Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Buntut Status Nathan Tjoe-A-On, TOP Oss Desak KNVB Ulang Pertandingan Lawan Willem II

Kompas.com, 25 Maret 2026, 06:44 WIB
Yudha Riefwan Najib

Penulis

KOMPAS.com - Klub kasta kedua, TOP Oss, secara resmi melayangkan protes kepada Federasi Sepak Bola Belanda (KNVB) terkait kelayakan bermain bek kiri Willem II, Nathan Tjoe-A-On, dalam pertemuan kedua tim beberapa waktu lalu.

Langkah hukum ini diambil karena muncul keraguan mengenai status Nathan Tjoe-A-On yang kini merupakan pemain internasional Indonesia.

Jika terbukti ada pelanggaran administratif terkait izin kerja pemain non-Uni Eropa, TOP Oss menuntut agar hasil pertandingan yang berakhir 1-3 untuk kemenangan Willem II tersebut dinyatakan tidak sah dan dilakukan penjadwalan ulang.

Aksi TOP Oss ini merupakan buntut dari kasus serupa yang menimpa bek Go Ahead Eagles, Dean James.

Sebelumnya, klub NAC Breda telah lebih dulu mengajukan banding karena James, yang juga berstatus pemain Timnas Indonesia, dianggap tidak memenuhi kualifikasi izin kerja saat diturunkan.

Baca juga: Nathan Tjoe-A-On Gemilang, Willem II Semakin Dekat ke Eredivisie

Situasi ini memicu perdebatan mengenai apakah para pemain ini masih memegang paspor Belanda atau harus dikategorikan sebagai pemain asing non-Uni Eropa dengan standar gaji tertentu.

Pihak klub mengonfirmasi telah menghubungi KNVB sejak akhir pekan lalu untuk menyelidiki validitas laga yang berlangsung pada 13 Maret 2026 tersebut.

"TOP Oss mengikuti perkembangan dalam sepak bola profesional dan telah meminta KNVB, dalam jangka waktu yang ditentukan, untuk menyelidiki pertandingan TOP Oss - Willem II pada 13 Maret 2026," demikian pernyataan klub secara tertulis dikutip dari Brabants Dagblad.

"Berdasarkan informasi yang tersedia, terdapat keraguan mengenai kelayakan seorang pemain Willem II," imbuhnya.

Tanggapan KNVB dan Pihak Terkait

Menanggapi desakan tersebut, otoritas sepak bola Belanda menyatakan bahwa kasus ini sangat kompleks karena melibatkan dimensi hukum kewarganegaraan dan regulasi Eredivisie.

Meskipun ada tuntutan pengulangan laga, dewan kompetisi mengisyaratkan bahwa hasil pertandingan kemungkinan besar akan tetap berlaku.

Baca juga: Nathan Tjoe-A-On Raih Kemenangan Penting Jelang FIFA Series

Direktur Eredivisie CV, Jan de Jong, menyatakan bahwa fokus saat ini adalah penyelidikan dari jaksa penuntut sepak bola profesional.

Thom Haye, Nathan Tjoe-A-on, Ole Romeny, tengah berlatih pada Selasa (27/5/2025). Para pemain Timnas Indonesia mengadakan Training Camp di lapangan latihan Bali United di Gianyar Bali jelang ronde laga-laga Kualifikasi Piala Dunia 2026 kontra China dan Jepang.KOMPAS.com/Firzie A. Idris Thom Haye, Nathan Tjoe-A-on, Ole Romeny, tengah berlatih pada Selasa (27/5/2025). Para pemain Timnas Indonesia mengadakan Training Camp di lapangan latihan Bali United di Gianyar Bali jelang ronde laga-laga Kualifikasi Piala Dunia 2026 kontra China dan Jepang.

“Ini adalah masalah yang sangat kompleks yang akan diteliti oleh jaksa penuntut sepak bola profesional," jelas Jan de Jong dikutip dari BD.

"Itu bisa memakan waktu. Dewan kompetisi bermaksud untuk menganggap semua pertandingan yang telah dimainkan sebagai telah dimainkan."

"Dan membiarkan hasilnya tetap berlaku. Itulah keputusannya, setidaknya, sampai kita tahu pasti apa yang dikatakan jaksa penuntut, kemudian kita akan mengambil keputusan final,” lanjutnya.

Di sisi lain, Willem II Tilburg memilih untuk tetap tenang dan mengikuti prosedur yang ada. Mereka menyatakan keyakinannya bahwa proses rekrutmen pemain sudah sesuai aturan.

“Willem II mengetahui masalah ini dan telah meninjau berkas tersebut dengan cermat. Klub memberikan kerja sama penuh dalam penanganan lebih lanjut sesuai prosedur KNVB yang berlaku. Karena ini menyangkut prosedur yang sedang berlangsung, kami tidak akan ikut serta dalam spekulasi atau asumsi,” tulis pernyataan resmi Willem II.

Potensi Sanksi Finansial

Meskipun intensitas perdebatan ini menyamai panasnya persaingan antara Manchester United dan Manchester City di Inggris, hukuman yang dijatuhkan diprediksi tidak akan sampai membatalkan hasil laga.

Baca juga: Nathan Tjoe-A-On Ungguli Tim Geypens, Willem II Hajar FC Emmen 3-0

Jika ditemukan pelanggaran, sanksi yang paling realistis adalah denda finansial kepada klub, mirip dengan sanksi administratif yang pernah terjadi di liga-liga besar Eropa lainnya.

Kasus ini menjadi sorotan tajam bagi para pemain asal Indonesia yang berkarier di luar negeri, mengingat ketatnya aturan pemain non-Uni Eropa yang menuntut gaji minimal sekitar 600.000 euro per tahun.

KNVB menegaskan bahwa "Masalah ini tentu saja sedang dipelajari dengan cermat. Ini menyangkut kasus yang kompleks dengan banyak dimensi. Itu membutuhkan waktu."

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Putri KW Fokus Kurangi Kesalahan Sendiri Jelang Kejuaraan Asia 2026
Putri KW Fokus Kurangi Kesalahan Sendiri Jelang Kejuaraan Asia 2026
Badminton
Hector Souto Siapkan Program Uji Coba Timnas Futsal Indonesia ke Spanyol dan Brasil
Hector Souto Siapkan Program Uji Coba Timnas Futsal Indonesia ke Spanyol dan Brasil
Timnas Indonesia
Timnas Indonesia Mampu Tandingi Bulgaria, Kesan Positif John Herdman
Timnas Indonesia Mampu Tandingi Bulgaria, Kesan Positif John Herdman
Timnas Indonesia
Persiapan Minim, Hector Souto Tak Patok Target Tinggi di Piala AFF Futsal 2026
Persiapan Minim, Hector Souto Tak Patok Target Tinggi di Piala AFF Futsal 2026
Timnas Indonesia
Bekal dari Tur Eropa, Alwi Farhan Kian Matang Tatap Kejuaraan Asia
Bekal dari Tur Eropa, Alwi Farhan Kian Matang Tatap Kejuaraan Asia
Badminton
Justin Hubner dan Jennifer Coppen Prewedding Pakai Adat Jawa
Justin Hubner dan Jennifer Coppen Prewedding Pakai Adat Jawa
Timnas Indonesia
Barcelona Berpeluang Lepas Jules Kounde, 3 Raksasa Liga Inggris Mengantre
Barcelona Berpeluang Lepas Jules Kounde, 3 Raksasa Liga Inggris Mengantre
Liga Inggris
Menanti 40 Tahun, Irak Pastikan Tiket Terakhir ke Piala Dunia 2026
Menanti 40 Tahun, Irak Pastikan Tiket Terakhir ke Piala Dunia 2026
Liga Champions
Daftar Lengkap 48 Tim di Piala Dunia 2026: Irak Lolos, Curacao Ukir Sejarah
Daftar Lengkap 48 Tim di Piala Dunia 2026: Irak Lolos, Curacao Ukir Sejarah
Internasional
Italia Gagal ke Piala Dunia: Air Mata Gennaro Gattuso, Perih Buffon
Italia Gagal ke Piala Dunia: Air Mata Gennaro Gattuso, Perih Buffon
Internasional
Malaysia Gagal ke Piala Asia 2027, Peter Cklamovski Akui Keunggulan Vietnam
Malaysia Gagal ke Piala Asia 2027, Peter Cklamovski Akui Keunggulan Vietnam
Timnas Indonesia
Timnas Indonesia Era John Herdman: Menjanjikan, tapi Masih Banyak PR
Timnas Indonesia Era John Herdman: Menjanjikan, tapi Masih Banyak PR
Timnas Indonesia
Cerita Dony Tri Bela Timnas Indonesia di FIFA Series 2026, Dapat Petuah Verdonk
Cerita Dony Tri Bela Timnas Indonesia di FIFA Series 2026, Dapat Petuah Verdonk
Timnas Indonesia
Jadwal Babak 16 Besar Piala Gubernur DKI Jakarta, ASIOP Tancap Gas
Jadwal Babak 16 Besar Piala Gubernur DKI Jakarta, ASIOP Tancap Gas
Liga Indonesia
Skor Irak Vs Bolivia 2-1, Persib Punya Wakil di Piala Dunia 2026
Skor Irak Vs Bolivia 2-1, Persib Punya Wakil di Piala Dunia 2026
Internasional
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau