Penulis
JAKARTA, KOMPAS.com - PT Agung Podomoro Land Tbk (APLN) resmi merilis laporan kinerja keuangan tahun buku 2025 yang memperlihatkan ketahanan fundamental perusahaan.
Emiten ini membukukan total penjualan dan pendapatan usaha sebesar Rp 3,57 triliun. Angka ini merupakan kombinasi penjualan unit properti (development income) dengan pengelolaan aset komersial (recurring income).
Pendapatan APLN sepanjang 2025 didominasi oleh pengakuan penjualan sebesar Rp 2,21 triliun.
Rumah tinggal tetap menjadi tulang punggung utama dengan kontribusi mencapai Rp 1,06 triliun.
Baca juga: Terbit Akhir Maret, Kepmen PKP Fasilitasi MBR Punya Apartemen Rp 500 Juta
Hal ini mengonfirmasi tren pasar bahwa kebutuhan akan hunian tapak (landed house) di segmen menengah masih menjadi penggerak utama industri properti nasional.
Tak hanya itu, segmen vertikal menyumbang Rp 588,18 miliar melalui penjualan apartemen, disusul oleh penjualan lahan sebesar Rp 247,18 miliar, dan ruko senilai Rp 243,49 miliar.
Di sisi lain, pilar pendapatan berulang atau recurring income menunjukkan performa yang solid di angka Rp 1,36 triliun.
Pendapatan ini bersumber dari lini bisnis perhotelan dan penyewaan pusat perbelanjaan ikonik seperti Senayan City, Central Park Mall, hingga DeliPark Mall di Medan.
Baca juga: Soal 3 Juta Rumah, Hashim: Jangan Omon-omon, No Action Talk Only
“Kami terus mengoptimalkan setiap aset agar dapat menciptakan pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan. Beberapa proyek properti juga mengalami peningkatan nilai yang luar biasa, sehingga menguntungkan perusahaan,” jelas Corporate Secretary APLN, Justini Omas, dalam keterangan resminya, Rabu (18/3/2026).
Jika menilik baris laba kotor, APLN mencatatkan angka Rp 1,47 triliun. Secara kumulatif, angka ini memang lebih rendah dibandingkan pencapaian tahun sebelumnya yang berada di level Rp 2,44 triliun. Namun, penurunan ini memerlukan pembacaan yang kritis dan objektif.
Koreksi pada laba kotor tersebut merupakan dampak dari basis perbandingan tinggi (high base effect) pada tahun 2024, di mana saat itu Perseroan melakukan aksi korporasi berupa penjualan aset strategis hotel Pullman Ciawi Vimala Hills Resort Spa & Convention.
Tanpa adanya transaksi pelepasan aset besar seperti di tahun sebelumnya, penurunan laba kotor pada 2025 sebenarnya mencerminkan normalisasi pendapatan operasional yang lebih organik.
Baca juga: Rumah Rp 8 Miliar Bupati Cilacap
Dari sisi pemasaran, APLN mengantongi marketing sales sebesar Rp 1,41 triliun. Angka ini menjadi modal penting untuk pengakuan pendapatan di periode mendatang.
Ke depan, manajemen akan lebih selektif dan adaptif dalam meluncurkan proyek baru, dengan fokus pada kawasan terpadu (mixed-use development) yang menawarkan nilai tambah bagi konsumen.
Keyakinan perusahaan didorong oleh data bahwa permintaan hunian di kelompok menengah tetap menjadi ceruk pasar yang "tahan banting" terhadap guncangan ekonomi.
“Kami melihat kebutuhan terhadap hunian di kelompok menengah masih tetap tinggi. Oleh karena itu, Perseroan akan terus beradaptasi dengan kebutuhan konsumen dan memastikan setiap proyek mampu memberikan nilai yang terus meningkat,” pungkas Justini.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang