Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Perkedel Ternyata Bukan Asli Indonesia, Ini Sejarah dan Perkembangannya

Kompas.com, 18 September 2025, 12:00 WIB
Rachmawati

Editor

KOMPAS.com – Perkedel yang kini dikenal luas sebagai lauk pelengkap di meja makan masyarakat Indonesia, ternyata memiliki sejarah panjang yang erat kaitannya dengan masa penjajahan Belanda.

Makanan ini merupakan hasil akulturasi kuliner Jawa-Belanda, yang berawal dari hidangan Eropa bernama frikadeller atau frikadel.

Frikadeller sendiri merupakan olahan daging cincang yang dipadatkan dan digoreng, populer di Jerman, Denmark, Norwegia, Belanda, Polandia, Rusia, hingga Ukraina.

Namun, saat diperkenalkan di Indonesia pada era kolonial, bahan dasar daging diganti dengan kentang yang lebih murah dan mudah diperoleh.

"Perkedel sebenarnya berasal dari kata Belanda. Frikadeller atau Frikadel, sejenis daging cincang atau cincang yang telah dipadatkan dan digoreng. Daging adalah bahan utama di Frikadeller, tetapi di Indonesia kentang menjadi bahan utama, ” tulis Riska Azikia Windiany dkk (2023) dalam artikel berjudul Akulturasi Budaya Etnis Belanda Dalam Makanan Nusantara Perkerkedel. 

Baca juga: Resep Perkedel Kentang Tidak Hancur Saat Digoreng, Modal 1 Telur

Pengaruh Kolonial Belanda terhadap Kuliner Nusantara

Pada masa penjajahan, pejabat, pengusaha, hingga bangsawan Belanda banyak mempekerjakan perempuan Jawa dari kelas sosial rendah atau disebut balung kere sebagai pengasuh, penjahit, hingga koki.

Para mbok tukang masak inilah yang menjadi pelopor terciptanya akulturasi kuliner. Dengan kreativitasnya, mereka mengolah menu Belanda sesuai dengan cita rasa lokal, sehingga mampu memanjakan lidah para majikan Belanda.

Beberapa kuliner hasil percampuran budaya itu antara lain:

  • Rijsttafel, tradisi jamuan makan dengan aneka hidangan Nusantara.
  • Selat Solo (selat Jawa), adaptasi dari bistik (biefstuk) Belanda.
  • Perkedel kentang, modifikasi dari frikadeller.

Baca juga: Jangan Cuma Digoreng, Olah Telur Jadi Perkedel untuk Lauk

Dari Frikadeller ke Perkedel Kentang

Ilustrasi perkedel kentang padang untuk lauk makan siang.DOK.SHUTTERSTOCK/vbertiany Ilustrasi perkedel kentang padang untuk lauk makan siang.
Jika frikadeller di Eropa menggunakan daging sebagai bahan utama, di Indonesia terjadi penyesuaian. Karena harga daging mahal pada masa kolonial, kentang dipilih sebagai pengganti utama.

Hasil akulturasi ini melahirkan perkedel kentang yang dibuat dari tumbukan kentang, dicampur sedikit daging cincang atau tepung, lalu dibalut telur agar tidak pecah saat digoreng.

Cerpen “Nasi Liku” bahkan menuliskan, perkedel kentang menjadi lauk sederhana yang cocok disantap bersama nasi.

Hingga kini, masyarakat Indonesia lebih akrab dengan perkedel kentang dibandingkan perkedel daging.

Perkedel di Era Modern: Murah dan Bervariasi

Menurut Ibu Enung, pedagang perkedel di Bandung, banyak orang Indonesia saat ini tidak lagi mengenal perkedel daging ala frikadeller.

“Masyarakat sudah terbiasa membuat perkedel dari kentang. Harganya juga lebih murah dibandingkan perkedel daging. Biasanya perkedel hanya dijadikan pelengkap lauk pauk atau variasi gorengan,” ujarnya.

Seiring waktu, perkedel di Indonesia terus mengalami inovasi. Muncul variasi seperti perkedel jagung, perkedel tahu, hingga perkedel Bondon yang terkenal di Bandung.

Baca juga: Cara Membuat Perkedel Kentang agar Tak Hancur, Ini Rahasianya!

Halaman:


Terkini Lainnya
Lengkap! Jadwal KA Bias Madiun-Solo April 2026, Ini Harga Tiketnya
Lengkap! Jadwal KA Bias Madiun-Solo April 2026, Ini Harga Tiketnya
Jawa Tengah
Deretan Prank April Mop Paling Ikonik di Dunia, dari Panen Spageti hingga Burger Kidal
Deretan Prank April Mop Paling Ikonik di Dunia, dari Panen Spageti hingga Burger Kidal
Sumatera Selatan
Kenapa Ada April Mop Setiap 1 April? Ini Sejarah dan Tragedi Lucu di Baliknya
Kenapa Ada April Mop Setiap 1 April? Ini Sejarah dan Tragedi Lucu di Baliknya
Jawa Timur
Daftar Lengkap Harga BBM Pertamina di Pulau Sumatera dan Kepulauan Sekitarnya per 1 April 2026
Daftar Lengkap Harga BBM Pertamina di Pulau Sumatera dan Kepulauan Sekitarnya per 1 April 2026
Sumatera Barat
Overthinking Sebelum Tidur, Mengapa Otak Lebih Berisik di Malam Hari? Ini Kata Psikolog
Overthinking Sebelum Tidur, Mengapa Otak Lebih Berisik di Malam Hari? Ini Kata Psikolog
Banten
Harga Emas Hari Ini 1 April 2026 di Pegadaian Kompak Naik, Simak Daftar Terbaru di Awal Bulan
Harga Emas Hari Ini 1 April 2026 di Pegadaian Kompak Naik, Simak Daftar Terbaru di Awal Bulan
Kalimantan Barat
Daftar Lengkap Harga BBM Pertamina di Jawa Barat per 1 April 2026
Daftar Lengkap Harga BBM Pertamina di Jawa Barat per 1 April 2026
Jawa Barat
Promo Alfamart Hari Ini 1 April 2026, Ada Diskon 60 Persen di Tebus Suka Suka
Promo Alfamart Hari Ini 1 April 2026, Ada Diskon 60 Persen di Tebus Suka Suka
Jawa Tengah
Harga BBM Pertamina per 1 April 2026 di Sulsel, Ini Daftar Lengkapnya
Harga BBM Pertamina per 1 April 2026 di Sulsel, Ini Daftar Lengkapnya
Sulawesi Selatan
Harga Emas Antam Hari Ini 1 April 2026 Naik Rp 75.000 per Gram, Cek Daftar Lengkapnya di Awal Bulan
Harga Emas Antam Hari Ini 1 April 2026 Naik Rp 75.000 per Gram, Cek Daftar Lengkapnya di Awal Bulan
Kalimantan Barat
Promo Indomaret Hari Ini 1 April 2026, Ada Tebus Murah Hemat 50 Persen
Promo Indomaret Hari Ini 1 April 2026, Ada Tebus Murah Hemat 50 Persen
Jawa Tengah
Promo FamilyMart Hari Ini, Bayar Suka-Suka untuk FamiCafé Beverage Regular
Promo FamilyMart Hari Ini, Bayar Suka-Suka untuk FamiCafé Beverage Regular
Jawa Barat
Daftar Harga BBM Pertamina per 1 April 2026 di Jawa Timur
Daftar Harga BBM Pertamina per 1 April 2026 di Jawa Timur
Jawa Timur
Tarif Listrik Subsidi dan Non-Subsidi per 1 April 2026, Ada Kenaikan?
Tarif Listrik Subsidi dan Non-Subsidi per 1 April 2026, Ada Kenaikan?
Kalimantan Barat
Cuaca Ekstrem Picu Puting Beliung dan Longsor di Bekasi: 27 Rumah Rusak dan Warga Mengungsi
Cuaca Ekstrem Picu Puting Beliung dan Longsor di Bekasi: 27 Rumah Rusak dan Warga Mengungsi
Jawa Barat
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Komentar
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau