski sangat berani dan nekat demi menyelamatkan rumah warga. Ia pun mendapatkan pujian dari warga berkat pertolongannya.

Kisah penyelamatan

Diceritakan, pada pukul 07.23, Riski melihat balon udara turun di sekitar pemukiman warga. Ia bergegas mendekat dan mencari tali yang masih terikat ke balon udara.

Baca juga: Gelar Festival Balon Udara, Kapolres Ponorogo: Jadi Solusi Aman Jaga Tradisi Tanpa Risiko

Riski akhirnya meraih tali dan berlari kencang ke tanah kosong. Dengan beban berat, ia terjatuh berkali-kali tapi tetap berusaha menarik balon udara.

"Beberapa orang akhirnya membantunya sehingga balon udara mendarat di tanah kosong, tepat di samping rumah warga," tuturnya.

Bahkan, kata Latif, Riski yang masih berusia muda perlu dicontoh. Jika balon tidak diarahkan ke tanah kosong bisa berdampak fatal.

Sebab, masih ada beberapa petasan yang masih utuh. Sementara api masih tersisa dan bisa menyebabkan rumah warga terbakar.

"Saat ada pertemuan keluarga, saya tanya berapa kali dia jatuh, ngakunya berkali-kali," ucapnya.

Baca juga: Balon Udara Jumbo Jatuh di Kebun Warga Ponorogo, Polisi Selidiki Asal-Usulnya

Dikatakan, Riski, penolong warga setempat selama ini hemat bicara. Namun di beberapa tindakannya selalu tepat dan dikenal berani.

"Keberaniannya bermanfaat bagi masyarakat. Banyak warga menyampaikan terima kasih ke dia," imbuhnya.

Warga lainnya, H Subairi mengaku kaget saat pertama melihat teriakan warga. Ia keluar rumah sudah melihat balon udara meledak dan ditarik oleh Riski.

"Saat saya keluar rumah ternyata ada lampion jatuh. Di sana sudah banyak warga," katanya.

Beruntung, kata dia, lampion tidak jatuh di atap warga. Sebab petasan meledak saat lampion hendak jatuh ke tanah.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
ASN Pemkot Surabaya Akan Diwajibkan Naik Transportasi Umum Setiap Rabu atau Kamis
ASN Pemkot Surabaya Akan Diwajibkan Naik Transportasi Umum Setiap Rabu atau Kamis
Surabaya
Banyuwangi Uji Coba ASN Bersepeda ke Kantor, Dorong Pola Hidup Aktif dan Efisien
Banyuwangi Uji Coba ASN Bersepeda ke Kantor, Dorong Pola Hidup Aktif dan Efisien
Surabaya
Polemik Pengosongan Gedung di Balai Pemuda, Pemkot Surabaya Sebut untuk Penataan
Polemik Pengosongan Gedung di Balai Pemuda, Pemkot Surabaya Sebut untuk Penataan
Surabaya
Wagub Emil Dardak Pastikan Alih Fungsi Hutan untuk Perumahan di Prigen Belum Kantongi Izin
Wagub Emil Dardak Pastikan Alih Fungsi Hutan untuk Perumahan di Prigen Belum Kantongi Izin
Surabaya
Banyuwangi Tak Buru-buru Terapkan WFH, Pelayanan Publik Jadi Pertimbangan Utama
Banyuwangi Tak Buru-buru Terapkan WFH, Pelayanan Publik Jadi Pertimbangan Utama
Surabaya
WFH Jumat di Kota Blitar, ASN Harus Absen dan Lapor Progres Kerja
WFH Jumat di Kota Blitar, ASN Harus Absen dan Lapor Progres Kerja
Surabaya
ASN Kota Batu WFH Setiap Jumat, Pemkot Juga Buka Opsi Bersepeda ke Kantor
ASN Kota Batu WFH Setiap Jumat, Pemkot Juga Buka Opsi Bersepeda ke Kantor
Surabaya
Ikuti Arahan Pusat, Pemprov Jatim Siapkan Skema Pemangkasan Perjalanan Dinas
Ikuti Arahan Pusat, Pemprov Jatim Siapkan Skema Pemangkasan Perjalanan Dinas
Surabaya
Sopir Truk Blokade Jalur ke Pelabuhan Ketapang, Kesal Aksi Serobot Antrean
Sopir Truk Blokade Jalur ke Pelabuhan Ketapang, Kesal Aksi Serobot Antrean
Surabaya
Kronologi Pengunjung Mikutopia Pingsan saat Antre Tiket hingga Meninggal, Punya Riwayat Darah Tinggi
Kronologi Pengunjung Mikutopia Pingsan saat Antre Tiket hingga Meninggal, Punya Riwayat Darah Tinggi
Surabaya
Eri Cahyadi Marah TPS di Surabaya Jadi Parkir Gerobak hingga Rongsokan
Eri Cahyadi Marah TPS di Surabaya Jadi Parkir Gerobak hingga Rongsokan
Surabaya
BBM Aman tapi Warga Tetap Antre: Kisah Cemas di SPBU Jatim
BBM Aman tapi Warga Tetap Antre: Kisah Cemas di SPBU Jatim
Surabaya
Pondok Gontor Larang Pengajar di Bawah 30 Tahun Naik Motor, Ini Aturan Lengkapnya
Pondok Gontor Larang Pengajar di Bawah 30 Tahun Naik Motor, Ini Aturan Lengkapnya
Surabaya
Skema Dirombak, Pemkab Sumenep Pindah WFH ke Jumat
Skema Dirombak, Pemkab Sumenep Pindah WFH ke Jumat
Surabaya
Hari Pertama WFH, Khofifah Larang ASN Jatim Nonaktifkan Ponsel
Hari Pertama WFH, Khofifah Larang ASN Jatim Nonaktifkan Ponsel
Surabaya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau