KOMPAS.com - Libur perayaan Idul Fitri pada 2026 sesuai jadwal cuti bersama nasional akan berakhir pada hari Selasa, 24 Maret besok.
Sebagian besar kantor dan perguruan tinggi akan kembali beroperasi pada Rabu, 25 Maret sehingga pekerja dan mahasiswa pun kembali ke rutinitas.
Seperti biasanya, momen libur seringkali membuat kita tidak ingin cepat-cepat "berpisah". Alhasil ketika kembali ke rutinitas reguler sehari-hari kerap merasa masih belum memiliki motivasi.
Pakar Psikologi Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Meita Santi Budiani membahas tentang fenomena post-holiday blues atau perasaan lesu, hilangnya semangat, atau kesulitan fokus setelah libur.
Baca juga: Dosen Unesa Bagikan Tips Jaga Pola Makan Sehat Pasca Ramadhan
Ia menekankan pentingnya strategi transisi yang terukur dengan langkah pertama adalah kilas balik ke capaian akademik sebelum libur.
Mahasiswa bisa melihat kembali target yang sudah tercapai maupun yang masih tertunda untuk menentukan prioritas baru yang akan datang.
“Penting untuk mengidentifikasi poin mana yang perlu dikejar dalam waktu dekat. Refleksi ini memberikan batasan yang jelas agar kita memiliki kompas untuk kembali fokus pada tujuan,” jelas Meita, dikutip dari situs Unesa, Senin (23/3/2026).
Langkah berikutnya ialah mengaktifkan kembali motivasi dalam diri.
Mahasiswa dapat menelaah kembali alasan di balik setiap target akademik, terutama yang terkait dengan kesiapan pascakampus.
Sementara di dunia kerja, pekerja dituntut akan kemampuan untuk bersaing dengan banyak individu dalam hal prestasi.
Baca juga: Cerita Annas Jadi Lulusan Terbaik S2 Unesa, IPK 4,00 dan Punya 142 Hak Kekayaan Intelektual
“Keunggulan kompetitif tidak hanya lahir dari nilai akademik, tetapi juga dari pengembangan soft skill dan keaktifan berorganisasi. Masa transisi ini adalah momentum tepat untuk kembali memacu potensi diri agar siap menghadapi kompetitor di masa depan,” ujar Meita.
Ilustrasi mahasiswa. Self awareness atau kesadaran diri dapat menjadi kunci dalam mengatasi kemalasan pada masa sehabis libur.
Dengan memahami ritme kerja dan kondisi emosi masing-masing, seseorang akan lebih mudah menentukan waktu serta cara berkegiatan yang efektif. Termasuk belajar, bekerja, dan istirahat secara proporsional.
Apabila fokus belum stabil, Meita menyarankan menerapkan metode Pomodoro. Metode ini dapat dilakukan dengan fokus mengerjakan tugas selama 25 menit, lalu istirahat singkat selama 5 menit, secara berulang.
“Metode ini membantu kita tetap produktif tanpa merasa terbebani secara mental. Kita bisa mulai bekerja secara bertahap meskipun mood belajar belum sepenuhnya kembali normal,” jelasnya.
Baca juga: Mudik Jadi Sarana Recharge Energi dan Penguat Motivasi bagi Perantau, Ini Penjelasan Dosen Unesa
Lewat langkah-langkah di atas diharapkan energi positif dapat terpupuk lagi.
Transisi yang tertata dapat membentuk mentalitas yang tangguh.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang