MADIUN, KOMPAS.com - Ribuan hektar sawah di dua kecamatan di Kabupaten Madiun, Jawa Timur, terancam kekeringan setelah talud Bendungan Kedungrejo yang berada di Desa Kedungrejo, Kecamatan Pilangkenceng, jebol diterjang banjir.
Sebelum jebol dihantam banjir, keberadaan Bendungan Kedungrejo menjadi tumpuan petani untuk mengairi ribuan hektar sawah yang berada di Kecamatan Pilangkenceng dan Kecamatan Balerejo, Kabupaten Madiun.
Siman, petani yang tinggal di Kedungrejo menyatakan, talud Bendungan jebol dihantam banjir pada Selasa (31/3/2026). Banjir menjebol talud Bendungan setelah hujan deras mengguyur desa itu dalam dua pekan terakhir.
Baca juga: 4 Pemuda Terekam CCTV Saat Bobol Toko Milik Lansia di Madiun, Berujung Ditangkap Polisi
Jebolnya talud Bendungan Kedungrejo menjadikan petani gelisah. Para petani khawatir sawahnya terancam kekeringan lantaran kekurangan air.
“Jebolnya talud itu menjadikan bendungan tidak bisa mengaliri lahan pertanian. Dengan demikian, sawah kami terancam kekeringan. Dan kondisi ini menjadikan semua petani cemas di sini,” ujar Siman, Selasa (31/3/2026).
Baca juga: Antisipasi Kekeringan, BNPB dan Pemprov Jatim Siapkan Sumur Dalam demi Amankan Stok Padi
Siman mengatakan, keberadaan Bendungan Kedungrejo dapat mengairi sawah di dua kecamatan pada empat desa seluas 1.436 hektar.
Empat desa yang mendapatkan kecukupan air dari Bendungan Kedungrejo yakni Purworejo, Sogo, Kuwu dan Babadan.
Siman menambahkan, bila Bendungan Kedungrejo tak lagi mengairi sawah petani, maka warga terpaksa mengandalkan air dari sumur bor.
Hanya saja, bila menggunakan sumur bor, biaya produksi akan meningkat banyak.
"Kalau kami mengandalkan air sumur sibel terus maka pembengkakan biaya produksi akan makin bertambah besar,"jelas Simun.
Lain dengan Simun, Santo menyebut jebolnya talud bendungan mengkhawatirkan warga yang bermukim di dekat sungai Jerohan. Terlebih, saat ini intensitas hujan masih tinggi di Kabupaten Madiun.
“Kalau tidak segera ditindaklanjuti kami khawatir air bisa naik masuk ke permukiman. Apalagi air dari hulu terus mengalir mengikis tebing-tebing,” kata Santo.
Sementara itu, pengamat OP UPT PSDAWS Bengawan Solo di Bojonegoro Perwakilan Madiun, Andika Widodo menyatakan, pihaknya akan melakukan penanganan darurat.
“Kami sementara melakukan penanganan darurat dengan menggunakan sandbag dan memasang tembok penahanan untuk antisipasi air dari sungai masuk ke saluran,” kata Andika.
Ia meminta warga tidak mendekat ke area bendungan lantaran masih tingginya curah hujan dalam sepekan ke depan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang