KOMPAS.com - Telur omega 3 umum ditemui di pasar maupun supermarket. Jenis telur ini biasanya dijual dalam kemasan dengan jumlah tertentu dengan harga lebih mahal dibandingkan telur biasa.
Sekilas, telur omega 3 tampak sama dengan telur ayam pada umumnya. Padahal, warna dan kandungannya berbeda.
Dikutip dari Scientific American, Selasa (10/3/2026), telur omega 3 berasal dari ayam petelur yang sama dengan telur biasa.
Baca juga: Martabak Telur Bisa Dibuat di Rumah, Ini Resepnya
Hanya saja, ayam yang menghasilkan telur omega 3, mengonsumsi lebih banyak omega 3 semasa hidupnya. Hasilnya, telur yang diproduksi mengandung lebih banyak kandungan asam lemak omega 3.
Kandungan omega 3 dalam telur yang diperkaya seperti ini, bisa berbeda-beda. Satu butir telur omega 3 dapat mengandung sekitar 100-500 miligram omega 3.
Baca juga: Selain Digoreng Atau Direbus, Ini 4 Resep Sederharan Memasak Telur
Perbedaan telur omega 3 dengan telur biasa terletak pada warna kuning telurnya, seperti dikutip IPB University.
Telur omega 3 memiliki bagian kuning dengan warna lebih oranye kemerahan yang banyak diincar untuk membuat makanan tertentu, termasuk aneka kue.
Jika dipisahkan dari putihnya dan diangkat, kuning telur omega 3 dapat bertahan di udara selama 10-15 menit.
Hal ini disebabkan selaput luar dari kuning telur lebih tebal, bila dibandingkan dengan telur biasa, yang tidak bisa bertahan lama dan akan segera jatuh dan pecah.
Baca juga: Resep Tahu Telur Kukus, Makanan Tinggi Protein Tanpa Minyak
Peneliti Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor (Fapet IPB) Iman Rahayu Hidayati dan dan Dr Komari, telah menemukan teknologi memproduksi telur omega 3 kaya docosahexaenoic acid (DHA) puluhan tahun silam.
Hasil penemuan teknologi yang memproduksi telur omega 3 ini diteliti sejak 1995 dan telah didaftarkan paten pada 2005, seperti dikutip situs resmi IPB University.
Profesor Iman juga memaparkan hal serupa, seperti tertulis dalam Scientific American.
Baca juga: Ide Menu Sahur Praktis Modal Mi Instan dan Telur yang Sehat dan Bergizi
Lewat teknologi sederhana, pakan yang diberikan pada ayam petelur dimanipulasi dengan suplemen omega 3 selama tiga minggu berurutan.
Suplemen omega 3 dibuat melalui proses pengemulsian dan dispersi dari bahan limbah perebusan ikan sarden, yang diketahui mengandung banyak omega 3, 6 dan 9, dengan ampas tahu sebagai filter.
Dengan konsentrat tersebut, jumlah asam lemak omega 3 dalam telur meningkat sebanyak 10 kali lipat dibandingkan telur biasa tanpa suplemen.
Baca juga: Resep Dadar Jagung Simple Tanpa Telur, Lebih Renyah Tak Berminyak
Sebagai perbandingan, kandungan EPA dan DHA atau asam lemak yang sangat diperlukan tubuh setiap 100 gram telur omega 3 adalah sebesar 404 miligram dan 2816 miligram.
Sedangkan telur biasa mengandung EPA dan DHA lebih rendah, yakni 166 miligram dan 239 suplemen.
Setiap 100 gram telur yang dihasilkan dari ayam yang diberi suplemen omega 3 juga mempunyai kandungan kolesterol lebih rendah sekitar 50 persen, yakni sebesar 147 miligram dibandingkan telur biasa sebesar 259 miligram.
Baca juga: 3 Cara Rebus Telur agar Tidak Retak, Perhatikan Jenis Telur
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang