Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

5 Cangkir Kopi Simbol Akulturasi Budaya di Kota Lama Semarang

Kompas.com, 27 April 2022, 14:08 WIB
Wasti Samaria Simangunsong ,
Silvita Agmasari

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Kota Semarang menjadi rumah dari beragam etnis termasuk Jawa, Arab dan Tionghoa, yang hidup berdampingan sehingga menciptakan akulturasi budaya.

Terinspirasi dari keberagamaan tersebut, sebuah kedai kopi di kawasan Kota Lama Semarang,  meracik lima jenis minuman kopi yang dinamai kopi akulturasi.

Lima jenis kopi akulturasi unggulan dari Tekodeko Koffiehuis ini mewakili lima budaya di Kota Semarang.

"Saat orang datang ngopi di sini, ada cerita yang dibawa oleh secangkir kopi.

Cerita yang diangkat dalam lima jenis kopi ini akan memperkenalkan ragam budaya yang menyusun kota Semarang," ungkap Barista Tekodeko Koffiehuis, Fauzan, saat ditemui Kompas.com, Minggu (24/4/2022).

Adapun lima kopi yang menggambarkan akulturasi budaya di Tekodeko Koffiehuis adalah sebagai berikut: 

Baca juga: 7 Tempat Jajan Takjil di Semarang Favoritnya Warga Lokal, Ada Es Puter

1. Kopi Londo

Fauzan menerangkan, saat mendengar kata "londo", orang pasti akan langsung memikirkan bule.

"Nama Kopi Londo, kita ambil dari tata cara minumnya orang Belanda, gula dan susunya selalu dipisah saat akan meminum kopi," kata Fauzan.

"Jadi ternyata orang Belanda itu kalau minum kopi, selalu menakar sendiri tingkat kemanisannya," tuturnya.

Saat Kompas.com mencicipi Kopi Londo ini, ada dua keping cookies Speculaas yang mendampingi. Selain itu, kopi, gula cair dan susu pun disajikan secara terpisah.

Baca juga: 8 Tempat Sarapan di Semarang, Ada Nasi Ayam dan Mie Kopyok

2. Kopi Arab

Kopi Arab ini tercipta setelah berbagai riset langsung yang dilakukan.

"Di sini ada namanya Masjid Layur, jadi setiap bulan Ramadhan di sana ada budaya minum kopi yang otentik untuk dipadukan dengan konsep akulturasi yang kita buat sekarang," terang Fauzan.

Kopi Arab merupakan kopi yang dipadukan bersama rempah. Bubuk kopi direbus dengan jahe, kapulaga dan kayu manis, sehingga menghasilkan rasa yang kuat dan agak pedas.


"Kalau menu kopi lain pakai house blend, Kopi Arab ini, benar-benar pakai biji kopi Robusta saja, untuk mendapat rasa pahit dan strong di saat bersamaan," jelasnya.

Baca juga: Moaci Gemini Semarang, Oleh-oleh Legendaris Khas Semarang Sudah 3 Generasi

3. Kopi Cheng Li

Kopi Cheng LiKompas.com/Wasti Samaria Simangunsong Kopi Cheng Li

Kopi Cheng Li adalah perpaduan dari kopi, teh dan susu. Kopi ini terinspirasi dari budaya Tionghoa yang terkenal akan tradisi minum teh.

Adapun jenis kopi yang digunakan adalah kopi house blend, atau kopi racikan dari biji kopi Robusta dan Arabika.

Baca juga: 15 Tempat Makan Legendaris di Semarang, Cocok untuk Wisata Kuliner

4. Kopi Gendhis

Kopi GendhisKompas.com/Wasti Samaria Simangunsong Kopi Gendhis

Gendhis dalam bahasa Jawa berarti gula. Kopi Gendhis adalah kopi yang disajikan bersama gula Jawa, dan burn caramel di atasnya.

Seperti namanya, Kopi Gendhis tercipta lantaran masyarakat Jawa gemar akan sesuatu yang manis-manis.

Baca juga: 15 Tempat Makan Bakso di Semarang, Salah Satunya Bakso Pak Geger

5. Kopi Kota Lama

"Orang Jawa di sini umumnya pakai metode tubruk, kopi langsung diseduh dengan air panas yang baru mendidih, jadi masih ada ampasnya," kata Fauzan.

Selain Kopi Arab, semua menu kopi akulturasi di atas menggunakan kopi house blend, atau kopi racikan, yang merupakan gabungan biji kopi Robusta dan Arabika.

Penyajian setiap menu kopi akulturasi juga dilengkapi dengan kue kering pendamping, tergantung pada jenis kopinya.

Seperti pada kopi Arab dan Londo, akan disajikan bersama Speculaas yakni cookies dari kayu manis, untuk memberi keseimbangan rasa pahit pada kopi.

Fauzan sendiri menyampaikan, bahwa untuk mendapat keseimbangan takaran yang tepat, Tekodeko Koffiehuis butuh riset mendalam selama setahun hingga terciptalah aneka minuman akulturasi ini.

Tertarik coba kopi simbol akulturasi? Tekodeko Koffiehuis beralamat di Jalan Letjen Suprapto Nomor 44, Kota Lama, Semarang, Jawa Tengah. Buka dari pukul 09.00-23.00 WIB. 

Interior Tekodeko Koffiehuis dalam bangunan cagar budayaKompas.com/Wasti Samaria Simangunsong Interior Tekodeko Koffiehuis dalam bangunan cagar budaya

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau