Penulis
KOMPAS.com – Sejumlah suporter dari negara peserta Piala Dunia 2026 menghadapi kewajiban membayar jaminan hingga 15.000 dolar AS (sekitar Rp253 juta) untuk masuk ke Amerika Serikat.
Kebijakan tersebut merupakan bagian dari program “Visa Bond Pilot Program” yang diterapkan pemerintahan Presiden Donald Trump.
Program ini berlaku bagi pemohon visa turis dan bisnis (B-1 dan B-2) dari sekitar 50 negara, termasuk beberapa negara yang lolos ke Piala Dunia.
Beruntung, menurut informasi dari situs resmi Pemerintah Amerika Serikat, Indonesia tidak masuk dalam daftar 50 negara tersebut.
Walau demikian, beberapa negara tetangga seperti Kamboja dan Papua New Guniea masuk.
Negara peserta yang terdampak kebijakan ini antara lain Timnas Aljazair, Timnas Senegal, Timnas Pantai Gading, Timnas Tanjung Verde, serta Timnas Tunisia yang baru ditambahkan dalam daftar.
Setiap individu yang mengajukan visa dapat diminta membayar jaminan sebesar 5.000, 10.000, atau 15.000 dolar AS, tergantung penilaian otoritas.
Baca juga: Jadwal Play Off Piala Dunia 2026: Ada Duel Italia Vs Irlandia Utara
Dengan kurs Rp16.893 per dolar AS, jumlah tersebut setara dengan sekitar Rp84 juta hingga Rp253 juta per orang.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump saat menghadiri acara di Verst Logistics di Kota Hebron, Negara Bagian Ketucky, 11 Maret 2026.Departemen Luar Negeri AS menyatakan bahwa semua pemohon visa diperlakukan sama dan harus memenuhi persyaratan hukum yang berlaku.
Dana jaminan akan dikembalikan jika pemegang visa meninggalkan AS sebelum masa berlaku habis.
Tidak ada ketentuan khusus dalam program tersebut yang memberikan pengecualian bagi atlet, termasuk pemain yang akan tampil di Piala Dunia.
Artinya, pemain yang belum memiliki visa AS juga berpotensi dikenai kewajiban serupa.
FIFA disebut tengah melakukan komunikasi dengan pemerintah AS untuk mencari kemungkinan pengecualian bagi pemain.
Baca juga: Mekanisme Nobar Piala Dunia 2026, TVRI Bakal Luncurkan Portal Khusus
Namun, hingga saat ini belum ada kepastian terkait hal tersebut.
Bagi suporter dari negara terdampak, kebijakan ini menambah beban finansial di tengah biaya perjalanan yang sudah tinggi, termasuk tiket pertandingan dan akomodasi.