Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Cerita Riski Bawa Istri WN Polandia ke Madura, Cuaca Panas dan Takut Jalan Kaki

Kompas.com, 31 Maret 2026, 20:19 WIB
Fathor Rahman,
Andi Hartik

Tim Redaksi

PAMEKASAN, KOMPAS.com - Banyak cerita saat Muhammad Riski Hariyanto (26) warga Desa Buddih, Kecamatan Pademawu, Kabupaten Pamekasan, Madura, Jawa Timur, membawa istrinya, Ania Korczewska, yang merupakan warga negara (WN) Polandia ke kampung halamannya di Madura.

Perbedaan cuaca yang sangat ekstrem membuat Ania merasa panas selama berada di Pulau Madura.

Di Madura, cuaca rata-rata 29 hingga 33 derajat celsius. Sementara, kebiasaan Ania di Polandia berada di suhu dingin hingga 20 derajat celsius.

"Dia kepanasan. Kebetulan di rumah saya tidak ada AC ya terpaksa harus sabar," katanya melalui sambungan telepon, Selasa (31/3/2026).

Baca juga: Perjuangan Riski Menikahi WN Polandia, Pinjam Uang demi Jalan-jalan Keliling Bali

Karena sudah mulai terbiasa dari beberapa kunjungannya ke Madura, Ania tidak lagi mengeluh kepanasan. Bahkan, sudah dikenalkan ke sejumlah tempat wisata di Madura.

"Sudah banyak tempat wisata yang saya kenalkan. Dia suka dan tidak kalah bagus dengan tempat wisata di luar Madura," ungkapnya.

Cerita lain, saat dia pertama membawa istrinya ke Desa Buddih, banyak warga setempat datang ingin mengenalnya. Bahkan, tidak sedikit yang foto bersama.

Baca juga: Kisah Cinta Riski, Pria Asal Madura Menikahi WNA Polandia, Berawal di Bali hingga ke Pelaminan

Ania yang menguasai empat bahasa, termasuk Bahasa Indonesia, tidak terlalu kesulitan berinteraksi dengan warga sekitar. Bahkan, beberapa kata bahasa Madura pun mulai dipelajarinya.

"Dia menguasai Bahasa Inggris, Korea, Bahasa Indonesia dan bahasanya sendiri di Polandia. Jadi ibu saya bisa mengobrol langsung sama dia," katanya.

Riski menceritakan, selama berada di Indonesia, istrinya takut untuk jalan kaki. Karena khawatir ditabrak mobil dari belakang.

"Mungkin karena beda dengan Polandia. Di Polandia jalur jalan kaki, sepeda dan mobil berbeda. Di Indonesia dia khawatir dan masih takut," tuturnya.

Beradaptasi dengan kehidupan di Polandia

Perbedaan lain, kata dia, kondisi jalan di Polandia sangat bersih. Ada tempat sampah di mana-mana. Jika pun tidak ada, sampah ditaruh di kantong baju.

Riski juga menceritakan pengalamannya beradaptasi hidup di Polandia. Cuaca yang sangat ekstrem sempat membuatnya cukup kesulitan, tapi harus dijalani hingga akhirnya terbiasa.

"Saat cuaca dingin saya harus pakai baju berlapis. Bahkan sempat keluar darah dari hidung karena kedinginan. Tapi sekarang sudah biasa," tuturnya.

Tidak hanya itu, dari faktor makanan, Riski pun harus menyesuaikan makan roti sehari-hari. Kadang ia masak sendiri masakan Indonesia.

"Saya kadang buat masakan Indonesia kalau rindu. Malah keluarga di sini (Polandia) suka rendang yang kadang saya buat," ucapnya.

Seperti diberitakan Kompas.com, Riski menikahi Ania pada Desember 2025 lalu. Pertemuannya di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Bali membawanya hidup di Polandia hingga saat ini.

Keduanya memilih tinggal di Polandia dan Riski masih proses pengurusan izin tinggal.

"Saya bersyukur bisa mendapatkan istri dia. Meski dibesarkan di tempat berbeda, tapi dia menerima saya dan keluarga saya," imbuhnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
ASN Pemkot Surabaya Akan Diwajibkan Naik Transportasi Umum Setiap Rabu atau Kamis
ASN Pemkot Surabaya Akan Diwajibkan Naik Transportasi Umum Setiap Rabu atau Kamis
Surabaya
Banyuwangi Uji Coba ASN Bersepeda ke Kantor, Dorong Pola Hidup Aktif dan Efisien
Banyuwangi Uji Coba ASN Bersepeda ke Kantor, Dorong Pola Hidup Aktif dan Efisien
Surabaya
Polemik Pengosongan Gedung di Balai Pemuda, Pemkot Surabaya Sebut untuk Penataan
Polemik Pengosongan Gedung di Balai Pemuda, Pemkot Surabaya Sebut untuk Penataan
Surabaya
Wagub Emil Dardak Pastikan Alih Fungsi Hutan untuk Perumahan di Prigen Belum Kantongi Izin
Wagub Emil Dardak Pastikan Alih Fungsi Hutan untuk Perumahan di Prigen Belum Kantongi Izin
Surabaya
Banyuwangi Tak Buru-buru Terapkan WFH, Pelayanan Publik Jadi Pertimbangan Utama
Banyuwangi Tak Buru-buru Terapkan WFH, Pelayanan Publik Jadi Pertimbangan Utama
Surabaya
WFH Jumat di Kota Blitar, ASN Harus Absen dan Lapor Progres Kerja
WFH Jumat di Kota Blitar, ASN Harus Absen dan Lapor Progres Kerja
Surabaya
ASN Kota Batu WFH Setiap Jumat, Pemkot Juga Buka Opsi Bersepeda ke Kantor
ASN Kota Batu WFH Setiap Jumat, Pemkot Juga Buka Opsi Bersepeda ke Kantor
Surabaya
Ikuti Arahan Pusat, Pemprov Jatim Siapkan Skema Pemangkasan Perjalanan Dinas
Ikuti Arahan Pusat, Pemprov Jatim Siapkan Skema Pemangkasan Perjalanan Dinas
Surabaya
Sopir Truk Blokade Jalur ke Pelabuhan Ketapang, Kesal Aksi Serobot Antrean
Sopir Truk Blokade Jalur ke Pelabuhan Ketapang, Kesal Aksi Serobot Antrean
Surabaya
Kronologi Pengunjung Mikutopia Pingsan saat Antre Tiket hingga Meninggal, Punya Riwayat Darah Tinggi
Kronologi Pengunjung Mikutopia Pingsan saat Antre Tiket hingga Meninggal, Punya Riwayat Darah Tinggi
Surabaya
Eri Cahyadi Marah TPS di Surabaya Jadi Parkir Gerobak hingga Rongsokan
Eri Cahyadi Marah TPS di Surabaya Jadi Parkir Gerobak hingga Rongsokan
Surabaya
BBM Aman tapi Warga Tetap Antre: Kisah Cemas di SPBU Jatim
BBM Aman tapi Warga Tetap Antre: Kisah Cemas di SPBU Jatim
Surabaya
Pondok Gontor Larang Pengajar di Bawah 30 Tahun Naik Motor, Ini Aturan Lengkapnya
Pondok Gontor Larang Pengajar di Bawah 30 Tahun Naik Motor, Ini Aturan Lengkapnya
Surabaya
Skema Dirombak, Pemkab Sumenep Pindah WFH ke Jumat
Skema Dirombak, Pemkab Sumenep Pindah WFH ke Jumat
Surabaya
Hari Pertama WFH, Khofifah Larang ASN Jatim Nonaktifkan Ponsel
Hari Pertama WFH, Khofifah Larang ASN Jatim Nonaktifkan Ponsel
Surabaya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau