Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kilas Balik Jembatan Kalikuto, Sebelum dan Sesudah Dibangun

Kompas.com, Diperbarui 15/03/2022, 22:23 WIB
Hilda B Alexander

Penulis

SEMARANG, KOMPAS.com - Jembatan Kalikuto. Siapa tak tahu jembatan plengkung merah ini? Bagi Anda yang kerap melintasi Tol Trans-Jawa dari arah Batang menuju Semarang, tentu tak asing dengan jembatan ini.

Jembatan Kalikuto merupakan elemen penting dari Jalan Tol Batang-Semarang, Jawa Tengah, yang menghubungkan dua kabupaten yakni Batang, dan Kendal.

Saking pentingnya jembatan ini, sampai membuat Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) mengusulkan untuk dirancang secara khusus, memenuhi unsur kekokohan, fungsi, dan juga estetika.

Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono mengatakan Jembatan Kalikuto akan menjadi tengara (land mark) dari Jalan Tol Batang-Semarang.

"Kami rancang bagus. Tak hanya kokoh secara struktur, melainkan juga estetik, artistik, indah dilihat," kata Basuki saat meninjau pekerjaan fisik Proyek Tol Pemalang-Batang-Semarang-Salatiga dan Kartosuro, tahun lalu, tepatnya Sabtu (14/4/2018).

Baca juga: Merapah Trans Jawa 4.0 Mudik Asyik Mudik Inspiratif Dimulai

Setelah jembatan ini rampung dibangun, jumlah kendaraan yang melintasi Jalan Tol Batang-Semarang, menurut Direktur Utama PT Jasamarga Semarang Batang Arie Irianto terus meningkat.

"Sekitar 24.000 hingga 26.000 unit per hari," ungkap Arie kepada Tim Merapah Trans Jawa 4.0 Kompas.com, Jumat (24/5/2019).

Ada beberapa fakta menarik tentang Jembatan Kalikuto:

  • Jembatan dengan material baja ini dirakit di tiga tempat berbeda yakni di Serang, Tangerang, dan Pasuruan.
  • Bobot jembatan 2.400 ton. Panjang bagian utama Jembatan Kalikuto yaitu 100 meter. Sedangkan dua jembatan di sampingnya masing-masing 30 meter.
  • Jadi totalnya 160 meter. Saat ini konstruksinya sudah mencapai 83 persen. Sebagian materialnya dibuat di Perancis, tetapi perakitnya adalah orang Indonesia.
  • Pemasangan setiap bagiannya dilakukan secara bertahap mulai dari segmen 1 dan seterusnya hingga 12 segmen.
  • Ini merupakan jembatan pertama di Indonesia, bahkan mungkin di dunia, yang strukturnya dirakit di lokasi pemasangan.
  • Sebelumnya ada jembatan yang dibangun dengan teknik yang hampir sama di Papua. Namun, hanya Jembatan Kalikuto yang perakitannya dilakukan di lapangan dengan berbagai kerumitan.
  • Maka dari itu, perhitungannya tidak boleh meleset, dengan kata lain zero tolerance.
  • Terdiri dari 6 jalur, tiga jalur arah kiri dan tiga jalur arah kanan. Pinggir jembatan akan diberi tali penyangga dari kawat besar. Pekerjaan Jembatan Kalikuto akan berakhir H-2 Lebaran.

Dalam ekspedisi mudik Tim Merapah Trans Jawa 4.0 kali ini, Kompas.com menyajikan sejumlah gambar menarik terkait jembatan ini pada periode sebelum dan sesudah dibangun.

Berikut gambaran Jembatan Kalikuto:

Sebelum rampung dibangun:

April 2018

Kondisi jembatan yang masih dalam tahap konstruksi.

Titik kritis Ruas Tol Batang-Semarang terdapat pada pembangunan Jembatan Kalikuto sepanjang 100 meter. Jembatan ini selesai dirakit pada minggu ke-3 April 2018. Kondisi fisik pada Sabtu (14/4/2018).Hilda B Alexander/Kompas.com Titik kritis Ruas Tol Batang-Semarang terdapat pada pembangunan Jembatan Kalikuto sepanjang 100 meter. Jembatan ini selesai dirakit pada minggu ke-3 April 2018. Kondisi fisik pada Sabtu (14/4/2018).

Mei 2018

Plengkung jembatan mulai dipasang.

Kondisi konstruksi Jembatan Kalikuto di Tol Batang-Semarang, Sabtu (26/5/2018).Kompas.com / Dani Prabowo Kondisi konstruksi Jembatan Kalikuto di Tol Batang-Semarang, Sabtu (26/5/2018).

Halaman:
Baca tentang


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau