Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Stephanie Riady
Presiden Universitas Pelita Harapan

Anggota Tim Penasihat Ahli Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia, penggiat pendidikan dan filantropi, aktif dalam pengembangan program pendidikan berbasis nilai, inovasi, dan kolaborasi lintas sektor di Indonesia.

Mengurai Akar Krisis Literasi dari Sekolah Menengah

Kompas.com, 29 Juli 2025, 12:50 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

BEBERAPA waktu lalu, temuan lapangan dari Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) di Buleleng, Bali, menyentak banyak pihak.

Dalam survei yang dilakukan Undiksha, ditemukan sebanyak 433 siswa tingkat SMP ternyata belum bisa membaca dengan lancar. Sebagian bahkan belum mengenali huruf.

Temuan ini tentu mengejutkan, bukan karena datang dari wilayah terpencil, tetapi karena terjadi di jenjang pendidikan menengah pertama, setelah siswa menempuh enam tahun pendidikan dasar.

Temuan ini bukan hanya soal statistik, tetapi tentang masa depan anak-anak Indonesia yang tertinggal diam-diam di tengah gegap gempita reformasi pendidikan.

Dalam survei tersebut, 43,1 persen siswa berada pada level dasar, belum hafal huruf dan masih terbata-bata saat mengeja.

Sebanyak 36,5 persen berada pada level menengah, dan 20,4 persen pada level lanjutan, namun tetap memiliki pemahaman bacaan yang lemah.

Baca juga: Inflasi Nilai dan Tantangan Integritas Pendidikan Indonesia

Angka-angka ini bukan hanya mencerminkan kondisi di Buleleng, tetapi bisa menjadi potret dari gejala yang lebih luas di berbagai wilayah Indonesia.

Ketika anak-anak SMP masih berjuang mengenal huruf, maka yang terganggu bukan hanya proses belajar, melainkan juga kepercayaan diri, interaksi sosial, dan mobilitas mereka di masa depan.

Undiksha tidak tinggal diam. Sebanyak 76 dosen dan 375 mahasiswa dikerahkan untuk melakukan pendampingan intensif kepada para siswa dengan metode fonik, kartu kata, membaca nyaring, hingga pendekatan diskusi makna.

Pendampingan dilakukan selama tiga hingga empat jam per hari, menyesuaikan dengan level kemampuan tiap siswa.

Ini bukan program instan, melainkan bentuk keterlibatan akademisi dalam menjawab persoalan mendasar secara nyata dan manusiawi.

Hasil awal menunjukkan banyak siswa mengalami kemajuan, meski tentu masih perlu asesmen lanjutan.

Fondasi literasi

Pertanyaannya kemudian, mengapa masalah ini bisa luput dari perhatian sistem? Apa yang membuat siswa bisa lulus SD dan naik kelas di SMP meskipun belum bisa membaca dengan baik?

Pertanyaan ini membawa semua pihak pada refleksi yang lebih dalam tentang bagaimana literasi dipahami, dinilai, dan didampingi dalam sistem pendidikan di Indonesia.

Selama beberapa tahun terakhir, Indonesia telah melakukan reformasi besar-besaran dalam pendidikan mencakup kurikulum, penilaian berbasis kompetensi, evaluasi pelaksanaan ujian nasional, dan penguatan pembelajaran berbasis proyek.

Baca juga: Urgensi Mencetak Generasi STEMfluencer

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau