Editor
KOMPAS.com – Perkedel yang kini dikenal luas sebagai lauk pelengkap di meja makan masyarakat Indonesia, ternyata memiliki sejarah panjang yang erat kaitannya dengan masa penjajahan Belanda.
Makanan ini merupakan hasil akulturasi kuliner Jawa-Belanda, yang berawal dari hidangan Eropa bernama frikadeller atau frikadel.
Frikadeller sendiri merupakan olahan daging cincang yang dipadatkan dan digoreng, populer di Jerman, Denmark, Norwegia, Belanda, Polandia, Rusia, hingga Ukraina.
Namun, saat diperkenalkan di Indonesia pada era kolonial, bahan dasar daging diganti dengan kentang yang lebih murah dan mudah diperoleh.
"Perkedel sebenarnya berasal dari kata Belanda. Frikadeller atau Frikadel, sejenis daging cincang atau cincang yang telah dipadatkan dan digoreng. Daging adalah bahan utama di Frikadeller, tetapi di Indonesia kentang menjadi bahan utama, ” tulis Riska Azikia Windiany dkk (2023) dalam artikel berjudul Akulturasi Budaya Etnis Belanda Dalam Makanan Nusantara Perkerkedel.
Baca juga: Resep Perkedel Kentang Tidak Hancur Saat Digoreng, Modal 1 Telur
Pada masa penjajahan, pejabat, pengusaha, hingga bangsawan Belanda banyak mempekerjakan perempuan Jawa dari kelas sosial rendah atau disebut balung kere sebagai pengasuh, penjahit, hingga koki.
Para mbok tukang masak inilah yang menjadi pelopor terciptanya akulturasi kuliner. Dengan kreativitasnya, mereka mengolah menu Belanda sesuai dengan cita rasa lokal, sehingga mampu memanjakan lidah para majikan Belanda.
Beberapa kuliner hasil percampuran budaya itu antara lain:
Baca juga: Jangan Cuma Digoreng, Olah Telur Jadi Perkedel untuk Lauk
Ilustrasi perkedel kentang padang untuk lauk makan siang.Hasil akulturasi ini melahirkan perkedel kentang yang dibuat dari tumbukan kentang, dicampur sedikit daging cincang atau tepung, lalu dibalut telur agar tidak pecah saat digoreng.
Cerpen “Nasi Liku” bahkan menuliskan, perkedel kentang menjadi lauk sederhana yang cocok disantap bersama nasi.
Hingga kini, masyarakat Indonesia lebih akrab dengan perkedel kentang dibandingkan perkedel daging.
Menurut Ibu Enung, pedagang perkedel di Bandung, banyak orang Indonesia saat ini tidak lagi mengenal perkedel daging ala frikadeller.
“Masyarakat sudah terbiasa membuat perkedel dari kentang. Harganya juga lebih murah dibandingkan perkedel daging. Biasanya perkedel hanya dijadikan pelengkap lauk pauk atau variasi gorengan,” ujarnya.
Seiring waktu, perkedel di Indonesia terus mengalami inovasi. Muncul variasi seperti perkedel jagung, perkedel tahu, hingga perkedel Bondon yang terkenal di Bandung.
Baca juga: Cara Membuat Perkedel Kentang agar Tak Hancur, Ini Rahasianya!