Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Malaysia Sebut Durian Musang King Resmi Milik Mereka, Apa Alasannya?

Kompas.com, 28 Februari 2026, 16:31 WIB
Devi Ramadhany,
Wahyu Adityo Prodjo

Tim Redaksi

Sumber VN Express

KOMPAS.com - Pemerintah Malaysia menegaskan bahwa jenis durian Musang King merupakan milik resmi negara tersebut dan tidak boleh dipasarkan oleh negara lain menggunakan nama yang sama.

Dilansir dari VnExpress, Pernyataan tersebut disampaikan Menteri Pertanian dan Keamanan Pangan Malaysia, Datuk Seri Mohamad Sabu, dalam sidang parlemen. 

Menurut Mohamad, Musang King telah dilindungi melalui pendaftaran Geographical Indication (GI) atau indikasi geografis.

Baca juga: Manggis Jadi Buah Terbaik di Asia Tenggara, Kalahkan Durian Musang King

Artinya, hanya durian yang memenuhi standar dan sertifikasi resmi Malaysia yang berhak menggunakan nama tersebut di pasar global.

“Musang King adalah milik Malaysia. Negara lain tidak bisa menyebut durian mereka sebagai Musang King,” ujar Mohamad sebagaimana dikutip media tersebut.

Ia menambahkan, meskipun durian dari negara lain seperti Thailand atau Vietnam mungkin memiliki kemiripan secara tampilan, rasa dan kualitasnya tetap berbeda dari Musang King asli Malaysia.

Baca juga: Makan Durian Usai Santap Olahan Kambing Bikin Stroke, Ini Kata Menkes

Pernyataan ini muncul di tengah kekhawatiran bahwa durian dari luar negeri dipasarkan di China dengan label Musang King, meskipun bukan berasal dari jenis durian yang terdaftar secara resmi.

Menurut laporan VnExpress, Malaysia kini melakukan pembicaraan dengan otoritas Bea Cukai China untuk memastikan perlindungan terhadap ekspor Durian Musang King yang legal.

Diskusi tersebut mencakup penguatan mekanisme verifikasi agar otoritas China dapat membedakan durian asli Malaysia dari produk lain yang menggunakan nama serupa.

Baca juga: 8 Cara Pilih Durian Matang, Dagingnya Manis dan Tebal

Pemerintah Malaysia juga memperketat penggunaan label resmi “MyBest” yang dikeluarkan oleh Federal Agricultural Marketing Authority (FAMA).

Label ini bertujuan membantu konsumen mengidentifikasi Musang King Malaysia yang telah mendapatkan persetujuan ekspor ke China.

“Kami harus melindungi ini karena ekspor ke China bernilai tinggi dan telah menjadi sumber penghidupan baru bagi para petani durian kami. Karena itu, kami akan terus mempertahankan Musang King sebagai merek Malaysia,” kata Mohamad.

Baca juga: Durian Kok Merah? Ini Keunikan Durian Merah Banyuwangi yang Kini Dilindugi Negara

China saat ini menjadi salah satu pasar terbesar untuk durian Malaysia, dengan nilai ekspor yang terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir.

Popularitas Musang King sebagai durian premium membuatnya memiliki posisi strategis dalam perdagangan internasional.

Dengan perlindungan GI dan penguatan kerja sama lintas negara, Malaysia berharap reputasi Musang King tetap terjaga di pasar global sekaligus mencegah praktik pelabelan yang dinilai dapat merugikan petani lokal serta konsumen.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau