Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Menkes Ingatkan Bahaya Microsleep Saat Mudik, Bisa Fatal dalam Hitungan Detik

Kompas.com, 19 Maret 2026, 11:00 WIB
Ria Apriani Kusumastuti

Penulis

KOMPAS.com - Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin mengingatkan bahaya microsleep saat perjalanan mudik dan membagikan tips sederhana agar pengemudi tetap terjaga selama berkendara jarak jauh.

Melalui unggahan di akun Instagram pribadinya @bgsadikin pada Rabu (18/3/2026), Budi menyoroti risiko kecelakaan yang dapat terjadi hanya dalam hitungan detik ketika pengemudi kehilangan fokus.

“Bayangkan kalau kita sedang memacu kendaraan dengan kecepatan 100 kilometer per jam, lalu kita terpejam karena microsleep walau hanya tiga detik saja. Tiba-tiba mobil sudah melaju buta sejauh 100 meter ke depan,” tulis Budi.

Ia menegaskan bahwa kondisi tersebut sangat berbahaya dan dapat berakibat fatal, terutama saat arus mudik yang padat.

Baca juga: Banyak Orang Salah Pakai Bantal Leher, Ini Penjelasan Menkes

Pentingnya istirahat selama perjalanan mudik

Budi mengingatkan pentingnya disiplin beristirahat selama perjalanan jarak jauh. Ia menyarankan pengemudi untuk berhenti sejenak setiap tiga jam agar kondisi tubuh tetap terjaga.

“Makanya, saya selalu mengingatkan untuk disiplin beristirahat setiap 3 jam,” tulisnya.

Istirahat berkala membantu mengurangi kelelahan yang dapat memicu kantuk saat berkendara.

Kondisi tubuh yang lelah dapat menurunkan konsentrasi dan meningkatkan risiko microsleep.

Baca juga: Agar Tidak Mengantuk Saat Mudik, Ahli Gizi IPB Sarankan Hindari Makanan Ini

Tips agar tetap terjaga saat menyetir

Tangkapan layar akun Instagram Budi Gunadi Sadikin @bgsadikin. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengingatkan bahwa microsleep saat mudik bisa terjadi dalam hitungan detik dan berisiko menyebabkan kecelakaan fatal.Instagram/@bgsadikin Tangkapan layar akun Instagram Budi Gunadi Sadikin @bgsadikin. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengingatkan bahwa microsleep saat mudik bisa terjadi dalam hitungan detik dan berisiko menyebabkan kecelakaan fatal.

Selain beristirahat, Budi juga membagikan beberapa cara sederhana agar pengemudi tetap fokus selama perjalanan mudik.

Salah satunya adalah dengan mengaktifkan obrolan dengan penumpang. Ia mengingatkan agar pengemudi tetap fokus ke jalan dan tidak menoleh saat berbicara.

“Pertama, aktifkan obrolan dengan penumpang (dengan catatan jangan menoleh, mata tetap lurus ke jalan),” tulisnya.

Cara lain yang bisa dilakukan adalah menyiapkan permen atau camilan untuk dikunyah selama perjalanan. Aktivitas mengunyah dapat membantu menjaga kewaspadaan saat berkendara dalam waktu lama.

Baca juga: Cara Pakai BPJS Kesehatan Saat Mudik Lebaran 2026, Peserta Tetap Bisa Berobat di Luar Kota

Segera berhenti jika sudah sangat mengantuk

Budi menegaskan bahwa jika rasa kantuk sudah tidak tertahankan, pengemudi harus segera berhenti dan beristirahat.

Ia menyarankan untuk menepi di rest area terdekat dan tidur sejenak.

“Terakhir, ini yang paling ampuh, kalau mata sudah sangat berat, segera minggir ke rest area terdekat dan tidurlah 15 menit,” tulisnya.

Istirahat singkat dapat membantu tubuh kembali segar dan meningkatkan konsentrasi sebelum melanjutkan perjalanan.

Utamakan keselamatan selama mudik

Budi mengingatkan bahwa keselamatan harus menjadi prioritas utama selama perjalanan mudik.

Ia mengajak masyarakat untuk lebih peduli terhadap kondisi diri saat berkendara.

“Sayangi keluarga kalian yang ada di dalam mobil. Selamat menikmati perjalanan dan semoga selamat sampai tujuan,” tulisnya.

Pesan tersebut menegaskan bahwa menjaga kondisi tubuh tetap fit selama perjalanan menjadi bagian penting untuk memastikan perjalanan mudik berlangsung aman.

Baca juga: Mudik Lebaran 2026, Peserta BPJS Kesehatan Tetap Bisa Berobat di Mana Saja

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau